Para Pengkhianat Pahlawan Sulut

SULAWESI Utara gudang pahlawan nasional. Daerah ini melahirkan deretan pahlawan nasional yang namanya harum hingga kini dan sangat dikenal di seluruh Indonesia.

Sebut saja beberapa nama seperti Sam Ratulangi, Robert Wolter Monginsidi, Alexander Andries Maramis, Arie Frederik Lasut, Daan Mogot, dan Pierre Andreas Tendean. Ada pula dua pahlawan perempuan asal Sulut yang sangat terkenal, yakni Maria Walanda Maramis dan Johanna Masdani.

Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan Sam Ratulangi adalah Pahlawan Nasional asal Minahasa yang sangat dikenal dengan filsafatnya, “Si tou timou tumou tou” atau “manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.” Sam Ratulangi sangat berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Robert Wolter Monginsidi. Seorang pejuang kemerdekaan kelahiran Malalayang, Manado, yang menunjukkan semangat nasionalisme sangat tinggi. Berjuang melawan penjajahan hingga tewas di Makassar, Sulawesi Selatan.

Alexander Andries Maramis. Lulusan hukum di Belanda tahun 1924, seorang anggota KNIP, anggota BPUPKI, dan Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia. Adik kandung Maria Walanda Maramis ini adalah orang pertama yang menandatangani Oeang Republik Indonesia (ORI) pada tahun 1945.

Arie Frederik Lasut, perintis kemerdekaan Indonesia. Seorang pahlawan nasional asal Minahasa yang ahli di bidang pertambangan dan geologis. Terlibat perang kemerdekaan Indonesia dan berjasa dalam pengembangan sumber daya pertambangan dan geologis di awal terbentuknya Republik Indonesia.

Daan Mogot. Pahlawan Nasional kelahiran Manado ini adalah pendiri dan direktur pertama Akademi Militer Tangerang. Dia sosok yang luar biasa karena menjabat Direktur Akmil Tangerang saat baru berusia 17 tahun. Terlibat bertempur melawan penjajah Jepang dan menjadi pelatih anggota PETA di Bali dan Jakarta.

Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean. Pahlawan Revolusi sekaligus Pahlawan Nasional yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September. Diculik kemudian dibunuh di Lubang Buaya.

Maria Josephine Catherine Maramis, Pahlawan Pergerakan Nasional karena usahanya untuk mengembangkan perempuan Indonesia pada permulaan abad ke-20. Dia juga memperjuangkan agar perempuan memiliki hak pilih untuk memilih para wakil rakyat.

Johanna Masdani. Tokoh Perempuan Perintis Pergerakan Kebangsaan Indonesia dan  Dosen Luar Biasa Universitas Indonesia. Termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Kedua, Oktober 1928, turut mengikrarkan Sumpah Pemuda di Jl Kramat Raya No 106 Jakarta Pusat.

Masih banyak lagi pahlawan nasional asal Sulut yang telah berjasa sangat besar bagi bangsa ini. Dan pada hari ini, 10 November 2009, sebagaimana tanggal yang sama tahun-tahun sebelumnya, kita memperingati Hari Pahlawan. Memperingati jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan dalam berbagai segi, bahkan rela mengorbankan nyawa dan harta untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan demi kehidupan anak cucunya lebih sejahtera di negeri merdeka.

Sayang, di zaman ini, kita sama sekali tidak menghargai pengorbanan para pahlawan. Tidak sedikit yang jadi pengkhianat bangsa, mengkhianati perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Banyak di antara kita  justru menjadi para koruptor yang mencuri uang rakyat untuk kepentingan dan kesenangan pribadi.

Tidak memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat ketika mendapat kepercayaan sebagai pemimpin. Bahkan, di Sulawesi Utara sebagai gudang pahlawan nasional, justru terdapat banyak sekali kasus korupsi oleh para pemimpin itu sendiri. Kita justru mengkhianati perjuangan dan pengorbanan mereka. Kiapa?(*)

Masaro Century Gate

DUGAAN kriminalisasi terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah bergulir liar. Kasus ini bermula dari kasus korupsi pengadaan alat komunikasi di Departemen Kehutanan oleh PT Masaro Radiokom dan pemberian dana talangan (bailout) Rp 6,72 triliun ke Bank Century, melebihi usulan DPR yang hanya Rp 1,2 triliun. Kedua kasus itu mulai diberi sebutan “Masaro Century Gate”.

Kata “Gate” sangat menakutkan bagi para pemimpin negara. Sebut dua contoh. Pertama skandal Water Gate di Amerika Serikat yang memaksa Presiden Richard Nickson secara tragis jatuh dari kekuasaannya. Kedua, Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang jatuh akibat skandal Bulog Gate.

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Tamagola, menyebutkan sejumlah ciri “gate”, yakni melibatkan petinggi negara, yaitu presiden, melibatkan orang dalam istana, dan selalu terbongkar dari peristiwa yang sepele.  Kasus Water Gate dimulai dengan polisi menangkap orang yang masuk ke dalam gedung Water Gate di Amerika. Sedangkan Bulog Gate terungkap dari tukang pijatnya Gus Dur. Sedangkan  Masaro Century Gate, dimulai dari cinta segitiga Ketua KPK Antasari Azhar, Rani Juliani, dan Nasrudin Zulkarnaen yang berujung pembunuhan terhadap Nasruddin.

Ciri lain “gate”, yakni saat kasus tersebut terbongkar, maka semua yang terlibat di dalamnya akan tergopoh-gopoh melakukan komunikasi intensif untuk membangun suatu rekayasa. Rekayasa tersebut sewaktu-waktu berubah karena panik. “Gate” juga memiliki ciri adanya rekaman yang membuktikan kasus tersebut, di mana tidak ada keraguan di dalamnya.

Terakhir, “gate” selalu disandingkan dengan pers. Dan apabila kasus saat ini berubah menjadi Masaro Century Gate, kita telah melihat betapa besarnya peran pers, karena kasus ini berada di ranah publik, opini publik.

Apabila skandal kriminalisasi terhadap KPK menguat menjadi Masaro Century Gate, bisa menjadi ancaman serius bagi kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apalagi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh rakyat dari berbagai lapisan, mahasiswa, dan akademisi/pengamat, semakin masif. Pers pun semakin lantang meneriakkan kasus tersebut.

Kondisi tersebut bisa mengarah ke situasi yang lebih buruk. Bukan tak mungkin terjadi pengerahan massa secara lebih besar lagi kemudian berubah menjadi gerakan menjatuhkan pemerintah oleh kekuatan rakyat (people power). Indonesia memiliki sejarah yang masih muda mengenai hal itu, manakala kekuatan rakyat berhasil melengserkan Presiden Soeharto tahun 1998 silam. Tahun 1986, Presiden Filipina Ferdinand Marcos juga tumbang digoyang kekuatan rakyat.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, juga mengingatkan SBY untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya people power.  Sebab, dari berbagai pengalaman, kekuatan rakyat tak mungkin dihadapi dengan kekuasaan. Kekuasaan hanya bisa memperlambat jatuhnya sebuah rezim, sebagaimana saat ini terjadi di Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi.

Peringatan bakal terjadi people power juga dilontarkan mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais. Dia  mengingatkan, SBY bisa tumbang apabila penyelesaian pertikaian cicak lawan buaya berlarut-larut.  Amien Rais mendapat julukan Bapak Reformasi saat menumbangkan rezim Soeharto dan merupakan aktor tumbangnya Gus Dur dalam kasus Bulog Gate.

Kita melihat makin banyak pengerahan massa menentang kekuasaan. Semakin sering menyebut SBY berada di balik kasus dugaan kriminalisasi terhadap KPK. SBY dinilai terlalu banyak pidato dan lebih suka menjaga image dalam penuntasan kasus KPK vs Polri  alias  Cicak vs Buaya.(*)

Memberangus Markus

DALAM Injil, Perjanjian Baru, sosok Markus sangat mulia. Dia adalah penulis Injil Markus yang berkisah tentang kerahasiaan Yesus Kristus sebagai Mesias. Dia adalah tokoh penting bagi umat Kristiani. Tapi ada Markus lain yang sangat dibenci sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menempatkan pemberantasan Markus di urutan pertama dari 15 program utama yang akan dibereskan dalam 100 hari pertama pemerintahannya.  Markus yang dimaksud SBY adalah akronim dari makelar kasus. Sosok tersebut terbukti sangat merusak sistem peradilan di Indonesia, bahkan menjadi sumber malapetaka yang menyebabkan negeri ini selalu tertinggal dan terus tersandera kemiskinan.

Pekerjaan mereka adalah menyuap, memeras, memperjualbelikan perkara, mengancam saksi, hingga menjadi pelaku pungutan liar. Markus memiliki hubungan khusus dengan para petinggi penegak hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Memiliki pengaruh kuat terhadap para pejabat pemerintahan, mulai dari daerah sampai ke pusat. Mampu mengintervensi kebijakan di departemen-departemen, badan-badan, tak terkecuali di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Kasus dugaan kriminalisasi terhadap dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, sangat terasa adanya peran Markus, demi meloloskan Anggoro Widjojo, bos PT Masaro Radiokom, yang menjadi buronan KPK dalam kasus korupsi pengadaan alat komunikasi di Departemen Kehutanan.

Dalam kasus itu, mencuat nama Ong Yuliana Gunawan. Perempuan ini aktif dalam berbagai pembicaraan telepon dengan Anggodo Widjojo (adik Anggoro) maupun dengan sejumlah oknum petinggi penegak hukum.  Tapi Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Didiek Darmanto, membantah ada Markus di Kejaksaan Agung terkait kasus kriminalisasi dua pimpinan KPK tersebut.

Kita masih ingat ketika penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, mengungkapkan bahwa antara 2005-2009 KPK telah menangkap 10 orang Markus. Mereka meminta imbalan pada orang yang tengah berkasus di KPK, dengan janji akan menutup atau menyudahi kasus mereka. Konteks pembicaraan Hehamahua, terkait kasus Anggoro. Ada dua nama yang disebut-sebut, yakni Eddy Sumarsono dan Ary Muladi. Dua nama tersebut, kini selalu disebut dalam kasus Anggoro.

Kita tarik ke belakang. Dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menyeret Jaksa Urip Tri Gunawan, juga tercium peran Markus  untuk meloloskan Sjamsul Nursalim, bos Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI). Ketika itu, nama Artalyta Suryani alias Ayin mencuat, setelah KPK menangkap basah Jaksa Urip ketika menerima uang tunai 660 ribu dolar AS (sekitar Rp 6 miliar) dari perempuan itu. Kini Artalyta dan Urip sedang menjalani hukuman di balik jeruji besi.

Para Markus berada di berbagai lapisan institusi penegak hukum maupun lembaga peradilan, mulai dari daerah sampai pusat. Pertengahan 2008, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus)  Marwan Effendy pernah mengeluarkan surat edaran berisi perintah pembasmian Markus di jajaran jaksa. Dia mewajibkan setiap kejaksaan memasang papan pengumuman anti makelar kasus. Pengumuman serupa juga terpasang di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung).

Melihat daya rusak para Markus, mari kita belajar dari Markus, sang penulis Injil Markus. Demikian mulianya pekerjaan Markus, terutama bagi umat Kristiani. Tulisan-tulisannya menumbuhkan dan memperkuat iman Kristen agar semakin percaya dan yakin kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Bukan “Markus” si makelar kasus yang menghancurkan sistem hukum dan peradilan.(*)

Maaf Tuan DPR, Terpaksa Rakyat Ambil Alih

PENAHANAN dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah oleh Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, mengundang reaksi sangat luas dari masyarakat dan sejumlah tokoh publik. Rakyat secara beramai-ramai turun langsung, menuntut penangguhan penahanan hingga pembebasan Bibit dan Chandra.

Berbagai unsur masyarakat dari berbagai lapisan mendukung dengan aneka cara, di dunia nyata maupun melalui dunia maya (internet). Rakyat melakukan demonstrasi, mahasiswa mogok makan, yang lainnya melakukan penggalangan dukungan melalui dunia maya.

Sementara para tokoh nasional, pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM),  hingga mantan Presiden Abdurrahman Wahid, menyatakan ‘pasang badan’, menjaminkan diri mereka demi penangguhan penahanan Bibit dan Chandra. Para akademisi, pengamat politik, dan pengamat hukum terus melontarkan kritik tajam dan bertubi-tubi terhadap pemerintah, institusi Polri, dan Kejaksaan Agung. Bahkan melontarkan kritik keras terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar segera turun tangan dalam kasus dugaan kriminalisasi terhadap KPK.

Media massa nasional sampai daerah, cetak maupun elektronik, termasuk internet, mengambil posisi tegas, mendukung KPK secara institusi dan berdiri di belakang Bibit dan Chandra. Media massa mengambil peran dengan mewawancarai berbagai pihak, mempublikasikan secara luas aneka komentar yang umumnya memberikan dukungan kepada Bibit dan Chandra serta KPK secara institusi agar tidak dikriminalisasi. Media massa pun tidak henti-hentinya membeberkan fakta-fakta terkait dugaan kriminalisasi terhadap dua pimpinan nonaktif KPK tersebut.

Pemerintah dan kepolisian tak kuasa menahan tekanan bertubi-tubi dari berbagai pihak. Akhirnya, setelah pemutaran rekaman percakapan Anggodo Widjojo (adik sang buron KPK, Anggoro Widjojo) dengan sejumlah petinggi aparat hukum, polisi pun menangguhkan penahanan terhadap Bibit dan Chandra. Sebelumnya, Presiden SBY pun membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Bibit dan Chandra atau yang disebut Tim 8.

Sejauh ini tekanan publik menuai hasil positif dengan adanya penangguhan penahanan Bibit dan Chandra. Namun, proses hukum masih berjalan. “Kemenangan” sementara hari ini, belum tentu berakhir dengan kemenangan dalam proses hingga putusan pengadilan. Lagipula, Mabes Polri justru melepas Anggodo, pria yang sementara ini terlihat paling banyak berperan dalam dugaan kriminalisasi terhadap KPK.

Tapi ada yang kurang atau bahkan hilang dari proses perjuangan panjang tersebut di atas. Di mana posisi partai politik dan para politisi dari partai politik yang kini duduk di Senayan? Bukankah rakyat memilih mereka untuk  memperjuangkan hal-hal seperti ini? Di mana mereka selama ini? Atau kita sudah tak butuh lagi wakil di lembaga legislatif? Untuk apa mereka duduk di sana dan mendapat aneka keistimewaan bila rakyat harus mengambil alih peran mereka ketika dibutuhkan?

Bukankah rakyat memilih mereka untuk ikut memperjuangkan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di negeri ini? Apakah masih ada semangat dan kemauan baik di antara para wakil rakyat yang terhormat untuk memperjuangkan pemberantasan korupsi dan tindakan sewenang-wenang segelintir aparat negara? Apakah ini gambaran bahwa para wakil rakyat sudah bersalin rupa menjadi pembela pemerintah?

Kami melihat, beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) baru berteriak lantang setelah perjuangan langsung oleh rakyat, mahasiswa, tokoh masyarakat, LSM, dan pers membuahkan hasil. Situasi ini sungguh menyedihkan. Kita berharap sikap DPR pusat tidak merembet sampai ke daerah. Kita juga berharap agar sikap seperti itu tidak terus terjadi hingga pemilu berikutnya.

Tapi, untuk kali ini, DPR ternyata tidak berbuat apa-apa. Maaf tuan DPR, terpaksa kami, rakyat Indonesia,  mengambil alih tugas Anda.(*)

Transkrip Lengkap Dugaan Rekayasa Kriminalisasi KPK

MAHKAMAH Konstitusi (MK) memutar rekaman dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap dua pimpinan (non aktif) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Rekaman pembicaraan telepon tersebut diperdengarkan pada Selasa 3 November 2009, dalam sidang uji materi Pasal 32 Ayat 1 huruf c Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK.

Pembicaraan telepon tersebut antara Anggodo Widjojo, adik Anggoro Widjojo (Direktur PT Masaro Radiokom) yang menjadi buronan KPK dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat komunikasi di Departemen Kehutanan.

Berikut sembilan transkrip pembicaraan telepon yang diperoleh Persda Network (Jaringan Berita Tribun).

Transkrip 1 : Kasus Masaro oleh Anggodo

Transkrip 2 : Perincian uang dari Anggodo kepada Ary Muladi

Transkrip 3 : Rekaman minta bantuan ke kejaksaaan

Transkrip 4 : Pencatutan nama RI 1

Transkrip 5 : Minta bantuan LPSK

Transkrip 6 : Menyusun strategi dari suap menjadi pemerasan

Transkrip 7 : Lapor menang komitmen tinggi dan ancaman buat CMH (Chandra M Hamzah)

Transkrip 8 : Penghitungan fee pihak terkait

Transkrip 9 : Untuk memengaruhi AM (Ary Muladi) kembali ke bab awal.

Polisi akhirnya menangguhkan penahanan Bibit dan Chandra, kendati masih berstatus tersangka dan dikenakan wajib lapor tiap Senin dan Kamis. Kasus ini masih terus bergulir dan tampaknya masih sangat panjang.(*)

Sulut Pecahkan (Lagi) Empat Rekor Dunia

Empat Rekor Dunia di Minahasa

  • Pagelaran massal musik bambu: 3.011 peserta
  • Pagelaran massal musik kolintang: 1.223 peserta
  • Instrumen musik kolintang terbesar: 8×2,5x 2 meter
  • Instrumen musik terompet terbesar:  Panjang 32 meter, diameter corong 6,8 meter

Permainan kolintang secara massal dalam pemecahan rekor dunia di Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Foto:Dany Permana

Permainan kolintang secara massal dalam pemecahan rekor dunia di Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Foto:Dany Permana

SPEKTAKULER..! Itulah pemandangan yang terpampang saat pagelaran kesenian secara kolosal bertajuk “Pentas 10 dari Utara” di Stadion Maesa Tondano, Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Ribuan pasang mata tertuju pada pagelaran musik bambu dan pagelaran musik kolintang terbanyak di dunia.

Bahkan, perhatian dunia internasional pun ‘dipaksa’ kembali tertuju ke Sulawesi Utara (Sulut), persisnya ke Kabupaten Minahasa, di mana empat rekor dunia tercipta sekaligus!  Kini, Tanah Minahasa masuk sejarah rekor Guinness World Record (GWR) sebagai lokasi pertama dipecahkannya empat rekor dunia di bidang seni dan kebudayaan.

Empat rekor tersebut adalah rekor alat musik terompet raksasa, alat musik kolintang raksasa, pagelaran musik bambu, dan permainan kolintang terbanyak di dunia. Sebanyak 3.011 pemain musik bambu dan 1.223 pemain kolintang berhasil memenuhi standar yang telah ditetapkan pihak GWR, serta memainkan beberapa lagu berdurasi minimal lima menit. Pertunjukan musik itu dipadu dengan pertunjukan kesenian dari beberapa daerah di Sulut dalam rangkaian acara bertajuk “Pentas 10 dari Utara” tersebut.

Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi, tampak takjub terhadap budaya daerah Minahasa. “Amazing… wonderful..!

Terompet raksasa yang ditampilkan di Minahasa dalam pemecahan rekor dunia

Terompet raksasa yang ditampilkan di Minahasa dalam pemecahan rekor duni. Foto:Dany Permana.

(menakjubkan.. indah),” ujar perempuan asal Inggris itu berkali-kali, saat berkeliling lapangan Stadion Maesa Tondano dan memerhatikan kelompok kesenian asli Sulut yang akan tampil dalam acara pemecahan rekor dunia.

Dia juga terkagum-kagum saat berjalan  mendekati alat musik kolintang yang berjajar rapi di lapangan. Terlihat serius memerhatikan bentuk alat musik tradisional tersebut sembari menikmati alunan melodi yang indah dari alat musik berbahan kayu itu.

Lucia tak asing lagi bagi warga Sulut. Dia pernah datang ke Manado untuk mencatat pemecahan rekor dunia penyelaman dengan peserta terbanyak dan upacara di bawah laut di Manado dalam rangkaian Sail Bunaken 2009, Agustus silam. Tambahan empat rekor dunia dari bidang seni, nama Sulut kini tercatat sebagai lokasi pemecahan enam rekor dunia.

Dr Benny Mamoto SH MSi yang menjadi pemrakarsa kegiatan akbar tersebut, dalam sambutannya mengucapkan terimakasih untuk semua pihak yang telah bekerja menyukseskan acara itu. Lebih khusus ucapan terimakasih tersebut dialamatkan untuk Pemerintah Kabupaten Minahasa dan para aktivis kebudayaan yang telah menopang semua kegiatan pemecahan rekor dunia di Minahasa.

Dirinya menjelaskan, apa yang diperoleh semua masyarakat Sulut, khususnya Minahasa, adalah berkat Tuhan. Sejak awal rencana pemecahan empat rekor dunia ini terus mendapat dukungan dari semuah pihak, termasuk Julia dari

Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi (tengah), menyerahkan piagam rekor dunia kepada Kombes Benny Mamoto

Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi (tengah), menyerahkan piagam rekor dunia kepada Kombes Benny Mamoto. Foto:Dany Permana

GWR, sehingga tim Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) tidak perlu jauh-jauh berangkat ke London, tapi pihak GWR yang mendatangi mereka.

“Terimakasih untuk semuanya. Tidak ada prestasi yang datang begitu saja, tapi harus dikejar. Apa yang kita dicapai teman-teman saat ini adalah buah dari kerja keras dari semua orang,” ujar Mamoto.(sumber:luc/tribun manado)

Konduktor Tunanetra Pimpin Pagelaran Musik Massal

HEIN Kaseke, seorang konduktor atau dirigen tunanetra akan memukau publik saat memimpin pagelaran musik secara massal di Stadion Maesa Tondano dalam acara pemecahan Guinness World Records (GWR). Juri GWR dari Inggris sudah memastikan hadir.

Konduktor Tunanetra, Hein Kaseke, saat memimpin pagelaran musik kolintang secara massal di Tondano.

Konduktor tunanetra, Hein Kaseke, saat memimpin pagelaran musik kolintang secara massal di Tondano. (Foto:Danny Permana)

MATA dunia kembali akan tertuju ke Sulawesi Utara (Sulut), khususnya Minahasa. Sabtu (31/10/2009), Sulut kembali mencatat sejarah dengan mencetak rekor dunia melalui pagelaran musik secara massal yang diikuti 3.600 pemain musik bambu dan 1.050 pemain kolintang di Stadion Maesa Tondano.

Ribuan pemusik itu akan mendendangkan sejumlah tembang lagu tradisional Minahasa. Jumlah pemusik sebanyak itu adalah yang pertama dilakukan di seluruh dunia. Selain menampilkan pagelaran musik massal, juga akan ada terompet dan kolintang raksasa akan dimainkan bersama ribuan musisi musik tradisional.

Wajarlah jika Lucia Sinigagliesi telah menyatakan kesiapannya untuk hadir dan menyerahkan piagam GWR pada puncak acara tersebut. Lucia adalah juri yang datang ke Manado ketika pemecahan rekor dunia penyelaman massal dan upacara dalam laut yang digelar dalam rangka Sail Bunaken, pertengahan Agustus silam.

“Miss Lucia sejak beberapa bulan lalu telah menyatakan kesiapannya untuk hadir. Bahkan dirinya akan tiba di Manado hari ini (kemarin). Ini adalah kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Kombes Polisi Dr Benny Mamoto SH MSi kepada Tribun Manado melalui saluran telepon, Kamis (29/10/2009).

Jelang pelaksanaan acara puncak pemecahan rekor GWR, persiapan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBS) yang menjadi pelaksanan utama pesta musik tradisional tersebut telah mencapai 99 persen. Semua hal menyangkut persiapan teknis dan kelengkapan lainnya hampir mendekati sempurna. Alat musik bambu dan kolintang terbesar di dunia saat ini telah berada di Stadion Maesa dan siap digunakan.

Mamoto menjelaskan, semua pihak seperti panitia pelaksana dan peserta telah bekerja keras untuk mensukseskan acara ini. Walau kelelahan karena terpaksa memangkas waktu istirahatnya, semangat para pencinta kebudayaan Minahasa terus berkobar untuk satu tujuan, yaitu membuka mata dunia bahwa kebudayaan musik tradisional Minahasa adalah sesuatu yang indah. Para peserta pagelaran musik bambu dan kolintang juga tidak tinggal diam. Berbekal partitur lagu daerah yang telah dibagikan, mereka terus berlatih di daerah mereka masing-masing.

“Gladi bersih akan dilaksanakan besok di Stadion Maesa Tondano. Ada beberapa lagu yang akan dimainkan oleh kelompok musik kolintang, seperti Aki Tembo-temboan dan Minahasa Kinotoanku. Sedangkan untuk kelompok musik bambu, mereka akan memainkan lagu Si Lili Ni Mamana dan mars Baku Dapa,” ujar pria yang baru saja dipromosikan menjadi Brigjen Polisi ini.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada empat rekor dunia yang akan dipecahkan, yaitu alat musik terompet klarinet terbesar, alat musik kolintang terbesar, pagelaran musik bambu terbanyak, serta pagelaran musik kolintang terbanyak.

Konduktor tunanetra

Pada kesempatan yang sama, juga akan ada penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Hein Kaseke sebagai konduktor tunanetra pertama yang memimpin paduan musik massal.

Mamoto menjelaskan,  penampilan Hein layak menjadi perhatian dalam pagelaran musik massal tersebut. Walaupun tidak bisa melihat (buta), Hein tetap memiliki hasrat dan semangat untuk mewujudkan sebuah prestasi berskala internasional.

“Walau Hein Kaseke adalah seorang tunanetra, tapi kami melihat dedikasi dan perjuangannya dalam memajukan musik daerah sangat besar. Dia adalah pejuang musik tradisional, sehingga layaklah jika dirinya diberikan kepercayaan untuk memimpin pagelaran musik tradisional terakbar di dunia ini,” tambah Mamoto.

Hein kehilangan penglihatan sejak tahun 1980. Pria kelahiran Tousuraya 10 Desember 1947, ini sangat mencintai alat musik bambu. Dia telah menggeluti alat musik bambu sejak tahun 1967. Hein telah menghasilkan sejumlah album musik yang dimainkan dengan alat musik tradisional.(sumber:Tribun Manado)

Sumpah Pemuda tak Pernah Ada..!

* Tidak Ada Dokumen Otentik Tentang Sumpah Pemuda

SUMPAH Pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini ternyata tidak memiliki dokumen dan bukti sejarah otentik, yang ada adalah keputusan rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

“Berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada satu baris pun ditulis kata Sumpah Pemuda dan para pemuda juga tidak sedang melakukan sumpah saat itu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari, di Medan, Selasa (28/10/2009).

Ia mengatakan, berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari para “Bapak Pembangun Bangsa” ini yang didasarkan pada ideologi-ideologi dari generasi yang berbeda.

“Dalam arti bahwa peristiwa 28 Oktober 1928, yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda adalah rekontruksi simbol yang sengaja dibentuk kemudian setelah sekian lama peristiwa tersebut berlalu, yaitu adanya pembelokan kata `Poetoesan Congres` menjadi kata `Sumpah Pemuda, ” katanya.

Lebih lanjut Ichwan mengatakan, apabila teks asli hasil kongres pemuda 28 Oktober 1928 diteliti maka tidak akan ditemukan kata sumpah pemuda melainkan Poetoesan Congres.

Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai cara Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia.

Dalam arti bahwa, pembelokan kata “Poetoesan Congres” menjadi kata “Sumpah Pemuda” ditujukan dan digunakan sebagai senjata ideologi terhadap pihak separatis yang dinyatakan melanggar sumpah pemuda tahun 1928.

Sebagaimana diketahui, lanjutnya, bahwa pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan, dan Yamin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo memberikan pidato pembukaan.

Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “Poetoesan Congres” dibelokkan menjadi “Sumpah Pemuda”.

Sejak saat itu yakni tahun 1954, tanggal 28 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran sumpah pemuda untuk pertama kalinya. “Dengan kata lain bahwa Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan tahun 1954 itu, telah menjadi awal yang menganggap tanggal 28 Oktober 1928 sebagai hari kelahiran Sumpah Pemuda,” katanya.

Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, pada intinya pembelokan kata Poetoesan Congres menjadi Sumpah Pemuda adalah sebagai upaya untuk membentuk kesadaran nasional atas kemerdekaan bangsa ini.

Namun demikian, tidak semestinya peristiwa tersebut melahirkan kontroversi baru dalam pembelajaran sejarah nasional Indonesia yang sudah semestinya mendapat penjelasan yang baik dalam pembelajaran sejarah Indonesia.

“Ini berarti bahwa perlu dilakukan pengkajian dan penelitian komprehensif sehingga peristiwa 28 Oktober 1928 tersebut dapat dipahami secara detail dan benar,”katanya. (sumber:antara)

Tribun Manado Masuk 10 Besar Nasional

  • Terima Penghargaan sebagai  Koran Berbahasa Indonesia Terbaik

Cover Tribun Manado

Cover Tribun Manado

HARIAN Pagi Tribun Manado mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebagai media massa yang menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Penghargaan tersebut dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2009.

Acara puncak BBS 2009 sekaligus peringatan Sumpah Pemuda ke-81, berlangsung di kantor Pusat Bahasa Depdiknas, Jl Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (28/10). Pada kesempatan itu, Pusat Bahasa Depdiknas memberikan penghargaan kepada 10 media massa yang menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Harian Pagi Tribun Manado menempati urutan 10 dan satu-satunya koran di luar Pulau Jawa yang masuk 10 besar.  Berikut 10 besar koran berbahasa Indonesia terbaik tahun 2009 versi Pusat Bahasa Depdiknas.

1. Koran Tempo
2. Kompas
3. Republika
4. Media Indonesia
5. Pikiran Rakyat
6. Suara Pembaruan
7. Koran Jakarta
8. Sinar Harapan
9. Tribun Jabar
10. Tribun Manado.

“Penghargaan ini setiap tahunnya diberikan bagi setiap media cetak yang menggunakan bahasa Indonesia  yang baik dan benar,” kataAni Mariani, Ketua Panitia Acara Puncak Bulan Bahasa, yang dihubungi melalui saluran telepon.

Ia menjelaskan, penilaian dilakukan berdasarkan tulisan pada halaman utama dan editorial. Panitia menilai sekitar 1.500 artikel dari seluruh koran yang terbit di Indonesia. Peserta seleksi tahun 2009 mengalami penurunan dibanding tahun 2008. Tahun lalu diikuti 61 koran sedangkan tahun ini hanya 45 koran yang ikut. Dari Sulawesi Utara hanya dua koran yang ikut, yakni Tribun Manado dan Manado Post. “Semoga saja tahun depan semakin banyak yang ikut,”harapnya.

Kriteria penilaian mencakup sejumlah aspek, yakni struktur bahasa dan struktur kalimat mendapat bobot 40 persen, penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) mendapat bobot 25 persen, diksi mendapat bobot 25 persen, dan gaya penulisan sebesar 10 persen.

Penilaian dilakukan oleh lima orang, masing-masing dua orang dari Balai Bahasa dan tiga orang dari Kantor Berita Antara, Institut Ilmu Sosial dan  Ilmu Politik (IISIP) Jakarta Jurusan Jurnalistik, dan Lembaga Pers Dr Soetomo. “Tim penilai melakukan penilaian selama 10 hari. Kami bekerja secara maksimal untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjadi terbaik,” jelas Mariani.

Ani mengaku salut atas prestasi yang diraih Tribun Manado yang mampu menembus 10 besar tingkat nasional. Kendati merupakan pendatang baru yang baru terbit per 2 Februari 2009, Tribun Manado mampu bersaing dengan koran-koran pendahulunya maupun koran-koran nasional. Ia mengatakan, dengan adanya koran lokal yang menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar akan menambah tingkat kecerdasan masyarakat pembaca.

“Jadi, jika ingin semakin baik lagi maka Tribun Manado harus lebih sering berkonsultasi dengan Balai Bahasa yang ada di Manado. Supaya tahun depan ikut lagi dan siapa tahu bisa jadi peringkat pertama,” tutur Mariani.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Sulawesi Utara (Sulut), Drs Zainuddin Hakim Mhum mengatakan, piagam penghargaan yang dia terima mewakili Tribun Manado akan diberikannya ketika kembali ke Manado pada 2 November mendatang.

“Selamat untuk Tribun Manado yang mampu bersaing dengan koran nasional. Teruslah menjadi koran berbahasa Indonesia yang baik,”ujar Zainuddin melalui telepon seluler.(*)

Bocoran Rekaman Telepon Wisnu dan Anggodo

KENDATI membantah isi pembicaraan itu merupakan upaya rekayasa untuk menjatuhkan dua pimpinan nonaktif

Wisnu Subroto

Wisnu Subroto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto,  mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM Intel) Wisnu Subroto mengakui pernah menjalin serangkaian kontak telepon dengan Anggodo Widjojo.

Anggodo adalah adik kandung Anggoro Widjojo, Direktur PT Masaro Radiokom yang dijaring KPK sebagai tersangka proyek pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan.

Berikut transkrip pembicaraan telepon antara Wisnu dan Anggodo pada 22 dan 23 Juli 2009.

Pembicaraan 22 Juli terjadi pukul  12.03 WIB.

“Nanti malam saya rencananya ngajak si  EDI (Edi Sumarsono) sama ARI (Ari Muladi) ketemu TRUNO 3 (Kabareskrim Komjen Susno Duadji),” kata Anggodo kepada Wisnu
Sehari kemudian giliran Wisnu menelepon Anggodo, sekitar pukul 12.15. Wisnu bertanya, “Bagaimana perkembangannya?” Anggodo menjawab, “Ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes. Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya Ritonga (saat itu Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Abdul Hakim Ritonga, sekarang Wakil Jaksa Agung) minggu ini, terus balik ke sini, terus action.”
“RI-I (Presiden) belum,” tanya Wisnu. “Udah-udah, aku masih mencocokkan tanggal,” kata Anggoro mengakhiri pembicaraan telepon.

Sedangkan telepon yang membahas sikap Edi Sumarsono yang tidak mau mengakui bahwa ia mengetahui adanya perintah dari Antasari Azhar untuk memberi suap kepada Chandra Hamzah, berlangsung 29 Juli 2009, sekitar pukul 13.58.

“Terus gimana Pak, mengenai EDI gimana Pak,” kata Anggodo. “EDI udah tak omongken Irwan apa. Ini bukan sono yang salah, kita-kita ini yang jadi salah,” kata Wisnu.
“Iya, padahal ia saksi kunci Chandra. Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu, nggak apa-apa kan Pak,” ujar Anggodo.
“Nggak apa-apa, kalau dari Wisnu nggak apa-apalah,” kata Wisnu. “Kalau kita ngikutin, kan berarti saya ngaku Irwan kan. Cuma kalau dia nutupin dia yang perintah. Perintahnya Antasari suruh ngaku ke Chandra (Chandra Hamzah) itu nggak ngaku. Terus siapa yang ngaku,” tanya Anggodo
“Ya you sama ARI,” jawab Wisnu.
“Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra,” jawab Anggodo. “Nggak, saya dengar dari EDI,” kata Wisnu. “Iya dari EDI, emang perintahnya dia Pak. Lha Edi-nya nggak mau ngaku, gitu Pak, Dia (Edi) nggak kenal Chandra, saya ndak nyuruh ngasihin duit. Gimana bos,” tanya Anggodo. “Ya nggak apa-apa,” kata Wisnu.

Pada 30 Juli 2009,  Anggodo kembali menghubungi Wisnu.
“Pak tadi jadi ketemu,” tanya Anggodo.
“Udah, akhirnya Kosasih (pengacara HK Kosasih) yang tahu persis teknis di sana. Suruh dikompromikan di sana. Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno. Dia juga ketemu Pak Susno lagi dengan si Edi. Yang penting kalau dia tidak mengaku susah kita.”
Wisnu menambahi lagi, “Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari.”  Anggodo menimpali, “Nah itu. Wong waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu kejadian.”
“Bohong, nggak ada kejadian, kamuflase saja,” kata Wisnu. (persda)

make money online

Daftar Gaji Pejabat Negara Indonesia

Presiden
- Gaji pokok : Rp 30.240.000
- Tunjangan Jabatan:  Rp 32.500.000
Total: Rp 62.740.000

Wakil Presiden
- Gaji Pokok:  Rp 20.160.000
- Tunjangan jabatan: Rp 22.000.000
Total:  Rp 42.160.000

Menteri Negara, Jaksa Agung, Panglima TNI
- Gaji pokok : Rp5.040.000
- Tunjangan jabatan: Rp 13.608.000
Total: Rp 18.648.000

Ketua DPR
- Gaji pokok: Rp5.040.000
- Tunjangan jabatan:  Rp 18.900.000
- Uang paket: Rp 2.000.000
- Komunikasi Intensif: Rp4.968.000
Total: Rp 30.908.000

Ketua Mahkamah Agung
- Gaji pokok: Rp 5.040.000
- Tunjangan jabatan: Rp 18.900.000
- Uang paket:  Rp 450.000
Total: Rp 24.390.000

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
- Gaji pokok: Rp 5.040.000
- Tunjangan jabatan: Rp 18.900.000
Total: Rp 23.940.000

Wakil Ketua DPR
- Gaji Pokok: Rp 4.620.000
- Tunjangan jabatan: Rp15.600.000
- Uang paket: Rp 2.000.000
- Komunikasi Intensif : Rp 4.554.000
Total:  Rp 26.774.000

Anggota DPR sebagai Ketua Komisi/Badan
- Gaji pokok: Rp 4.200.000
- Tunjangan jabatan: Rp 9.700.000
- Uang paket:  Rp  2.000.000
- Tunj  kehormatan: Rp 4.460.000
- Komunikasi Intensif: Rp 4.140.000
- Bantuan listrik:  Rp 4.000.000
Total: Rp 28.500.000

Anggota DPR sebagai Wkl Ketua Komisi/Badan
- Gaji pokok: Rp4.200.000
- Tunjangan jabatan: Rp 9.700.000
- Uang paket: : Rp 2.000.000
- Tunj kehormatan: Rp 4.300.000
- Komunikasi Intensif: Rp 4.410.000
- Bantuan listrik: Rp 4.000.000
Total: Rp 28.340.000

Anggota DPRAnggota Komisi/Badan
- Gaji pokok: Rp4.200.000
- Tunjangan jabatan: Rp 9.700.000
- Uang paket: Rp 2.000.000
- Tunj  kehormatan: Rp 3.720.000
- Komunikasi Intensif: Rp4.410.000
- Bantuan listrik: Rp 4.000.000
Total:  Rp 27.760.000

Gubernur Bank Indonesia (BI)
- Tahun 2007: Rp 162,2 jutta
- Sebelumnya: Rp 156 juta

Sumber: Kepala Bagian Anggaran Departemen Keuangan pada 28 Januari 2005.

Inilah Manusia Laba-laba dari India

Manusia laba-laba (human spider)

Manusia laba-laba (human spider)

INILAH pasangan saudara kembar paling aneh di dunia. Ganga dan Jamuna Mondal, nama saudara kembar itu, lahir dari keluarga miskin di negara bagian Benggala Selatan, India. Mereka sudah hidup dalam kondisi badan jadi satu selama 39 tahun dan kini memiliki satu suami.

Si kembar Ganga dan Jamuna mendapat julukan `laba-laba.’ Julukan itu muncul karena kondisi keduanya yang menyerupai laba-laba. Keduanya hanya punya satu pinggang untuk berdua.  Mereka punya dua tangan, namun hanya memiliki tiga kaki dan satu di antaranya tidak sempurna. Akibatnya, mereka tidak bisa berdiri.  Saat berjalan, mereka terpaksa menggunakan keempat tangan dan dua kaki untuk melangkah sehingga menyerupai laba-laba. Agar terlindung dari luka, mereka memakai sandal di tangan.

Dikutip dari The Sun, Sabtu (24/10/2010), saat kelahiran si kembar ini 39 tahun silam, dua bidan yang mendampingi ibu mereka sampai jatuh pingsan saking kagetnya melihat kondisi aneh yang dialami si kembar. Menurut dokter, si kembar ini terjalin jadi satu di bagian pinggul. Masing-masing memiliki badan atas normal dan satu kaki yang berfungsi.

Ganga dan Jamuna ramai diberitakan media massa pada tahun 2003, setelah kematian tragis Laleh dan Ladan Binjani (29) asal Iran, dalam operasi pemisahan di Rumah Sakit Raffles Singapura. Ladan dan Laleh meninggal setelah terlalu banyak kehilangan darah pada tahap krusial bedah saraf dari operasi maraton selama 52 jam.

Dari sebuah uji coba yang dilakukan Amerika Serikat bersama seorang ahli anak kembar Dr James Stein, disimpulkan bahwa duo kembar itu bisa dipisahkan dengan selamat. Namun,  Ganga dan Jamuna tidak mau dipisahkan. “Mengapa kami harus dipisahkan? Kami senang seperti ini. Tuhan ingin kami seperti ini dan kami hidup seperti ini,” kata Ganga seraya merengkuh saudara kembarnya.

Ikut pertunjukan
Dengan kondisi tubuh mereka yang invalid, keduanya tetap memperlihatkan tanggung jawab sebagai anggota sebuah keluarga besar. Guna membantu menafkahi keluarga, mereka memanfaatkan kecacatan mereka untuk bermain sirkus.

Selama lima jam mereka bermain sirkus mempertontonkan kondisi mereka yang berbeda dengan orang lain itu, uang yang diperoleh 26 pounds atau sekitar Rp 400 ribu. Uang sejumlah itu cukup untuk memberi makan keluarga besar mereka yang terdiri dari 22 orang selama dua minggu. “Orang-orang mendatangi kami. Mereka pikir kami aneh,” kata Jamuna.

Ganga dan Jamuna bergabung dalam kelompok pertunjukan kafilah dan bazar keliling.  Kembar Ganga dan Jamuna bahkan sudah mulai ikut mengais rezeki sejak usia mereka baru tiga bulan. Saat itu kedua orangtua mereka datang ke sebuah bazar dan “menampilkan” si kembar yang bernama asli Ayara dan Jayara Ratun. Sejak itulah mereka berkeliling ke seluruh negeri dengan menyandang nama baru Ganga dan Jamuna untuk pertunjukan.

Pada 8 Juli 2003, mereka tiba di Ahmedabad, ibu kota komersial Negara Bagian Gujarat, India Barat. Mereka berada di kota itu selama sebulan untuk mengikuti festival Dreamland Funfair 2003. “Capek juga,” kata kembar itu tentang pekerjaan mereka. Tapi, paling tidak mereka senang bisa mencari uang sendiri.

“Ibu saya mempekerjakan lima orang untuk mengatur pertunjukan kami. Kami mendapat cukup uang, tapi semuanya habis untuk mengelola pertunjukan. Tak ada yang bisa kami tabung,”tutur Ganga.

Anamul, kakak laki-laki mereka, memuji kegigihan si kembar. “Meski keadaannya seperti itu, pendapatan mereka paling

Human Spider Ganga and Jamuna Mondal

Human Spider Ganga and Jamuna Mondal

tinggi dalam keluarga dan hidup mereka sangat normal,”kata Anamul.

Satu suami
Walau tak pernah terpisah, kembar itu mengaku mereka seperti juga saudara-saudara lain dalam urusan perasaan. “Oh ya, kami juga bertengkar. Kadang-kadang, kami bahkan saling pukul. Tapi, kami tak pernah terpisah satu dengan yang lain,” kata Jamuna. “Kami melakukan pekerjaan sendiri-sendiri dan tidak bergantung satu sama lain. Kami memang menyatu di pinggang, tapi kami punya dua pikiran dan karena itu kadang-kadang kami bisa salah dan marah.”

Kepribadian kedua insan itu pun amat berbeda. Ganga periang dan cerewet, sementara Jamuna pemalu. “Saya yang lebih banyak bicara. Dia pemalu dan tak bisa berbahasa Hindi,” kata Gangga tentang kembarannya, yang berbahasa Bengali–bahasa Negara Bagian Benggala.

Nonton film? Ganga suka film-film Bollywood, sementara opera sabun di televisi menjadi kegemaran Jamuna. “Kami sudah belajar untuk menyesuaikan dan saling menghormati keinginan dan kebutuhan masing-masing,” kata Jamuna.

Dalam soal makanan, Ganga lebih suka ikan, sementara Jamuna lebih suka daging. Gangga pada malam hari suka membaca atau mendengarkan musik, sementara Jamuna akan langsung tidur. Aktor favorit Gangga adalah Amitabh Bachan, sedangkan Jamuna lebih suka Akhshay Kumar.

Menariknya, mereka memiliki satu suami bernama Gadadhar, seorang pekerja karnaval yang mereka cintai. Sang suami juga mengaku mencintai keduanya sama besar. “Aku mencintai keduanya sama-sama,”ujar Gadadhar.

Pada tahun 1993, si kembar melahirkan seorang anak perempuan melalui operasi caesar, tetapi bayi itu meninggal beberapa jam setelah lahir. Meskipun mereka ingin punya anak, dokter khawatir bahwa kehamilan akan membahayakan keselamatan mereka.(*/berbagai sumber)

Susunan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II

1. Menko Polhukam: Djoko Suyanto (mantan panglima TNI/Demokrat)
2. Menko Perekonomian: Hatta Radjasa (Mensesneg/PAN)
3. Menko Kesra: R Agung Laksono (mantan Ketua DPR/Golkar)
4. Sekretaris Negara: Sudi Silalahi (Seskab/purnawirawan)
5. Menteri Dagri: Gamawan Fauzi (Gubernur Sumbar)
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa (Dubes RI untuk DK PBB)
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro (Menteri ESDM/Profesional)
8. Menteri Hukum & HAM: Patrialis Akbar (mantan anggota DPR/PAN)
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani (Menkeu/Profesional)
10. Menteri ESDM: Darwin Zahedy Saleh (Ekonom UI/Demokrat)
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat (Ketua Kadin/Golkar)
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu (Mendag/profesional)
13. Menteri Pertanian: Suswono (Anggota DPR/PKS)
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan (Sekjen PAN/PAN)
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi (Menteri Kelautan P/Demorat)
16. Menteri Kelautan dan Perikanan:Fadel Muhammad (Gubernur Gorontalo)
17. Menteri Nakertrans: Muhaimin Iskandar (mantan Wakil Ketua DPR/PKB)
18. Menteri PU: Djoko Kirmanto (incumbent)
19. Menteri Kesehatan:Endang Rahayu Sedyaningsih (Profesional)
20. Menteri Sosial: Salim Assegaf Al’jufrie (Dubes Ri untuk Arab/PKS)
21. Menteri Pendidikan:  M Nuh (Menkominfo/akademisi)
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali (Menkop dan UKM/PPP)
23. Menteri Budaya dan Pariwisata:  Jero Wacik (incumbent/Demokrat)
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring (Presiden PKS/PKS)
25. Menteri Kop dan UKM: Syarifudin Hasan (Anggota DPR/Demokrat)
26. Menneg Ristek:  Suharna Surapranata (Ketua MPP PKS/PKS)
27. Menneg Lingkungan Hidup:  Gusti Moh Hatta (PR I Unlam/Akademisi)
28. Menneg P Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar (Ketua Kowani/profesional)
29. Menneg PAN dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan(Anggota DPR/Demokrat)
30. Menneg PPDT: Helmy Faisal Zaini (Wakil Sekjen PKB/PKB)
31. Menneg PPN/Bappenas:  Armida Alisjahbana (guru besar Unpad/akademisi)
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar (Direktur Bulog/profesional)
33. Menneg Perumahan: Suharso Manoarfa (Bendahara DPP PPP/PPP)
34. Menneg Pemuda dan Orlahraga: Andi Mallarangeng (Jubir Presiden/Demokrat)

Pejabat Negara Setingkat Menteri
Kepala BIN: Jenderal Pol Purn Sutanto
Kepala BKPM: Gita Wirjawan
Pembentukan Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusbroto.(persda network)

Pidato Lengkap Presiden SBY saat Pelantikan

Intinya SBY-Boediono menjanjikan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan penegakan keadilan.

Assalamualaikum Wr Wb.

YANG saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia, Yang saya muliakan kepala negara dan pemerintahan, serta utusan khusus dari negara-negara sahabat, Yang saya hormati para Ketua, para Wakil Ketua dan anggota lembaga-lembaga negara, Yang mulia para duta besar serta para pimpinan organisasi internasional, Yang saya hormati para gubernur kepala daerah seluruh Indonesia, Saudara-saudara se-bangsa se-Tanah Air, hadirin sekalian yang saya muliakan.

Hari ini dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, saya dan saudara Prof Dr Boediono baru saja mengucapkan  sumpah di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk  mengemban amanah rakyat lima tahun mendatang.

Pada kesempatan yang bersejarah dan Insya Allah penuh berkah ini, saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan dan anggota MPR RI, Pimpinan dan anggota DPR RI, Pimpinan dan anggota DPD RI, beserta pimpinan dan anggota lembaga-lembaga negara lainnya masa bakti 2004-2009 yang telah bersama-sama bekerja keras membangun bangsa dan negara kita menuju masa depan yang lebih baik.

Kepada Saudara Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden periode 2004-2009 yang telah mendampingi saya selama lima tahun terakhir, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasa dan pengabdian saudara baik kepada pemerintah maupun kepada bangsa dan negara. Pengabdian saudara tercatat abadi dalam sejarah perjalanan bangsa dan akan dikenang sepanjang masa.

Kepada segenap jajaran Kabinet Indonesia Bersatu masa bakti 2004-2009, saya ucapkan pula terima kasih dan penghargaan saya atas upaya yang sungguh-sungguh dalam menjalankan dan menyukseskan program-program pembangunan nasional yang sarat dengan tantangan dan permasalahan yang rumit.

Saudara-saudara, kita baru saja melewati periode sejarah 2004-2009 yang penuh dengan tantangan. Hari ini Bangsa Indonesia patut bersyukur dan berbesar hati, di tengah gejolak dan krisis politik di berbagai wilayah dunia, kita tetap tegak dan tegar sebagai negara demokrasi yang makin kuat dan stabil.

Di tengah badai finansial dunia, ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan nomor tiga tertinggi di dunia. Di tengah maraknya konflik dan disintegrasi di berbagai wilayah dunia lain, Bangsa Indonesia semakin rukun dan bersatu.

Pertumbuhan Ekonomi dan Pemberantasan Korupsi

Karena itu tepatlah kalau dalam beberapa hari ini berbagai televisi internasional muncul tayangan yang menyebut bangsa kita sebagai “remarkable Indonesia”, bangsa yang dinilai berhasil dalam mengatasi krisis dan tantangan yang berat dan kompleks sepuluh tahun terakhir ini.

Namun semua itu janganlah membuat kita lemah, lalai, apalagi besar kepala. Ingat, pekerjaan besar kita masih belum selesai. Ibarat perjalanan sebuah kapal, ke depan kita akan mengarungi samudera yang penuh dengan gelombang, dan badai.

Di luar Indonesia, krisis perekonomian global belum sepenuhnya usai. Perdagangan dan arus investasi dunia belum pulih. Sementara itu, harga minyak dan berbagai komoditas masih berfluktuasi yang dapat menghantam stabilitas dan kepastian ekonomi kita.

Oleh karena itu, walaupun secara gejala perbaikan perekonomian dunia mulai terlihat, namun kita tidak boleh berhenti untuk terus memperkuat sendi-sendi perekonomian kita seraya tetap melanjutkan upaya nasional untuk meminimalkan dampak dari krisis dunia dewasa ini.

Di dalam negeri, kita bersyukur reformasi telah berjalan makin jauh,  namun masih belum tuntas. Upaya untuk membangun Good Governance dan memberantas korupsi mulai membuahkan hasil, namun masih perlu terus ditingkatkan. Kemiskinan sudah banyak berkurang, namun upaya peningkatan kesejahteraan rakyat perlu terus dilanjutkan.

Pengalaman menunjukkan setiap prestasi yang kita capai biasanya akan disusul oleh tantangan-tantangan baru. Tetapi saya percaya semua tantangan itu, baik yang sudah kita ketahui maupun yang belum dapat kita bayangkan akan dapat kita hadapi dan atasi bersama. Insya Allah Bangsa Indonesia akan terus maju meningkatkan kehidupannya yang lebih baik.

Pemilihan Umum

Saudara-saudara, tahun ini kita menyaksikan rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya dalam Pemilihan Umum yang berlangsung secara damai dan demokratis. Ini adalah kali ketiga kita mampu menyelenggarakan Pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil. Kita semua mampu melaksanakan kompetisi politik dengan penuh etika dan kedewasaan.

Dalam Pemilihan Umum, kalah atau menang adalah hal yang biasa. Dalam demokrasi, kita semua menang, demokrasi menang, rakyat menang, Indonesia menang.

Berkaitan dengan itu pada kesempatan yang baik ini saya ingin menyampaikan rasa hormat kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Prabowo Subianto, serta Bapak Muhammad Jusuf Kalla dan Bapak Wiranto atas partisipasi aktif dan kegigihan beliau-beliau sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pemilihan tahun 2009. Mereka adalah putra-putri bangsa yang ikut berjasa memekarkan kehidupan demokrasi di tanah air kita.

Hari ini saya mengajak semua komponen bangsa untuk kembali bersatu dan bersama-sama membangun bangsa, membangun masa depan kita semua. Dengan semangat baru dan kebersamaan, mari kita songsong pembangunan lima tahun ke depan dengan penuh optimisme dan rasa percaya diri.

Tiga Progam Pokok dan Tiga Kunci Sukses

Dalam menjalankan amanah rakyat lima tahun mendatang, saya bersama wakil presiden telah menetapkan program seratus hari, program satu tahun, dan program lima tahun ke depan. Esensi dari program lima tahun mendatang adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan penegakan keadilan. Prosperity, democracy, and justice.

Peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan prioritas utama. Kita ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan keunggulan daya saing, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan sumber daya manusia.

Ekonomi kita harus tumbuh semakin tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang kita ciptakan adalah pertumbuhan yang inklusif, pertumbuhan yang berkeadilan, dan pertumbuhan disertai pemerataan. Kita juga ingin membangun tatanan demokrasi yang bermartabat, yaitu demokrasi yang memberikan ruang kebebasan dan hak politik rakyat tanpa meninggalkan stabilitas dan ketertiban politik.

Kita juga ingin menciptakan keadilan yang lebih baik, ditandai dengan penghormatan terhadap praktik kehidupan yang non diskriminatif, persamaan kesempatan, dan tetap memelihara kesetiakawanan sosial dan perlindungan bagi yang lemah.

Saudara-saudara, untuk mewujudkan cita-cita kita semua, utamanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat demokrasi dan meningkatkan keadilan, ada sejumlah kunci sukses yang perlu kita pedomani dan jalankan bersama.

Pertama, jangan pernah kita menyerah dan patah semangat. Ingat, segala keberhasilan monumental bangsa kita dari revolusi, pembangunan nasional, reformasi, penyelesaian berbagai konflik, termasuk penanganan tsunami, semuanya ini hanya bisa dicapai dengan keuletan dan semangat tak kenal menyerah.

Sebagaimana sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, kita harus selalu mengobarkan semangat harus bisa. ‘Can do spirit’. Ke depan, dengan semangat Indonesia bisa kita akan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah krisis dunia. Dengan semangat inilah kita akan menegakkan “good governance” dan membasmi korupsi.

Dengan semangat ini pulalah kita akan terus mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Kunci sukses yang kedua adalah perlu terus menjaga persatuan dan kebersamaan. Dalam demokrasi kita bisa berbeda pendapat, namun tidak berarti harus terpecah belah. Dalam demokrasi yang sehat, ada masanya kita berdebat, ada masanya kita merapatkan barisan.

Dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang kian berat, para pemimpin bangsa apa pun warna politiknya harus bisa terus menjaga kekompakan, mencari solusi bersama, dan sedia berkorban untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.

Oleh karena itu, dalam melanjutkan pembangunan bangsa yang tidak pernah sepi dari tantangan dan dalam melaksanakan reformasi gelombang kedua sepuluh tahun mendatang, marilah terus kita pupuk dan perkokoh persatuan dan kebersamaan kita.

Kunci sukses yang ketiga adalah kita harus menjaga jati diri kita, ke-Indonesia-an kita. Yang membedakan Bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain adalah budaya kita, “way of life” kita, dan ke-Indonesia-an kita. Ada identitas dan kepribadian yang membuat Bangsa Indonesia khas, unggul, dan tidak mudah goyah.

Ke-Indonesia-an kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinnekaan, kekeluargaan, kesantunan, toleransi, sikap moderat, keterbukaan, dan rasa kemanusiaan. Hal-hal inilah yang harus kita jaga, kita pupuk dan kita suburkan di hati sanubari kita dan di hati anak-anak kita. Inilah modal sosial dan potensi nasional yang paling berharga.

Hadirin yang saya muliakan, rakyat Indonesia yang saya banggakan, mengakhiri pidato ini saya mengajak segenap rakyat Indonesia untuk terus melangkah maju sebagai sebuah bangsa yang besar, rukun dan bersatu, bangsa yang senantiasa tegak dan tegar menghadapi tantangan berlandaskan empat pilar kehidupan bernegara, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, da Bhineka Tunggal Ika.

Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Kepada para tamu negara-negara sahabat di tengah-tengah kita, terimalah salam persahabatan Bangsa Indonesia.  Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia, saya juga akan mengambil bagian sebagaimana disampaikan oleh Bapak Taufiq Kiemas tadi untuk ikut mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Sultan Brunei Darussalam, Paduka Yang Mulia Sultan Hassanal Bolkiah, Presiden Timor Leste Yang Mulia Jose Ramos Horta, Perdana Menteri Singapura Yang Mulia Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Australia Yang Mulia Kevin Rudd, dan Perdana Menteri Malaysia Yang Mulia Datuk Sri Muhammad Najib Tun Haji Abdul Razak.

Saya juga mengucapkan selamat datang kepada utusan khusus dari Thailand, Republik Korea, Amerika Serikat, Republik Ceko, Srilanka, Selandia Baru, Jepang dan Filipina. Kedatangan sahabat-sahabat internasional dalam inagurasi hari ini merupakan simbol “goodwill” dan kehormatan yang tiada taranya bagi Bangsa Indonesia.

Kepada dunia internasional saya ingin menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjalankan politik bebas aktif dan akan terus berjuang untuk keadilan dan perdamaian dunia.

Indonesia akan mengobarkan nasionalisme yang sejuk, yang moderat dan yang penuh persahabatan, sekaligus mengusung internasionalisme yang dinamis. Indonesia kini menghadapi lingkungan strategis yang baru di mana tidak ada negara yang menganggap Indonesia musuh dan tidak ada negara yang dianggap Indonesia sebagai musuh. Dengan demikian, Indonesia kini dapat dengan leluasa menjalankan “all direction foreign policy”, di mana kita dapat mempunyai “a million friends and zero enemy”.

Indonesia akan bekerjasama dengan siapa pun yang memiliki niat dan tujuan sama, utamanya untuk membangun tatanan dunia yang damai, adil, demokratis, dan sejahtera.

Indonesia akan terus berada di garis depan dalam upaya untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik. Kami akan terus menjadi pelopor dalam upaya penyelamatan bumi dari perubahan iklim.  Dalam reformasi ekonomi dunia, utamanya melalui G20 dalam memperjuangkan Millenium Development Goals, dalam memajukan multilateralisme melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dalam mendorong tercapainya kerukunan antar peradaban, harmony among civilization.

Di tingkat kawasan, Indonesia akan terus berikhtiar bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya untuk mewujudkan komunitas ASEAN dan menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, sejahtera, dan dinamis.

Akhirnya kepada segenap rakyat Indonesia di mana pun saudara berada, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang saudara berikan kepada saya dan Prof Dr Boediono untuk melanjutkan kepemimpinan nasional lima tahun mendatang.

Mari kita lanjutkan kerja keras dan kerja cerdas kita guna mencapai prestasi pembangunan yang lebih baik lagi di masa depan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita dalam membangun bangsa dan negara menuju bangsa yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan.

Terima Kasih, Wassalaamu’alaikum Wr Wb.

Pidato yang disusun sendiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Periode 2009-2014 di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Kamis 20 Oktober 2009.

Honor Berlipat Kepala Lingkungan

PEMERINTAH Kota Manado akan menaikkan honor para kepala lingkungan sebesar 100 persen mulai tahun 2010. Naik dari Rp 750 ribu menjadi Rp 1,5 juta per bulan. Keputusan ini berkonsekuensi terhadap anggaran. Honor bagi 504 kepala lingkungan di 87 kelurahan se-Kota Manado akan menyedot Rp 756 juta per bulan atau Rp 9,072 miliar per tahun.

Kami sepakat dengan usulan yang dilontarkan Penjabat Wali Kota Manado Sinyo Harry Sarundajang, mengingat alasan yang dikemukakan masuk akal. Yakni peningkatan kesejahteraan dan alasan kemanusiaan. Kendati ukuran kesejahteraan masih debatable.

Harapan kita adalah, naiknya honor para kepala lingkungan harus berbanding lurus dengan kinerja mereka sebagai pelayan publik di lingkungannya masing-masing. Dengan begitu, masyarakat akan semakin terbantu menghadapi berbagai persoalan seperti lingkungan hidup yang kian bersih, rapi, asri, aman.
Mengapa para kepala lingkungan harus memikul beban sedemikian berat? Sebab, para kepala lingkungan kini memperoleh penghasilan yang berasal dari uang rakyat. Maka mereka harus pertanggungjawabkan itu melalui karya yang bermanfaat bagi masyarakat, sebagaimana tanggungjawab yang dituntut dari aparat pemerintahan lainnya.

Bukankah pemerintah sudah punya banyak perangkat yang dibiayai (digaji) oleh negara? Misalnya urusan kebersihan sudah ada petugas kebersihan, polisi untuk menjamin keamanan, Satpol PP untuk ketertiban umum, para pegawai negeri sipil (PNS) untuk pelayanan administratif, dan sebagainya. Bahkan sudah ada perangkat pemerintahan terendah , yakni Ketua RW/RT, yang sesuai UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah,

Pertanyaan lagi, apakah betul selama ini para kepala lingkungan di tiap-tiap kelurahan telah menjadi ujung tombak pemerintahan?  Bila memang kita membutuhkan kepala lingkungan lantaran (katanya) peran mereka terbukti berhasil sebagai ujung tombak pemerintahan, maka kini mereka dituntut bekerja lebih berat agar sesuai dengan upah yang diterima. Jadi, kenaikan honor 100 persen tidak sekadar membebani anggaran, melainkan memberikan manfaat lebih besar terhadap makin baiknya pelayanan publik.

Ke depan, kepala lingkungan harus paling tahu permasalahan yang ada di masyarakat dan benar-benar menjadi ujung tombak pemerintah dalam penyelesaian persoalan yang timbul. Jangan sampai justru kepala lingkungan tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi masyarakatnya lantaran dia memiliki jabatan rangkap (misalnya dia ternyata juga seorang pegawai negeri sipil, anggota TNI, polisi, dan sebagainya). Atau dia juga seorang pengusaha yang sebagian besar waktunya habis untuk pekerjaan pokoknya.

Nah, dengan adanya penghargaan berupa kenaikan honor, maka harus ada pula semacam punishment (hukuman), sebagaimana terhadap para PNS atau aparat pemerintahan lainnya ketika tidak menjalankan tugas dengan baik.  Atas dasar itu, kita memerlukan semacam job description yang jelas dan tegas mengenai tugas dan tanggungjawab kepala lingkungan. Sebab, jabatan ini tidak diatur dalam UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. (*)