SEMALAM saya nggak bisa tidur. Daripada bengong, saya mengirim sms ke kawan2 wartawan maupun redaktur mengenai apa saja yang terlintas di kepalaku menyangkut pemberitaan. Hingga pukul 4 pagi, rasa kantuk yang sangat kuharapkan itu nggak datang juga.
Akhirnya, iseng-iseng aku nonton televisi, RCTI. Kebetulan sinetron Si Eneng dan Kaus Kaki Ajaib sedang ditayangkan. Sekitar pkl 5 subuh. Saya nggak memerhatikan judul episodenya, namun sinetron itu menceritakan mengenai Si Eneng yang mengeluarkan kaleng kerupuk dari tebasan kaus kaki ajaibnya.
Nah, kaleng kerupuk ajaib itu ternyata bisa mengirimkan surat (ketika itu kartu Lebaran) ke alamat manapun secara instan. Surat yang dikirim bisa sampai saat itu juga. Bahkan orang yang dikirimi surat bisa dilihat di sisi kaleng yang menggunakan kaca.
Si Cecep dan kawan-kawannya mengintip aktivitas Si Eneng mengirimkan surat melalui kaleng kerupuk di di kelasnya. Lantas muncul ide di kepala si Cecep untuk memanfaatkan kaleng kerupuk itu untuk kepentingan dirinya maupun untuk mempermainkan orang lain. Cecep adalah bocah laki-laki, teman Si Eneng, yang badungnya minta ampun.
Melihat adegan itu, saya jadi teringat Doraemon. Kebetulan saya adalah penggemar film kartun impor dari Jepang itu. Otomatis terlintas di benak saya, kok cerita sinetron Si Eneng mirip banget ya dengan Doraemon.
Si Eneng dan kaus kaki ajaibnya mirip Doraemon dengan kantong ajaibnya. Sementara kelakuan Si Cecep mirip banget dengan kelakuan Nobita. Kendati keduanya tidak tinggal di satu rumah sebagaimana Doraemon dan Nobita.
Saya memang belum pernah menonton episode lain dari sinetron Si Eneng, kecuali melihat cuplikan iklannya di chanel televisi yang sama. Tapi menurutku, Si Eneng adalah hasil jiplakan dari film kartun Doraemon. Kalo gak percaya, coba kawan2 saksikan sinetron Si Eneng itu dan bandingkan sendiri dengan film Doraemon. (mudah2-an saya salah).
Kalau melihat sinetron Si Eneng, tampaknya ingin menggambarkan kehidupan orang-orang kampung yang polos dan bersahaja. Tapi karena menjiplak ide cerita dari luar negeri hanya dengan sedikit modifikasi, hasilnya nyaris nggak menggambarkan realitas dalam masyarakat ‘tradisional’ kita.
Menurut pandangan pribadi saya, kebanyakan sinetron kita memang tidak melalui hasil riset yang memadai terhadap budaya local kita. Bahkan mungkin tanpa melalui riset sama sekali. Akibatnya, sinetron yang diproduksi menjadi tidak sesuai dengan kebiasaan anak-anak di kampung-kampung. Padahal, jika melalui riset, saya yakin kita bisa menghasilkan karya-karya dengan muatan local yang kental dan lebih mendidik. Sebab, kita bisa lebih mengenal budaya kita yang beragam melalui tontonan yang menarik, dari hasil karya yang orisinil.
Mungkin para produsen sinetron di Indonesia perlu banyak berdiskusi dengan Deddy Mizwar. Karena menurut saya, pria yang satu ini mampu menghasilkan karya-karya sinetron yang lebih orisinil. Hasilnya pun lebih pas dengan realitas dalam masyarakat kita. Lagipula dengan menonton sinetron (dan film) yang dikerjakan Deddy Mizwar, kita bisa memperoleh tambahan ilmu. Cara penyampaiannya pun tidak dengan menggurui tapi wajar dan bermanfaat. Saya yakin Deddy mengerjakan karyanya setelah melalui riset yang memadai.(*)
Sinetron Si Eneng Mirip Doraemon
October 5, 2007 by eddymesakh












