KATA “Korupsi” berasal dari bahasa Latin “corruptio”. Selama ini kita tahu bahwa korupsi berhubungan dengan kekuasaan atau penyalahgunaan kekuasaan. Ini mengacu kepada pendapat Lord Acton, melalui suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 3 April 1987 yang berbunyi, “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”.
Pengertian umum korupsi adalah penyalahgunaan jabatan atau kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi. Tapi bagaimana dengan tindakan koruptif yang ternyata sudah tumbuh subur sampai ke masyarakat biasa di kalangan bawah? Ternyata hal ini sudah jauh-jauh hari dipaparkan oleh filsuf kondang Aristoteles, bahwa korupsi secara semantis, masih jauh dari kata kekuasaan apalagi uang (Korupsi Kemanusiaan, Menafsirkan Korupsi (dalam) Masyarakat, Mei 2006).
Dan contoh itu baru saja saya lihat sendiri ketika akan berangkat ke kantor pagi ini, Selasa (17/6/2008). Kebetulan di depan rumah saya ada pangkalan minyak tanah. Hari ini akan datang mobil tangki yang mendistribusikan minyak tanah ke pangkalan itu. Sejak subuh, banyak ibu-ibu sudah datang menaruh jerikennya dalam barisan antrean yang dikaitkan ke tali plastik. Artinya, orang yang tiba duluan, posisi jerikennya pasti ada di barisan paling depan.
Karena semua jeriken dalam barisan itu dikaitkan pada tali, maka ibu-ibu itu merasa yakin posisi jerikennya tak akan dipindah. Karena orang yang datang belakangan, diyakini akan menaruh jerikennya di barisan paling belakang. Jadi, setelah menaruh jerikennya di antrian, mereka langsung pulang untuk melanjutkan pekerjaan di rumahnya masing-masing.
Dari depan rumah saya memerhatikan ibu-ibu yang datang dan pergi setelah menaruh jerikennya. Pintu Rumah pemilik pangkalan masih terkunci rapat. Tapi barisan jeriken sudah mengular kira-kira 15 atau 20 meter. Ada sekitar 30 atau 40 jeriken dalam barisan itu.
Lalu, kira-kira 2 atau 3 menit setelah ibu yang terakhir pergi, datanglah seorang pria, kira-kira berumur 40 tahun. Celingak-celinguk, lihat kiri-kanan… ternyata sepi. Merasa yakin tidak ada yang memerhatikan dirinya, pria ini membuka ikatan tali di bagian depan, yang diikatkan ke pagar rumah pemilik pangkalan, lalu menaruh jerikennya di urutan nomor 1…! Dia baru tiba pukul 07.30 pagi, tapi jerikennya ditaruh di urutan pertama, mengalahkan ibu-ibu yang susah-susah datang sejak pukul 05.00 atau 06.00 pagi.
Setelah itu, si pria duduk di seberang jalan, tak jauh dari barisan jeriken itu. Mengeluarkan rokok dari kantongnya dan dengan santainya menghembuskan asap rokok sambil menatap barisan panjang jeriken di depannya. Dia tampak begitu puas pada “hasil karyanya” pagi itu.
Mungkin pria itu tidak sadar bahwa dirinya telah melakukan korupsi. Kendati tidak memiliki kekuasaan, juga tidak menikmati uang dari hasil tindakannya. Namun perilakunya jelas sebuah perilaku koruptif. Jelas dia telah merampas hak orang lain yang telah melakukan upaya lebih dibandingkan dirinya. Orang yang berusaha bangun lebih pagi supaya berada di urutan depan, menjadi sia-sia karena harus tergusur oleh ulah pria ini.
Kesimpulan saya, korupsi ternyata tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan saja. Mungkin pria itu menyadari bahwa dirinya telah melakukan kecurangan, namun kemungkinan dirinya tidak sadar telah melakukan tindakan koruptif. Dia tidak sadar kalau dirinya juga adalah seorang koruptor! (*)













SEBETULNYA PAK DAN PASNYA ALLOH LAH YANG PUNYA
MAU KOROPTOR + mau koropsi
cemua akan di pertanggung jawabkan di akhir kelak mau besar mau kecil perbuatan itu di lakukan .
Awali cemuanya dari diri kita sendiri……..
………………………………………
……………………………………….
Marilah kita cemua menjaga 2 syahwat yang kita punyai insyalloh kita bisa mengurangi keserakahan kita di dunia ini …
salam …..
hal yg sangat sering t’jd,dlm hal blt jg bnyk yg bgt,hny agr anggta klrga/sdra/tmn/famili jg dpt jth blt,ada yg tega mencuri jatah blt org lain yg jls2 jauh lbh pny hak&membthknnya.pndidikan moral&akhlaq memang hal yg sngt pntg&dibthkn d negri kt ini!!!