* 17 Tahun Noorsyaidah Derita Penyakit Aneh
Penderitaan itu dimulai tahun 1991, ketika Noorsyaidah menginjak usia 22 tahun. Saat itu, perempuan kelahiran 9 Januari 1969 ini berhasrat menikah. Namun entah dari mana, puluhan kawat bersarang dalam tubuhnya. Sejak itu dia menutup diri terhadap laki-laki karena minder, hingga usianya menginjak 40 tahun.
KENDATI menderita penyakit aneh, anak kelima dari enam bersaudara ini tetap tabah. Dia sering mendapat motivasi dari saudara maupun teman-teman dekatnya. Noor tetap menjalankan aktivitas sebagai guru di TK Al-Quran Sangatta, Kutai Timur.
“Noor memang sangat suka pada anak-anak. Anak-anak yang diajarinya pun sangat suka padanya. Jadi kalau sehari atau dua hari saja dia tak masuk mengajar, anak-anak yang diajarinya itu menangis. Meminta hanya dia yang mengajari mereka,” tutur Hj Siti Robiah, kakak kandung Noor.
Menurut Robiah, Nor memiliki prinsip tak mau menyusahkan orang lain. Ia tak mau menjadi beban keluarga. Robiah mengaku tak sanggup menahan airmata, melihat penderitaan adiknya. “Kalau Allah SWT memang menghendaki untuk mengambilnya saat ini, kami sangat ikhlas, daripada melihat penderitaan yang harus dirasakannya selama puluhan tahun,” ujar Robiah.
Hal yang mengherankan, sistem pencernaan Noor tidak terganggu kendati di dalam tubuhnya terdapat banyak kawat berujung tajam. Dia bisa makan, minum, dan buang hajat layaknya manusia normal. Selama ini dia bisa mandi sendiri tanpa harus dibantu orang lain. “Seperti mandi biasa, pakai sabun dan shampo, dan dia melakukannya sendiri. Tapi kalau urusan asmara tadi memang sangat sulit untuk diceritakan, yang jelas dan untuk diketahui memang adik saya belum memiliki suami,” ujar Robiah.
“Saya sebagai perempuan normal tentu mau menikah dan punya anak. Tapi yah… karena penyakit aneh saya inilah membuat saya merasa tak memikirkannya lagi, dan lebih baik fokus bagaimana menjalani hidup saya selanjutnya,” ujar Noor penuh ketabahan.
Direktur Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda, dr Ajie Syirafuddin MMR mengaku sangat sulit menjelaskan jenis penyakit yang diderita Noor. Penyakit ini tidak pernah ada dalam ilmu kedokteran mana pun.
“Memang sangat sulit disebutkan namanya dalam perspektif medis. Untuk perkiraan bahwa penyakit yang diderita Ibu Noor itu bisa saja disebut sejenis larva migran atau seperti ada cacing-cacing yang bermunculan di badan seseorang. Tapi itu juga terbantahkan karena yang tumbuh itu adalah benda keras. Apalagi jenisnya adalah besi kawat,” kata dr Ajie.
Sungguh mengherankan Noor bisa bertahan selama 17 tahun dengan puluhan atau bahkan ratusan kawat bersarang di dalam tubuhnya tanpa menimbulkan efek samping. Padahal, secara medis besi yang ditanamkan di tubuh seseorang dan tidak menimbulkan efek samping hanya jenis platina. Sedangkan besi lainnya tak perlu menunggu waktu lama untuk menimbulkan infeksi.
“Makanya untuk sementara ini juga, dalam pandangan ilmu kedokteran besi-besi kawat itu sudah beradaptasi dengan tubuh Ibu Noor sehingga tak berpengaruh dengan kondisi fisiknya. Seperti halnya penyakit larva migran yang saya sebutkan tadi adalah hasil adaptasi molekul-molekul di tubuh seseorang yang akhirnya berakibat pada munculnya cacing-cacing,” ujarnya menjelaskan.
Kawat asli
Dokter Ajie menduga kawat-kawat itu sudah beradaptasi dengan tubuh Noor sehingga tak terlalu membahayakan. Selain itu, dari hasil literatur sementara, kawat-kawat itu hanya tumbuh di kulit biasa, bukan di bagian vital.
“Vital yang dimaksudkan adalah misalnya tumbuhnya tepat di jantung. Kalau sudah seperti itu, maka sangat membahayakan dan perlu cepat mendapat perawatan medis. Tapi memang sekali lagi, saya sebagai seorang dokter merasa heran besi kawat yang mudah berkarat itu tumbuh dan kondisi fisik Ibu Noor tak apa-apa, dan sistem pencernaan juga lancar,” katanya.
Dokter Ajie sudah bertemu langsung dengan Noor di kediamannya, Jl Merdeka III, Samarinda Ilir pada 9 Juli lalu. “Semula saya memang tidak percaya sama sekali ada besi kawat yang bisa menancap di tubuh seseorang, apalagi bertahan hingga 17 tahun. Tapi setelah melihatnya langsung, sungguh luar biasa dan di luar kemampuan saya sebagai seorang dokter untuk memahaminya,” kata dokter Ajie heran setelah Noor memperlihatkan bagian perutnya yang ditumbuhi kawat itu kepadanya.
Dokter Ajie bahkan sempat memegangi perut Noor untuk memastikan bahwa kawat yang tumbuh itu benar-benar timbul dari dalam, bukan rekaan.
“Ini memang kawat asli, bukan kawat bentukan. Bahkan ternyata tidak hanya yang muncul di luar saja, tapi setelah saya periksa di dalam perut Ibu Noor juga ada kawat-kawatnya. Luar biasa dan di luar jangkauan ilmu medis ini namanya,” ujar dokter Ajie.
Dia lantas mengambil contoh kawat untuk diteliti di laboratorium RSU AW Syahrani. “Jadi selain menyediakan ruangan dan pelayanan khusus buat Ibu Noor, kami juga akan menguji laboratorium kawat-kawat yang tumbuh di perut Ibu Noor itu. Kita tunggu saja dalam dua atau tiga hari ini, mudah-mudahan sudah ada hasil dari uji lab itu,”ujarnya.
Hasil uji laboratorium keluar Jumat (11/7). Hasilnya, tim dokter dari RSU AW Syahranie menegaskan bahwa kawat-kawat itu memang asli. Bukan hasil kimiawi yang kemudian tumbuh di tubuh Noor. Kawat itu persis sama dengan kawat yang digunakan untuk mengikat besi cor berukuran besar.
Padahal, sebelum uji lab, dr Ajie mengaku masih meragukan keaslian kawat-kawat itu. “Secara kasatmata, setelah saya pegang dan ambil satu kawatnya memang kawat asli. Ditambah hasil uji laboratorium kami, memang tak terbantahkan bahwa kawat-kawat itu memang asli,” kata dr Ajie.
Secara medis, seharusnya kawat asli dan mudah berkarat itu akan membuat Noor tak berumur panjang karena berakibat infeksi. Namun, karena Noor mampu bertahan hingga lebih dari 17 tahun, menurut dr Ajie, maka hal itu secara medis memang luar biasa.
“Ini yang tak bisa kami bayangkan dan habis pikir. Memang dari pengakuan Noor bahwa perutnya bisa mengeluarkan nanah atau darah, tapi ternyata kondisi dia tetap fit sampai sekarang. Ketidakstabilan kondisinya paling hanya terjadi ketika dia terbawa emosi mengalami penyakit yang tak bisa tersembuhkan hingga saat ini,” terangnya.
Apakah selanjutnya tetap akan berakibat negatif buat Noor? dr Ajie belum berani memastikannya karena tim dokter RSU AWS masih mengumpulkan data-data. (persda network/muh chaidir/yat/bdu)
*) Semua tulisan tentang Noorsyaidah telah terbit di Tribun Batam edisi cetak maupun online













iya kasian jg tuh.. ada blogger yang bilang noor kena santet
hah?
kawat… tumbuh??!
Salam
Saya baru tahu, sangat heeran juga , tapi yang jelas ikut berempati atas penderitaannya.
Tulisan tentang Noor berasal dari Tribun Kaltim
————–
Betul sekali. Dan Tribun Kaltim sama Tribun Batam itu satu grup, yakni Persda Network di bawah Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Saya memuat di blog ini pun diambil dari Tribun Batam dan telah saya cantumkan sumbernya di bagian paling bawah dari setiap tulisan tentang Noorsyaidah. Kebetulan saya redaktur di Tribun Batam sehingga saya muat di blog ini agar yg tidak sempat membaca di Tribun, bisa juga baca di sini.