
Mari Pangestu dan Fahmi Idris
KRISIS global tidak saja menyebabkan perekonomian negara-negara di dunia berantakan. Kini malah berimbas ke hubungan antar para pejabat. Di Indonesia, dua menteri Kabinet Indonesia Bersatu, malah tidak bersatu.
Hubungan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris memanas. Fahmi membuat pernyataan dan kemudian berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah akan membuat Surat Keputusan Bersama (SKB) Cinta Produk Indonesia yang akan ditandatangani oleh 8 menteri dan segera diterbitkan dalam bulan Februari 2009.
Saat pertama kali melontarkan isu itu, hari Minggu lalu, Fahmi bilang, para pegawai negeri sipil (PNS) akan diwajibkan mengenakan produk buatan Indonesia. Jika melawan, mereka bakal dikenai sanksi yang akan diatur oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Taufik Effendi. Dua hari berselang, Fahmi kembali menegaskan soal rencana penerbitan SKB tersebut. Dijelaskan bahwa SKB itu merupakan penjabaran Inpres No 2 tahun 2009 tentang penggunaan produk dalam negeri.
Peraturan berbau proteksionisme (melindungi pasar dalam negeri) itu tentu bertentangan dengan aturan World Trade Organization (WTO) yang menghendaki pasar bebas tanpa memandang batas negara. Apalagi dalam pertemuan para Menteri Keuangan negara-negara industri maju G7 (Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Prancis, Italia, Inggris, dan Kanada) di Roma, Italia, hari Minggu lalu, bersepakat tidak akan menerapkan aturan bersifat proteksionisme atau menolak mengubah sistem perdagangan bebas.
Atas dasar tidak mau melanggar aturan WTO itulah Mari Pangestu membantah pernyataan Fahmi Idris mengenai SKB Cinta Produk Indonesia. Mari malah menuding media massa salah mengutip pernyataan Fahmi. “Saya tidak putuskan apa-apa, itu salah beritanya di koran. Tidak ada SKB,”ujar Mari. “Kami mengimbau untuk program aku cinta produk Indonesia, bukan sesuatu yang dipaksakan dan jelas tidak bisa dipaksakan,” imbuh dia.
Fahmi pun berang (bahkan terkesan emosi) karena merasa pernyataannya dibantah oleh koleganya sendiri, sesama menteri. Dalam perspektif Fahmi, saat ini banyak negara di seluruh dunia melakukan proteksi terhadap pasar dalam negeri mereka. Mengapa Indonesia tidak boleh melakukan hal serupa?
Dia mencontohkan AS yang membuat slogan “Buy America”, yakni kewajiban penggunaan produk buatan AS bagi proyek publik AS yang menggunakan dana paket stimulus sebesar 787 miliar dolar AS. Namun, dalam pertemuan G7, Menteri Keuangan AS Tim Geithner meyakinkan para menteri negara G7 bahwa paket stimulus ekonomi tersebut tidak akan mengubah komitmen AS terhadap sistem ekonomi pasar bebas.
Tapi Fahmi tetap berpendapat bahwa AS selaku motor WTO sejak puluhan tahun lalu, tetap melakukan praktik proteksionisme di saat krisis hebat melanda. Hal serupa juga ditempuh Jepang dan Singapura. Sehingga dia menilai ada yang salah dengan pola berpikir di Indonesia yang sangat mengharamkan hal itu. Menurut logika Fahmi, sudah semestinya pemerintah melindungi rakyatnya, keluarganya sendiri dari krisis, kemudian baru memikirkan tetangga. Bukan sebaliknya.
Perseteruan kedua menteri merembes ke bawah. Pejabat eselon 1 di Departemen Perdagangan mendesak pejabat eselon 1 di Departemen Perindustrian untuk mencabut pernyataan mengenai proteksionisme yang tengah dilakukan oleh Indonesia. Ini membuat Fahmi semakin berang, karena merasa wewenangnya diserobot oleh departemen lain. Dengan tegas Fahmi memerintahkan anak buahnya untuk tunduk kepada dirinya, bukan kepada departemen lain.
Ternyata, krisis ekonomi global pun mampu merusak kekompakan Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan SBY-JK. Nah….(*)
Filed under: Dokumentasi, Ekonomi Tagged: | Fahmi Idris, Kabinet Indonesia Bersatu, Krisis global, Mari Pangestu, Proteksi, WTO

















