DALAM diskusi terbatas mengenai persoalan ekonomi di Sulawesi Utara bersama para pelaku ekonomi yang digelar Tribun Manado, Rabu (12/8), terungkap banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama guna mewujudkan cita-cita Sulut sebagai gerbang Pasifik.
Persoalan attitude (sikap) sumber daya manusia (SDM) paling mengemuka di samping persoalan lainnya, dalam diskusi bertajuk “Menjadikan Sulut Gerbang Pasifik” tersebut. Pimpinan Bank Indonesia Manado, Jeffrey Kairupan dan Peneliti Senior Komunitas Peneliti Garuda (KPG) Yogyakarta, Max Wilar, mengungkapkan betapa SDM kita tidak siap untuk maju dan memajukan daerah ini.
Jeffrey menuturkan pengalamannya mempekerjakan orang lokal Sulut dan mendapati kinerja yang sangat lamban untuk hal-hal sederhana yang semestinya beres dalam beberapa jam, tapi tak selesai sampai seminggu. Max Wilar mengambil contoh peristiwa Restorasi Meiji (1866-1869) di Jepang.
Contoh yang dipaparkan Max Wilar kiranya dapat menjadi pelajaran dan bahan renungan sangat berharga bagi kita bila benar-benar ingin maju. Bahkan kehidupan ini tidak mungkin bertahan tanpa adanya perubahan. Bahwa tanpa perubahan sikap, kita tidak akan mampu bersaing dengan siapa pun dalam perkembangan zaman yang kian pesat dan dunia yang semakin tanpa batas.
Konteks masyarakat Sulut sangat unik. Dari segi human development index (HDI), masyarakat Sulut terbilang sangat berpendidikan. Kita hanya kalah dari DKI Jakarta yang notabene ibukota negeri ini. Masyarakat Sulut bahkan lebih terpelajar dibanding daerah-daerah maju lainnya, seperti Surabaya, Bandung, dan Bali yang sudah jauh lebih maju.
Jepang sangat karut marut dan terpuruk dalam berbagai segi kehidupan di era sebelum Restorasi Meiji (Meiji Ishin). Lalu mereka bangkit dengan melakukan perombakan besar-besaran. Mereformasi pendidikan secara menyeluruh yang disesuaikan dengan dunia Barat yang sudah duluan maju. Hasilnya, mata dunia terbelalak melihat bangsa Jepang setelah itu. Jepang berubah menjadi bangsa yang luar biasa maju dari segi kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam jangka waktu sekitar 30 tahun, Jepang melakukan lompatan dari negara terisolasi, terbelakang, dan tradisional, menjadi negara maju yang sangat kompetitif. Dan kini negeri Sakura menjadi begitu kaya raya dan terkenal sebagai negara industri maju, setara dengan Amerika Serikat dan Eropa. Hampir kita semua sudah akrab dengan produk-produk industri Jepang seperti merek-merek Toyota, Suzuki, Honda, Sony, dan banyak lagi.
Masyarakat Sulut sebenarnya memiliki kemiripan dengan Jepang dari segi human development index (HDI) indeks pembangunan manusia (IPM). Artinya masyarakatnya sangat terpelajar karena mayoritas telah mengecap pendidikan. Tak hanya itu, lulusan S1, S2, bahkan doktor dan profesor melimpah di daerah ini, karena adanya begitu banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Lalu bagaimana sikap kita agar bisa maju guna mewujudkan Sulut sebagai gerbang Pasifik? Tidak ada pilihan lain, kecuali mengubah sikap kita. Meninggalkan sikap pemalas, membuang etos kerja yang rendah, tidak lagi menjadi pekerja “RMS” atau rajin malas sama saja.
Mari kita belajar dari “resep rahasia” sukses bangsa Jepang. Meniru mental Bushido atau jalan hidup samurai bangsa Jepang, yakni kerja keras, jujur, hormat pada pemimpin, tidak individualistis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati, dan harus tahu malu. Jika tidak, kita akan tertinggal dan terus tertinggal sampai peradaban ini usai.(*)
Filed under: Budaya, Ekonomi, Kehidupan, Perilaku, hanya cerita biasa | Tagged: Bushido, human development index, Jepang, Manusia, SDM, Sulut

















