HEIN Kaseke, seorang konduktor atau dirigen tunanetra akan memukau publik saat memimpin pagelaran musik secara massal di Stadion Maesa Tondano dalam acara pemecahan Guinness World Records (GWR). Juri GWR dari Inggris sudah memastikan hadir.

Konduktor tunanetra, Hein Kaseke, saat memimpin pagelaran musik kolintang secara massal di Tondano. (Foto:Danny Permana)
MATA dunia kembali akan tertuju ke Sulawesi Utara (Sulut), khususnya Minahasa. Sabtu (31/10/2009), Sulut kembali mencatat sejarah dengan mencetak rekor dunia melalui pagelaran musik secara massal yang diikuti 3.600 pemain musik bambu dan 1.050 pemain kolintang di Stadion Maesa Tondano.
Ribuan pemusik itu akan mendendangkan sejumlah tembang lagu tradisional Minahasa. Jumlah pemusik sebanyak itu adalah yang pertama dilakukan di seluruh dunia. Selain menampilkan pagelaran musik massal, juga akan ada terompet dan kolintang raksasa akan dimainkan bersama ribuan musisi musik tradisional.
Wajarlah jika Lucia Sinigagliesi telah menyatakan kesiapannya untuk hadir dan menyerahkan piagam GWR pada puncak acara tersebut. Lucia adalah juri yang datang ke Manado ketika pemecahan rekor dunia penyelaman massal dan upacara dalam laut yang digelar dalam rangka Sail Bunaken, pertengahan Agustus silam.
“Miss Lucia sejak beberapa bulan lalu telah menyatakan kesiapannya untuk hadir. Bahkan dirinya akan tiba di Manado hari ini (kemarin). Ini adalah kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Kombes Polisi Dr Benny Mamoto SH MSi kepada Tribun Manado melalui saluran telepon, Kamis (29/10/2009).
Jelang pelaksanaan acara puncak pemecahan rekor GWR, persiapan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBS) yang menjadi pelaksanan utama pesta musik tradisional tersebut telah mencapai 99 persen. Semua hal menyangkut persiapan teknis dan kelengkapan lainnya hampir mendekati sempurna. Alat musik bambu dan kolintang terbesar di dunia saat ini telah berada di Stadion Maesa dan siap digunakan.
Mamoto menjelaskan, semua pihak seperti panitia pelaksana dan peserta telah bekerja keras untuk mensukseskan acara ini. Walau kelelahan karena terpaksa memangkas waktu istirahatnya, semangat para pencinta kebudayaan Minahasa terus berkobar untuk satu tujuan, yaitu membuka mata dunia bahwa kebudayaan musik tradisional Minahasa adalah sesuatu yang indah. Para peserta pagelaran musik bambu dan kolintang juga tidak tinggal diam. Berbekal partitur lagu daerah yang telah dibagikan, mereka terus berlatih di daerah mereka masing-masing.
“Gladi bersih akan dilaksanakan besok di Stadion Maesa Tondano. Ada beberapa lagu yang akan dimainkan oleh kelompok musik kolintang, seperti Aki Tembo-temboan dan Minahasa Kinotoanku. Sedangkan untuk kelompok musik bambu, mereka akan memainkan lagu Si Lili Ni Mamana dan mars Baku Dapa,” ujar pria yang baru saja dipromosikan menjadi Brigjen Polisi ini.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada empat rekor dunia yang akan dipecahkan, yaitu alat musik terompet klarinet terbesar, alat musik kolintang terbesar, pagelaran musik bambu terbanyak, serta pagelaran musik kolintang terbanyak.
Konduktor tunanetra
Pada kesempatan yang sama, juga akan ada penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Hein Kaseke sebagai konduktor tunanetra pertama yang memimpin paduan musik massal.
Mamoto menjelaskan, penampilan Hein layak menjadi perhatian dalam pagelaran musik massal tersebut. Walaupun tidak bisa melihat (buta), Hein tetap memiliki hasrat dan semangat untuk mewujudkan sebuah prestasi berskala internasional.
“Walau Hein Kaseke adalah seorang tunanetra, tapi kami melihat dedikasi dan perjuangannya dalam memajukan musik daerah sangat besar. Dia adalah pejuang musik tradisional, sehingga layaklah jika dirinya diberikan kepercayaan untuk memimpin pagelaran musik tradisional terakbar di dunia ini,” tambah Mamoto.
Hein kehilangan penglihatan sejak tahun 1980. Pria kelahiran Tousuraya 10 Desember 1947, ini sangat mencintai alat musik bambu. Dia telah menggeluti alat musik bambu sejak tahun 1967. Hein telah menghasilkan sejumlah album musik yang dimainkan dengan alat musik tradisional.(sumber:Tribun Manado)
Filed under: Budaya, Dokumentasi | Tagged: Kolintang, Musik, Musik bambu, Rekor Dunia, Tunanetra


















memang kekuasaanNYA yang menjadikan itu semua memang unik tapi ya memang itu terjadi dan selamat juga buat minahasa, sumut