Polisi Izinkan Ryan-Noval Bercinta

* Ulahnya Bikin Jengkel Petugas

AWALNYA ditolak, namun akhirnya polisi memenuhi permintaan Verry Idham Henyansah alias Ryan (30) untuk bermesraan dan bercinta dengan kekasihnya, Noval Andreas.

Saat pemeriksaan hari pertama menggunakan alat pendeteksi kebohongan (lie detector) di Gedung Labfor Cabang Surabaya, Senin 4 Agustus 2008, polisi menolak permintaan Ryan untuk menyalurkan hasrat biologisnya bersama Noval.

Pada pemeriksaan hari kedua, Selasa 5 Agustus 2008, yang dimulai pukul 09.00 WIB, tersangka pembunuh berantai terhadap 11 orang itu mengaku tak nyaman dan kurang rileks karena kangen pada Noval. Dari 30 pertanyaan yang disiapkan petugas, dia hanya menjawab 10 pertanyaan.

Pemeriksaan akhirnya ditunda beberapa kali. Penyidik yang terus memanjakan Ryan kemudian mempertemukannya dengan Noval yang ada di ruang penyidik Satpidum Ditreskrim Polda Jatim. Alasan Ryan kangen kepada Noval itu terkesan dibuat-buat dan membuat jengkel petugas. Sebab, saat jeda pemeriksaan untuk makan siang, Ryan telah dipertemukan dengan Noval untuk melepas kangennya.

Kepala Labfor Cabang Surabaya Kombespol Bambang Wahyu Suprapto menjelaskan, untuk pemeriksaan dengan alat lie detector itu, kondisi orang yang diperiksa harus benar-benar rileks. Kita tidak bisa melanjutkan pemeriksaan jika yang bersangkutan merasa lelah dan tegang,” ujar Bambang Wahyu.

Namun semua itu agaknya pertemuan dengan Noval masih belum lengkap. Ryan juga ingin kebutuhan biologisnya dipenuhi. Akhirnya, pada malam harinya, pasangan sejenis itu dipertemukan lagi di ruang Kasat Pidum I Direskrim Polda Jatim.

Menurut sumber Surya (grup Tribun) di Mapolda Jatim, dalam ruangan itulah dua lelaki berpostur tinggi besar itu tanpa malu-malu langsung bermesraan.

Berbagai adegan layaknya sepasang kekasih yang sedang berahi dilakukan di hadapan penyidik. Bahkan, keduanya nyaris berhubungan badan. Keduanya tidak malu meski ada orang lain di ruangan itu,” ujar polisi tersebut. “Ya seperti orang laki-laki dan perempuan saja. Mereka melakukannya sampai puas. Bahkan keduanya suka mandi bersama,” imbuh dia.

Adegan bermesraan pasangan homoseksual itu berlangsung cukup lama. Mulai dari berpegang-pegangan, saling elus, hingga berciuman. Perbuatan ini dilakukan di atas sofa ruang Kasat Pidum AKBP Susanto. Kelihatannya mereka mencapai titik kepuasan. Setelah itu keduanya baru merasa malu karena dilihat banyak orang,” ujar sumber itu.

Memang, selama menjalani pemeriksaan di Polda Jatim, ada saja permintaan yang diajukan pria gay ini. Soal makanan misalnya, Ryan meminta disediakan sop buntut dan jus durian. Ryan dan Noval pun tidak lagi ditahan dalam sel terpisah. Keduanya selalu bersama dalam ruang penyidik. “Kalau dimasukkan ke sel dikhawatirkan Ryan akan bunuh diri,” kata seorang polisi.

Uji kebohongan

Selain Ryan, pemeriksaan dengan menggunakan lie detector juga dilakukan terhadap Akhmad Sadikun, ayah Ryan. Sekitar pukul 15.09 atau 10 menit setelah Ryan dibawa kembali ke Gedung Labfor, Akhmad Sadikun digelandang keluar oleh petugas. Wajahnya terlihat kusut. Meski dicecar pertanyaan oleh wartawan yang telah menunggunya di depan Gedung Labfor, mulut suami Kasiyatun ini terkunci rapat.

Ibu Ryan juga bakal diuji menggunakan lie detector. Kepala Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya Kombes Pol Bambang Wahyu Suprapto mengatakan, keduanya akan menjalani uji kebohongan secara terpisah. “Ya gantian. Mungkin ayahnya dulu yang akan kita uji,” jelasnya.

Siyatun tampak mengenakan baju batik warna merah motif bunga berjilbab hitam. Sedangkan Ahmad mengenakan kemeja warna cokelat. Mereka berjalan kaki dan dikawal 6 petugas dari Sat Pidum Ditreskrim Polda Jatim ke gedung Labfor.

Ryan dan Noval telah dibawa kembali ke Polda Metro Jaya, Jakarta. Mereka dibawa menggunakan mobil terpisah. Ryan menumpang Toyota Kijang Innova warna silver nopol B 8360 GK sementara Noval dengan mobil van Suzuki hitam nopol B 1877 NS. Mereka tiba di ruang tahanan narkoba Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (6/8 ) sekitar pukul 13.30.

Ryan mengenakan kaus hitam dan celana pendek jins. Sedangkan Noval mengenakan kaus bergaris dan celana panjang. Dengan tangan terborgol, keduanya digiring petugas ke rutan. Wajah Ryan tampak tenang. Sementara Noval yang juga diborgol tetap berusaha menutupi wajahnya dengan topi.

Ryan telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap 11 orang. Jagal asal Jombang ini dijerat pasal hukuman mati, yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Ia juga dijerat pasal 338 mengenai pembunuhan biasa dan pasal 365 mengenai pencurian dengan kekerasan.(persda network/tja/st8 )

Ryan Menyukai Seorang Polwan

SIKAP manja Verry Idam Henyansyah alias Ryan (30) semakin menjadi-jadi, karena kini tak hanya Noval Andreas yang menjadi tambatan hatinya. Setelah beberapa hari diboyong ke Polda Jatim, Ryan mulai kesengsem pada seorang anggota Polwan dari Satpidum Ditreskrim.

Polwan yang sudah dianggap seperti ibu kandung itu, selama ini menjadi tempat curhat keduanya. “Ryan maupun Noval sama saja manjanya (terhadap sang polwan),” kata polisi yang menjaga Ryan di Polda Jatim.

Pasangan tersebut sempat tak mau makan saat ditinggal sang polwan ke Jakarta. Aksi mogok itu kembali ditunjukkan Ryan saat dia menghadapi pemeriksaan dengan alat pendeteksi kebohongan (lie detector) di Labfor Cabang Surabaya di Polda Jatim. Ryan yang terlihat gugup saat perangkat lie detector dipasang di lengannya, enggan menjawab pertanyaan petugas labfor.

”Dia sempat syok. Katanya takut disetrum saat ditempeli alat itu. Dia mau berbicara asal ibu itu (polwan) mendampinginya. Ya sudah, akhirnya kita telepon dia (polwan) dan dia (Ryan) baru mau bicara,” ujar seorang petugas di Labfor.

Selama pemeriksaan menggunakan lie detector di ruang penyidik Satpidum Ditreskrim Polda Jatim, polisi tidak mengizinkan Noval menemani. “Kami khawatir justru tak objektif kalau ada Noval,” kata Direskrim Polda Jatim Kombes Rusli Nasution.

Kendati demikian, pemeriksaan dengan lie detector yang dimulai pukul 09.12 hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dari 10 pertanyaan yang disiapkan penyidik, hanya enam pertanyaan yang terjawab. ”Itu pun NDI (no deception indication), atau tidak ada kebohongan. Tapi kami akan memeriksa ulang sampai tiga kali,” ujar Kepala Labfor Polri Cabang Surabaya Kombes Ir Bambang Wahyu Suprapto.

Tidak terjawabnya seluruh pertanyaan yang disiapkan petugas lantaran Ryan mengaku tak bisa konsentrasi. Setelah mengatakan ingin didampingi polwan yang jadi tambatan hatinya, anak pasangan Akhmad Sadikun-Kasiatun, ini mengaku kangen pada Noval. Padahal, petugas Labfor sudah berupaya membuat Ryan cukup nyaman selama menjalani pemeriksaan. Seluruh permintaan Ryan dikabulkan penyidik, seperti kue sus, donat, jus durian, serta sop buntut.

Makanan itu dilahap habis. Setelah itu, Ryan dipersilakan bernyanyi dan tiduran agar rileks. Tapi tidak tuntasnya pemeriksaan bukan berarti pemeriksaan terhadap Ryan gagal dilakukan.

”Kalau gagal sih tidak. Tapi memang belum maksimal karena Ryan merasa saat di dalam ruangan tidak nyaman. Saya sudah sampaikan ke Kasat Pidum untuk minta waktu selama tiga hari dalam memeriksa Ryan,”ujar Bambang Wahyu.(sumber:warta kota)

Ryan Minta Izin Bercinta dengan Noval

BERADA di tangan polisi dan harus meringkuk di balik jeruji besi, membuat Verry Idam Henyansyah alias Ryan (30), harus menahan hasrat seksnya.

Lantaran sudah lama tak bercinta, akhirnya tanpa malu-malu sang jagal asal Jombang itu memohon kepada polisi yang menjaganya agar memberinya kesempatan menyalurkan hasrat biologisnya bersama Noval Andreas, kekasihnya.

Pasangan kekasih berjenis kelamin sama itu memang telah dipertemukan oleh polisi sejak Minggu 27 Juli 2008 di Polda Jatim. Kehadiran Noval memang atas permintaan Ryan. Sehingga PNS Kantor Imigrasi Depok itu pun diboyong ke Surabaya untuk dipertemukan dengan Ryan.

Polisi memang hampir selalu memenuhi permintaan Ryan agar dia lebih rileks dan terbuka menjawab pertanyaan yang diajukan. Namun permintaan mengejutkan agar diizinkan bercinta ditolak polisi. Padahal, menurut Ryan, permintaannya tergolong wajar karena mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

”Tapi ya enggaklah. Kalau berpelukan atau ciuman silakan saja. Tapi untuk yang itu kita tidak mengizinkan. Masak di ruang Kasat (Kasat Pidum Ditreskrim) mau begituan,”ujar seorang polisi kepada Warta Kota, di Surabaya, Senin ( 4/8/2008 ).

Karena hasrat mereka tak terpenuhi, pasangan homoseksual itu terpaksa melampiskannya dengan saling berpelukan, berciuman, hingga saling meraba.

Dia biasa saja kalau seperti itu. Enggak malu-malu meski banyak orang di sekitarnya,” ujar polisi itu.

Sikap Ryan dan Noval juga sudah biasa saat di ruang penyidik Polda Jatim. Keduanya tak lagi takut dan depresi seperti saat pertama dibawa ke kantor polisi. (sumber:warta kota)

Ryan dan Noval Berciuman Mesra

* Jagal Jombang Ceria Jumpa Kekasih

surya)

Noval dan Ryan (foto:surya)

LAYAKNYA sepasang kekasih yang lama tak jumpa, ‘pasangan’ yang satu ini juga langsung berpelukan mesra dan berciuman penuh hasrat saat dipertemukan.

Tak peduli apa kata dunia. Mata keduanya beradu dalam tatapan penuh arti, saling berbisik, bahkan sang “cewek” menggelayut manja pada lengan “cowoknya”. Sejoli berjenis kelamin seragam itu puas karena bisa saling melepas rindu.

Begitulah pemandangan yang dipertontonkan dua pria tinggi besar, Verry Idham Henyansyah alias Ryan dan Noval Andreas, ketika dipertemukan oleh Polda Metro Jaya dan Polda Jatim di Mapolda Jatim pada Minggu (27/7/2008 ) sore.

Sejak dipertemukan dengan kekasihnya itu, sikap tersangka kasus mutilasi dan pembunuhan itu, menjadi lebih ceria. Ia tak lagi murung sebagaimana sikapnya pada 20 Juli 2008, saat dibawa ke Polda Jatim. Kehadiran Noval membuat Ryan lebih banyak tersenyum.

Kini, sang Jagal Jombang itu tak lagi sendiri menghadapi cecaran pertanyaan penyidik kepolisian. Di sampingnya sudah ada Noval yang mampu memberikan dorongan moral kepadanya saat berhadapan dengan penyidik. Ia (Ryan) sekarang terlihat lebih tenang,” ujar seorang penyidik Ditreskrim Polda Jatim, di Surabaya, Senin ( 28/7/2008 ).

Rupanya itu adalah strategi polisi untuk bisa mengorek keterangan lebih banyak dari tersangka mutilasi dan pembunuhan sadis terhadap 11 orang itu. Kehadiran Noval membuat Ryan lebih terbuka mengungkapkan korban-korban yang sudah dia habisi.

Buktinya, polisi berhasil mengorek keterangan sehingga akhirnya menemukan lagi mayat enam korban yang dikuburkan di halaman rumah orangtua Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Senin itu.

Nani Hidayati dan Silvia, putrinya. Keduanya termasuk di antara 11 korban keganasan Ryan

Nani Hidayati dan Sylvia, putrinya. Keduanya termasuk di antara 11 korban keganasan Ryan dikuburkan di halaman rumah orangtuanya di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur.

Di hari Minggu sore itu pula, ketika tiba di Polda Jatim, Noval senantiasa mendampingi Ryan dengan penuh kasih sayang. Keduanya terlihat mesra di ruang penyidikan. Kadang-kadang Ryan menggelayut manja di tubuh Noval.

Saat makan, Ryan yang tangannya diborgol, minta disuapi oleh Noval. Keduanya baru digiring ke sel Polda sekitar pukul 23.45. Ryan dan Noval ditempatkan dalam sel terpisah, tapi saling berhadapan.

Bercumbu
Sekitar pukul 07.30, keduanya dibawa ke Jombang untuk menunjukkan lokasi korban-korban lainnya. Ada pemandangan menarik saat Noval diberi kesempatan berduaan dengan Ryan di sebuah kamar dalam rumah orangtua Ryan di Jombang.

Sekitar 20 menit, keduanya dibiarkan berduaan, sebelum Ryan diminta menunjukkan lokasi penguburan mayat korban-korbannya. Beberapa petugas yang berjaga, sengaja agak menjauh dari ‘pasangan’ itu.

Polisi memang sengaja membiarkan mereka lebih rileks dan santai agar Ryan mau menunjukkan lokasi kuburan korbannya,” kata seorang polisi.

Tanpa malu-malu, kedua lelaki yang saling jatuh cinta itu berpelukan dan sama-sama menangis. Mereka saling berbisik, entah apa yang diungkapkan. Meski tangan keduanya terbelenggu borgol, tak jadi penghalang untuk sedikit bermesraan.

Tak peduli apa kata dunia. Mereka saling mendekatkan wajah. Berciuman penuh hasrat. Tak hanya cium pipi kiri pipi kanan. Dua pria kekar itu bahkan berciuman bibir. Saling melumat. Airmata terus mengalir membasahi pipi mereka.

Setelah itu, atas petunjuk Ryan, polisi berhasil membongkar enam kuburan korban di pekarangan rumah sang jagal Jombang. Lalu keduanya kembali diboyong kembali ke Polda Jatim. Mereka tiba sekitar pukul 18.30 dan langsung dimasukkan ke ruang penyidik.

Hingga kini polisi belum menyimpulkan apakah Ryan menderita sakit jiwa maupun psikopat. Polisi masih terus melakukan pemeriksaan psikologi di ruang rapat Direktorat Reskrim (Ditreskrim) Polda Jatim. Namun hal yang paling dikhawatirkan polisi saat ini adalah muncul dugaan dia akan bunuh diri. Sehingga polisi di Polda Jatim pun kian memperketat penjagaan terhadapnya.

“Selama ini tersangka memang tidak pernah mengaku akan bunuh diri. Tapi, dari gelagatnya, tersangka dikhawatirkan melakukan hal itu,” ujar seorang sumber di Mapolda Jatim, Selasa ( 29/7/2008 ), seperti dikutip detikcom.

Untuk menjaga Ryan, petugas dibagi dalam beberapa shift. Setiap shift ada 7 orang. Setiap saat, petugas terus memantau Ryan di dalam tahanan. Di Mapolda Jatim, Ryan satu sel dengan pacarnya, Noval. (diolah dari laporan wartawan surya+detik)

Inilah 11 orang yang menjadi korban pembunuhan Ryan:

1. Vincent Yudi Priyono (31)
2. Ariel Somba (34)
3. Grandy
4. Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27 )
5. Agustinus Fitri Setiawan (28 )
6. Nanik Hidayati (31)
7. Sylvia Ramadani Putri (3)
8. Muhamad Aksoni (29)
9. Zainal Abidin (21)
10 Heri Santoso (40)
11. Hendro Liono (masih dugaan).

Ryan Kubur Mayat di Dapur

* Muncul Dugaan Korban Mencapai Puluhan Orang

PERKEMBANGAN kasus mutilasi dan pembunuhan sadis dengan tersangka Verry Idham Henyaksyah alias

Warkot

Ryan saat dikeler polisi untuk menunjuk lokasi aksi pembunuhan sadisnya di Jombang. Foto:Warkot

Ryan (30), semakin mencengangkan. Jika sebelumnya diduga masih dua korban dibenamkan di septic tank (lubang WC), kini diperkirakan Ryan juga mengubur mayat di dapur rumahnya.

Dugaan itu terungkap saat Tim Polda Jatim bersama Polres Jombang kembali mengeler tersangka yang didiuga pengidap psikopat itu ke kediamannya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Rabu ( 23/72008 ).

Informasi yang dikumpulkan wartawan Surya (grup Tribun) dari lapangan menyebutkan, saat dikeler petugas, Ryan menunjuk ruang dapur di sudut rumahnya. Dia menunjuk lantai dapur sebagai kuburan mayat korbannya.  Atau paling tidak sebagai tempat melakukan eksekusi terhadap para korbannya.

Jika tempat itu juga menjadi kuburan bagi korban dari Ryan, bukan tidak mungkin lebih dari satu mayat ditanam di sana. Karena ruang dapur di pojok belakang rumah itu, menurut sejumlah warga, berukuran cukup luas, sekitar 2 x 3 meter.

Di ruang dapur itu tidak terdapat kompor. Untuk memasak makanan, orangtua Ryan menggunakan pawon (tungku, terbuat dari tanah liat atau semen), menyatu dengan plester lantai dapur. Ukurannya cukup besar, sekitar 40 x 60 cm dan berada agak ke tengah ruang dapur. “Bisa jadi mayatnya ditanam di bawah pawon,” kata Rokhib, tetangga Ryan.

Sejumlah polisi di TKP mengelak ketika dimintai konfirmasi mengenai hal tersebut. “Kita masih terus mengembangkan kasus ini. Semua masih didalami,” kata petugas. Sayangnya, tim Polda Jatim batal melakukan penggalian terhadap lokasi-lokasi yang diduga sebagai tempat penguburan korban keganasan Ryan. Ini karena massa membludak, sehingga dikhawatirkan bakal mengganggu kerja petugas.

Karena batal melakukan penggalian, tim polda hanya mengeler Ryan untuk mendapatkan bukti baru terkait pembunuhan empat korban yang mayatnya ditemukan pekarangan belakang rumahnya. Bukti-bukti itu guna menguatkan dugaan ataupun mencari motif pembunuhan yang dilakukan tersangka.

Sekitar satu jam lamanya, petugas yang datang ke lokasi sekitar pukul 13.00 WIB, memperoleh barang bukti milik keempat korban. Barang bukti itu di antaranya pakaian, jaket, dan tas. Juga dua buah helm, sejumlah perhiasan dan beberapa buku tabungan milik Ryan. Juga sejumlah keping VCD milik tersangka. Barang bukti tersebut, langsung dibawa ke Mapolres Jombang.

Sekitar pukul 15.30, tim Polda Jatim (unit Jatanras) segera menggelandang tersangka yang dibrogol itu ke sebuah mobil. Menurut sumber di polisi, tersangka dikeler ke Kediri, ke tempat kerja Guntur alias Guruh Setyo Pramono (28).

Sementara ini baru terungkap bahwa Ryan sudah menghabisi lima orang, yakni Heri Santoso, warga Bekasi, dibunuh dan dimutilasi di apartemen Depok Residence. Empat korban lainnya, yakni Ariel Sitanggang, Vincent, Grandy, dan Guntur dibunuh dan dikubur belakang rumah orangtuanya di Jombang.

Kapolri Jenderal Sutanto membenarkan dugaan bahwa korban pembunuhan sadis Ryan lebih dari lima orang. “Kemungkinan masih ada korban lain selain yang ditemukan,” kata Kapolri.  “Perkembangan kasus Ryan, Polda Metro masih melakukan penyelidikan,” imbuh dia.

Sejumlah informasi menyebutkan bahwa korban Ryan bahkan mungkin mencapai puluhan orang. Ini berdasar laporan hilang ke polisi melalui telepon dan sms. Semua orang yang hilang itu pernah  berhubungan dengan Ryan.

Beberapa di antara orang yang yang diduga telah menjadi korban Ryan adalah Nani Hidayati (32) dan anaknya, Silvia (3), warga Perumahan Kepuh Permai, Jombang (Keduanya raib sejak Januari 2008). Zainal Abidin (22), warga asal Dusun Dapurno, Desa Dapurkejambon, Jombang (Hilang sejak 7 Januari 2008). Guruh Setyo Pramono (28), warga Desa Kedondong Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk (Raib sejak April 2007.(persda network/surya/st8/wid)

Ryan Sudah Ketagihan Membunuh

Kalau sudah bisa mengatasi rasa takut dan cemas, pelaku pembunuhan serial (berantai) telah menikmati apa yang dilakukannya.

Adrianus Meliala
Kriminolog Universitas Indonesia

VERRY Idam Heryansyah alias Ryan (30), diperkirakan seorang psikopat sehingga menikmati setiap pembunuhan yang dilakukannya. Bahkan tersangka pelaku mutilasi di Ragunan, Jakarta dan pembunuhan terhadap emat orang di Jombang, Jawa Timur, itu sudah semakin ketagihan membunuh orang.

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala dan Kriminolog UI Erlangga Masdiana mengategorikan

Aril dan Ryan

Aril dan Ryan (foto:detikcom)

Ryan sebagai pembunuh berantai. Keduanya menepis anggapan bahwa tindakan pembunuhan itu terkait orientasi seksualnya yang menyimpang atau suka sesama jenis.

Adrianus mengatakan, Ryan sudah sampai pada tahap ketagihan membunuh dan menikmati saat-saat korbannya meregang nyawa. Bahkan dia telah memiliki kecenderungan untuk menemukan terobosan baru dalam membunuh korbannya guna mendapatkan sensasi yang lebih hebat lagi.

Menurut Adrianus, Ryan yang telah membunuh lima orang tak menunjukkan rasa takut dan cemas. “Kalau sudah bisa mengatasi rasa takut dan cemas, pelaku pembunuhan serial (berantai) telah menikmati apa yang dilakukannya, ” katanya.

Dalam penilaian Erlangga, Ryan cenderung memiliki kepribadian tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. “Ini ciri-ciri psikopat. Dia memiliki alasan pembenaran atas apa yang dia lakukan. Biasanya diikuti dengan kepribadian yang tidak merasa bersalah,” jelasnya.

Latar belakang seseorang menjadi psikopat bermacam-macam. “Bisa karena dendam, sakit hati, atau iri,” jelas Erlangga. Psikopat yang melakukan pembunuhan akan mengulangi perbuatannya di kemudian hari karena dia telah kecanduan melakukan pembunuhan.

“Ini berbeda dengan pembunuhan situasional. Dalam pembunuhan situasional, orang membunuh karena terpengaruh situasi. Kalau pembunuh berantai dia punya alasan pembenaran sendiri,” tutur Erlangga.

Seadainya Ryan belum tertangkap, bisa jadi ia akan melakukan pembunuhan berikutnya dengan cara yang lebih canggih dan rumit. Mulai dari segi menghilangkan jejak maupun cara menghabisi korban. Hal tersebut dilakukan Ryan untuk mendapat sensasi.

Adrianus mengatakan, kenikmatan membunuh yang dirasakan Ryan terlihat dari cara pemuda itu membunuh para korbannya. Jika awalnya, Ryan hanya membunuh dengan cara memukulkan benda tumpul, terhadap korban terakhir dia memotong-motong mayat atau memutilasinya.

“Seorang pembunuh serial memang akan seperti itu. Cara membunuhnya akan terus berkembang, semakin keji. Dari sekadar memukul sampai menguliti atau memutilasi. Kalau tidak tertangkap pasti akan ada korban-korban berikutnya,” papar Adrianus.

Sejauh yang sudah diketahui, Ryan telah menghabisi 5 orang. Satu korban dimutilasi jati tujuh bagian, yakni Heri Santoso (40). Empat korban lainnya adalah Aril Somba Sitanggang (34) asal Depok, Grandy (WN Belanda), Vincent asal Solo, dan Guntur alias Guruh Setyo Pramono asal Nganjuk

Jenazah empat korba Ryan telah digali dari belakang rumah orangtuanya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang. Namun warga setempat dan desa sekitarnya meyakini korban yang dihabisi Ryan di tempat itu lebih dari empat orang. Kemungkinan jenazah korban lainnya juga dikuburkan di sekitar lokasi itu.

Ada empat laporan orang hilang ke polisi, yakni:
Sobirin, warga Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, melaporkan kemenakannya, Zainal (22), penyiar Radio Gita FM di Diwek, Jombang, menghilang sejak Januari 2008. Sobirin pernah melihat Zainal berboncengan dengan pria mirip Ryan.

Lilik Kastumi (55), warga Jl Dr Soetomo, Jombang, mengaku anak laki-lakinya, Agustinus Setiawan (27), hilang sejak Juni 2007. Agustinus diduga mengenal Ryan karena biasa berlatih di sebuah pusat kebugaran. Ryan diketahui sering ke pusat kebugaran.

Suprayitno (30), warga Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang, mengaku istrinya, Nanik Kristanti (26) dan anaknya yang masih balita, pergi sejak 2 April. Pamitnya ke tempat orangtuanya di Banyuwangi. Sudah dicek ke Banyuwangi sepekan kemudian, tapi Nanik tak ditemukan. Nanik sering berangkat senam ke Marcella Fitness Center bersama Ryan.

Seorang ibu mengaku anaknya bernama Guntur (28), hilang sejak akhir 2007. Guntur bekerja di Kediri, pernah kedatangan tamu berwajah mirip Ryan. Saat itu, Ryan mengaku dari Bandung. Terakhir diketahui bahwa Guntur adalah nama alias dari Guruh Setyo Pramono asal Nganjuk, satu di antara empat korban yang mayatnya dikuburkandi belakang rumah Ryan. (sumber: persda network/warkot/surya/st8)

Ternyata Korban Ryan Ada 5 Orang

* Habisi Teman-temannya Gunakan Linggis dan Batu

Surya/doso priyanto

Empat mayat dalam kantong, korban pembunuhan Ryan yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. Foto: Surya/doso priyanto

VERRY Idham Henyaksyah (30) alias Ryan, bukan pembunuh biasa. Pria ini tergolong pembunuh berdarah dingin. Dia telah menghabisi lima orang dan empat di antaranya dikubur di belakang rumah orangtuanya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur.

Pembongkaran jenazah para korban dilakukan setelah proses rekonstruksi pembunuhan Aril Somba Sitanggang (34), selama selama 1,5 jam, Senin ( 21/7/2008 ). Tiga kali Ryan dipanggil keluar rumah untuk menunjukkan di mana lokasi persis korban-korbannya dikubur. Akhirnya Tersangka mengakui bahwa jenazah Aril dikubur di belakang rumah orangtuanya.

Di luar dugaan, tak hanya jenazah Aril yang ditemukan di pekarangan belakang rumah Ryan, melainkan masih terdapat tiga jenazah lagi. Semuanya sudah membusuk. Pembongkaran dilakukan oleh Polda Metro Jaya bersama Polda Jatim dan Polres Jombang.

Namun keempat jenazah itu tidak dimutilasi sebagaimana yang dilakukan Ryan terhadap Heri Santoso (40) yang dihabisi di Ragunan, lalu dipotong menjadi 7 bagian dan dibuang di Jl Kebagusan Raya, Jakarta Selatan.
Jenazah Aril dan tiga korban lainnya telah diautopsi di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur sekitar pukul 18.15 WIB.

Tiga korban selain Aril adalah Guntur, warga Nganjuk, yang dibunuh Ryan sekitar Juni-Agustus 2007, Brandy (warga negara Belanda) yang tewas dihabisi Januari 2008, dan Vencent asal Solo karyawan Toko Court Jombang dan Aril dihabisi sekitar April 2008. Ryan menghabisi korban-korbannya menggunakan linggis dan batu.

“Rata-rata menggunakan linggis atau batu,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro JayaKombes Pol Carlo Brix Tewu.

Pencari mayat terkejut
Proses penggalian jenazah berlangsung cukup lama. Dimulai pukul 10.00 dan baru berakhir pukul 14.45. Dengan ketua tangan diborgol, Ryan diminta menunjukkan lokasi dirinya ‘menanam’ para korbannya. Pertama ditemukan jenazah Aril yang dikubur di pekarangan belakang, persis di belakang kamar mandi.

Beberapa pekerja warga setempat dibantu polisi menggali lokasi yang ditunjuk. Tak lama, muncul kaki manusia yang sudah membusuk. Para penggali pun melanjutkan hingga seluruh sosok jenazah tergali. Tapi para penggali kaget, karena saat seluruh tubuh jenazah sudah terlihat, mendadak seorang penggali menemukan kaki dari lain, tak jauh dari lubang tersebut. Ryan pun dicecar petugas soal keberadaan jenazah itu.

Akhirnya dia mengakui, dalam lubang tersebut terdapat tiga jenazah dan di lubang lain yang berjarak sekitar lima meter arah utara dari lubang pertama, terdapat satu jenazah lagi. Pencarian dan penggalian pun dilanjutkan.
Setelah empat jam lebih, yakni sekitar pukul 14.45, ditemukan lagi dua jenazah, satu di lubang pertama dan satu lagi di lubang kedua. Semuanya sudah membusuk. Jenazah langsung dimasukkan dalam dua kantung jenazah. Jenazah ketiga berhasil dievakuasi 30 menit kemudian dari lubang pertama, dan 20 menit kemudian satu jenazah lagi berhasil diangkat dari lubang sedalam 1,5 meter berukuran 2,5 x 3 meter.

Sewa penggali lubang
Kepala Desa Jatiwates Machmud menginformasikan, untuk menggali lubang bagi pemakaman salah satu atau beberapa jenazah tersebut, Ryan menggunakan jasa tenaga kerja kasar dari luar desa. Tenaga kerja itu diminta menggali lubang dengan alasan untuk lubang pembuangan air dari kamar mandi.

Setiap kali jenazah -jenazah itu diangkat dari lubang, ratusan warga yang menonton proses tersebut berkali-kali berdecak dan menggelengkan kepala tanda keheranan atas perilaku tersangka. Selanjutnya empat jenazah diangkut ambulans ke RS Bhayangkara Surabaya untuk diautopsi. Sedangkan Ryan atau di desa setempat akrab dipanggil Hansyah, dibawa ke Mapolda Jatim di Surabaya.

Kombes Carlo Tewu mengungkapkan, penggalian jenazah itu merupakan pengembangan kasus tertangkapnya Ryan di Jakarta atas dugaan pembunuhan terhadap Aril. Soal motif pembunuhan, Kombes Carlo Tewu belum bisa menyimpulkan karena masih dalam proses pemeriksaan.

Polisi telah menetapkan Ryan sebagai tersangka mutilasi atas Heri Santoso di Ragunan. Dia dikenakan pasal 365 tentang pencurian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Hingga kini polisi masih mencari korban Ryan lainnya. “Kalau memang ada anggota keluarga yang hilang bisa menghubungi Polda Metro Jaya. Soalnya mungkin saja masih ada korban-korban lainnya,”ujar Kombes Carlo Tewu.(sumber: persda network/Surya/Tribun Batam/doso priyanto)

*) Berita ini telah terbit di Tribun Batam edisi cetak maupun online.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.