Uang 20 Ribu Saja kok Cerewet…!!!!

* Cerita biasa di Kantor Samsat

Bagi orang yang memiliki kendaraan bermotor (termasuk motor butut seperti milikku)… tiap tahun musti berhubungan dengan yang namanya Samsat. Soalnya STNK motornya musti diperbaharui biar gak ditangkap pak pulisi….maksudnya polisi lalu lintas di jalan raya.Nah, Senin (25/9/2006) lalu, aku ke Samsat untuk perbaru STNK dan ganti plat nomor polisi yang sudah lewat masa. Setelah urusan gesek menggesek nomor mesin dan nomor rangka, aku pun menuju ke loket “Pengecekan Fisik”. Eh, di loket ini tau-tau aku diminta uang Rp 20 ribu. “Bayar dua puluh ribu, pak!” tagih polisi di loket itu dengan santainya. Tanpa berpikir lagi, aku pun menyerahkan selembar uang 20 ribu dan langsung berlalu ke loket selanjutnya untuk ambil formulir penggantian STNK.
Waktu itu baru pukul 11.00 WIB. Tapi di loket itu sudah sepi…tinggal dua orang petugas yang tampaknya mulai enggan melayani masyarakat. Aku dan sekitar 10 orang lainnya berdiri antre di depan loket, tapi tak ada tanda-tanda akan dilayani dua petugas itu. Lama-lama kesal juga. Terus, kutanya sama seorang petugas. “Pak, pelayanannya sampe jam berapa? ” Wah , sekarang sudah tutup, pak! Soalnya puasa. Besok saja bapak-bapak datang ya,” katanya.
Ugh…kesal juga dengan jawabannya. Kebetulan aku kenal Pak Guntur Sakti, Humas Pemko Batam. Aku pun minta nomor HP-nya sama Indy (wartawan Tribun yang ngurusin rubrik Public Service) dan ku SMS Pak Guntur. “Pak, kantor2 tutupnya jam berapa ya di bulan Puasa?” Dijawab, “Kalau kami di Pemko Batam sampai pukul 14.00 WIB. Tapi kalao Samsat saya tidak mau komentar, karena itu di bawah Pemprov Kepri.”
Meski begitu, jawaban Pak Guntur aku gunakan untuk “sedikit menekan” pegawai Samsat itu. Sehingga akhirnya segerombolan orang yang bersama denganku pun dilayani. Tapi, tiba-tiba aku teringat pada uang Rp 20 ribu ku. Iseng saja aku tanya ke petugas di loket itu. “Pak, memangnya kalo gesek nomor rangka dan nomor mesin itu pake bayar ya? Kok saya diminta Rp 20 ribu?” tanyaku. “Wah, kami tidak tahu, pak. Coba bapak tanya langsung saja sama petugas yang bersangkutan,” jawab petugas itu.
Aku pun langsung balik kanan ke loket pertama tadi. “Pak, aku minta kwitansi pembayaran yang tadi.” Si polisi menatap aku sebentar, kemudian bertanya,” Kwitansi apa? Untuk apa?” Kubilang, “Itu…kwitansi untuk ongkos cek fisik yang 20 ribu tadi. Soalnya yang saya urus ini motor punya kantor. Nanti kalo diminta pertanggungjawabannya bagaimana?”
“Akh kamu ini. Uang 20 ribu saja kok cerewet,” katanya ketus, dengan wajah yang dibuat seseram mungkin. Apalagi pak pulisi itu pake kumis hitam nan tebalnya amit-amit. “Kalau begitu bawa motor kamu ke sini untuk dicek fisik!” katanya dengan nada tinggi sambil bangkit dari kursinya.
“Lho…tadi kan sudah dicek sama anak buah bapak yang pake baju biru itu,” kataku sambil menunjuk pria berbaju biru yang bertugas menggesek nomor mesin dan nomor rangka motor bututku.
“Iya…bawa sini motornya biar dicek lagi kelengkapannya,” katanya masih dengan suara tinggi. Dikiranya aku takut…Dengan santainya kukeluarkan “alat kekuasan ku” yakni KARTU PERS. “Kartu apa ini? Maksudmu apa?” katanya setengah berteriak, tapi diambilnya juga kartu itu dan dibacanya.
“Begini pak. Saya ini wartawan Tribun Batam. Dan kebetulan, motor yang saya pake itu punya kantor. Jadi, saya harus dikasih kwitansi supaya bisa mempertanggungjawabkan pengeluaran uangnya,” jelasku, kalem.
Mendengar penjelasan itu, wajah pak pulisi berkumis tebal itu langsung berubah. Rupanya dia sudah KO sebelum ditonjok pake tinjunya Chrisjon. Sikapnya tampak dipaksa melunak. “Kenapa dari tadi tidak bilang kalau kamu wartawan? Kalau bilang dari tadi kan kita bisa layani baik-baik,” ujarnya sambil menarik laci meja dan mengeluarkan selembar uang Rp 20 ribu lalu diserahkan kepada ku.
Sambil menerima uang itu, aku tak lupa mengucapkan terima kasih. “Makasih pak!” kata ku sambil berlalu ke loket berikutnya.
Begitulah, kawan-kawan, kejadian-kejadian yang aku yakin terjadi setiap harinya di Kantor Samsat Batam. Tapi kenapa perilaku itu tak bisa ditumpas? Padahal, belum lama ini Samsat Batam mendapat sorotan tajam dari media massa karena dugaan korupsi. Bahkan, kasusnya sudah sampai di kepolisian. Sayang, kabar mengenai kasus Samsat itu pun makin kabur.
Mungkin berkas2 pemeriksaannya sudah dimakan rayap…sehingga kasusnya tak bisa dilanjutkan. Atau mungkin….akh sudahlah, nanti jadi fitnah lagi. (eddy mesakh)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s