Derita Eric Sitepu: Kepalanya Terus Membesar

* Orangtuanya tak punya ongkos operasi

Eric terkulai lemas di atas kasur, menanti uluran tangan dermawaneric-sitepu.jpgERIC SITEPU (5), terkulai lemas di atas kasur yang digelar di lantai. Tubuhnya tampak sehat, meski tangannya agak gemetaran dan hanya sesekali bisa digerakkan. Kepalanya pun hanya bisa digerakkan pelan, untuk melihat sekelilingnya.
Meski usianya hampir enam tahun, Eric tak bisa duduk karena tak kuat menopang kepalanya. Eric pun tidak bisa bicara, meski ia mengerti apa yang dikatakan orangtuanya. Misalnya ketika ditanya “mau roti” Eric akan tersenyum. Dikasih roti, ia bisa menerima dengan tangan kanannya yang gemetaran. Dengan susah payah ia tetap berusaha menggerakkan tangan secara perlahan ke arah mulutnya untuk makan roti. Anak pertama dari pasangan Junaedi Sitepu (33), dan Meslina Silalahi (28), ini memang mengalami kelainan pada kepalanya yang terus membesar. Kini, ukurannya kira-kira sebesar bola basket. Dahinya menonjol jauh ke depan. Jika diraba, bagian ubun-ubunnya terasa sangat lembek, seperti dipenuhi cairan. Ketika menarik nafas, ubun-ubunya berdenyut. “Kata dokter di rumah sakit Mutiara Medan, Eric menderita penyakit hydrocephalus,” ucap Meslina sambil menatap wajah anaknya.
Eric dilahirkan di Rumah Sakit Umum Otorita Batam pada 16 Februari 2001. Ketika di kandungan, kata Meslina, tidak pernah ada masalah. Pun ketika lahir, Eric tampak normal-normal saja. “Kelainan ini (kepala membesar) baru mulai kelihatan ketika umurnya memasuki tiga bulan. Matanya mulai tampak seperti tertarik ke belakang,” tutur Meslina yang ditemui di kediamannya di kawasan Tiban Kampung, Sabtu (14/10).
Sejak itu, kepala Eric mulai tumbuh tak wajar. Padahal, tubuhnya tumbuh seperti biasa. Bahkan normal seperti anak-anak pada umumnya. Melihat kejanggalan itu, kedua orangtuanya pun mulai sibuk mencari pengobatan. Mereka membawanya ke dokter di Medan. Sayang, ketika itu, menurut sang dokter, biaya operasinya sekitar Rp 12 juta.
“Dari mana uang sebanyak itu. Saya cuma tukang ojek dengan penghasilan maksimal Rp 500 ribu satu bulan. Hanya cukup untuk makan,” ujar Junaedi lirih.
Akhirnya, Junaedi dan Meslina berupaya mencari pengobatan alternatif. Eric dibawa berobat ke seorang tabib di Batam. Menurut tabib itu, Eric bisa sembuh tapi obatnya harus diambil dari Thailand dan itu membutuhkan dana sekitar Rp 3 juta. Junaedi pun banting tulang mencari uang. “Itu jumlah yang banyak. Tapi demi kesembuhan anak kami, saya tetap berusaha mencari supaya anak saya bisa diobati,” ujar Junaedi.
Namun, setelah uang diperoleh, menurut sang tabib, ongkos pengobatannya sekitar Rp 5 juta. Junaedi pun kembali pontang-panting mencari uang untuk diserahkan kepada sang tabib, yang katanya saat ini berada di Pulau Buluh, Kepri. “Tambah lima juta lagi tapi Eric tetap tidak sembuh,” ujar Junaedi.
Kini, pasangan muda itu mengaku sudah tak sanggup lagi membiayai pengobatan anaknya. Sebab, menurut kabar, biaya operasi sekitar Rp 50 juta. “Dari mana lagi saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sedangkan istri saya sudah lama berhenti kerja karena harus menjaga anak kami. Soalnya tidak mungkin dia ditinggal di rumah atau dititipkan pada tetangga,” sambung Junaidi.
“Sekarang kami hanya bisa pasrah. Semoga ada orang yang tergerak hatinya untuk membantu pengobatan anak kami. Saya sangat sedih melihat kondisinya. Kami sama sekali tidak mampu,”ucap Meslina dengan mata berkaca-kaca.(eddy mesakh)

*) Cerita ini pernah dimuat di Harian Tribun Batam Edisi Minggu (15/10)

Bagi pembaca yang tergerak hati untuk membantu meringankan beban Eric, bisa langsung ke Kantor Tribun Batam, Kompleks MCP Batuampar, atau langsung menyalurkan melalui rekening Dompet Pembaca Tribun Batam di BCA KCP Nagoya dengan nomor rekening 34-0345-5560.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s