SEZ Cina Lebih Unggul Dibanding India

Model SEZ Terbaik untuk Batam, Bintan, dan Karimun (2)

Visakhapatnam, India

PARA pengusaha dan legislatif lebih suka mengadopsi model special economic zone (SEZ) yang diterapkan di Cina dibanding India. Meskipun kedua negara itu sama-sama dibantu oleh Singapura, namun dalam praktiknya tetap negara bersangkutanlah yang paling berperan dalam menentukan aturan dan kebijakan. Hasilnya, model yang paling menguntungkanlah yang disukai para penanam modal asing maupun pengusaha lokal. Tentu saja karena yang dikejar investor adalah kemudahan dan keuntungan bagi bisnisnya.

Oleh: Eddy Mesakh*)
SEBELUM membahas mengenai keunggulan model SEZ Cina dibandingkan India, silakan simak dulu hasil yang dicapai negeri tirai bambu itu dari penerapan SEZ.
Untuk diketahui, Cina memiliki beberapa kawasan SEZ di antaranya Shenzhen, Zhuhai, dan Shantau yang didirikan sejak 1988. Suzhou misalnya, mampu mencatat nilai ekspor lebih dari 20 miliar dolar AS per tahun. Bandingkan dengan Batam dan Bintan, yang hanya menghasilkan ekspor 4,86 miliar dolar AS per tahun.
Pesatnya kemajuan Shenzhen ditandai dengan westernisasi, gedung pencakar langit yang tinggi, mobil keluaran terakhir, penduduknya tampak modern dan akrab dengan teknologi informasi, termasuk sarana komunikasi seperti telepon seluler. Penduduk Shenzen yang berseliweran di jalan- jalan umum, hampir semuanya petantang-petenteng dengan alat komunikasi canggih itu. Gaya berbusana masyarakatnya pun up to date, mengikuti trend terakhir.
Semua itu dicapai akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi kawasan itu. Jika pada 2001/2002 pertumbuhan ekonomi Cina rata rata baru 7,3 persen, khusus Guangdong (yang tumbuh berkat dukungan Shenzhen, Zhuhai dan Shantau) sudah mencapai 9,5 persen. Pendapatan per kapitanya mencapai 2.003 dolar AS per tahun (sekitar Rp 19.028.500 dengan asumsi 1 dolar setara Rp 9.500), jauh di atas pendapatan rata rata Cina yang hanya 789 dolar AS per tahun (sekitar Rp 7.495.500).
Khusus masyarakat di Shenzen, pendapatan perkapitanya mencapai 4.962 dolar AS per tahun (sekitar Rp 47.139.000).
Sementara India yang juga sama majunya. Pendapatan perkapita rakyatnya rata-rata 3.262 dolar AS per tahun (sekitar Rp 30.989.000), lebih tinggi dibandingkan Cina namun lebih rendah dibanding Shenzen.
India mulai menerapkan SEZ pada tahun 2000. Daerah yang dijadikan SEZ adalah di Kota Kandla, Noida, Chennal, Cochin, Falta, Surat, Jaiour, Visakhapatnam, Indore, dan Manikancham.
Tujuan penerapan SEZ di India adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di daerah- daerah yang masih tertinggal. Bahkan, hampir semua wilayah di India bisa dijadikan kawasan SEZ. Sehingga di samping meningkatkan industri manufaktur, juga untuk meningkatkan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.
Namun demikian, di mata para investor, menamamkan investasinya di Cina jauh lebih menguntungkan dibanding jika berinvestasi di India. Berikut alasannya:

Keunggulan SEZ Cina

(1) Cina memulai pembentukan kawasan Special Economic Zone (SEZ) pada tahun 1980. Setiap SZ memiliki target kekhususan (specially) berbeda dengan SEZ lainnya.
(2) Institusi di Cina kuat. Pendelegasian yang tegas bagi provinsi dalam mengatur kebijakan SEZ dengan otonomi khusus. Gubernur dan pejabat yang memimpin SEZ bekerja sebagai mitra, misalnya perjanjian investasi, baik asing maupun domestik.
(3) Kebijakan SEZ di Cina berfokus pada pengembangan kemandirian ekonomi di kawasan SEZ, yaitu menarik investasi yang diiringi dengan transfer teknologi.
(4) Kebijakan upah di Cina fleksibel dan mengikuti harga pasar
(5) Segala kebijakan pemerintah relatif stabil
(6) Segala aturan di kawasan SEZ dibuat langsung oleh gubernur provinsi, tanpa birokrasi yang berbelit.
(7) Infrastruktur SEZ di Cina memadai, antara lain infrastruktur transportasi mencukupi, dekat dengan pelabuhan udara dan laut, energi listrik memadai dengan tarif yang murah.
(8) Kawasan SEZ di Cina memberikan insentif menggiurkan bagi para investor yaitu pengurangan corporate tax sebesar 15 persen.

Kelemahan SEZ India

(1) India mulai menerapkan SEZ tahun 2000.
(2) Target SEZ di India sangat luas (tidak spesifik) dan mirip untuk tiap kawasan, yaitu meningkatkan industri manufaktur elektronik yang akan dikonsumsi, peralatan telekomunikasi, komponen mobil, farmasi, bio teknologi, dan pendidikan.
(3) Kebijakan SEZ India ditentukan oleh pemerintah pusat, yaitu di bawah kementerian perdagangan, yang selanjutnya memilih development commissioner (DC) untuk menjalankan kebijakan SEZ.
(4) Hanya fokus pada peningkatan ekspor.
(5) Kebijakan upah buruh di India tidak mengikuti harga pasar.
(6) Berbagai kebijakan di India relatif tidak stabil.
(7) Birokrasi di India lebih berbelit. Segala peraturan di SEZ dibuat oleh development commissioner (DC)
(8) Infrastruktur di India, meski sudah berstandar internasional, namun masih kurang memadai jika dibandingkan dengan di Cina.(bersambung)

*) Penulis Redaktur Ekonomi Tribun Batam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s