Buruknya Sistem Pelayanan Umum Kita

Akhirnya bayi laki-laki berbobot 3,6 kilogram dengan panjang badan 50-an cm itu pun lahir. Tentu saja tidak lahir dalam kondisi normal. Bentuk kepala bayi itu menjadi tak karuan lantaran divakum berkali-kali oleh suster yang menolong kelahirannya.
———————————————————————————————————–

KECELAKAAN pesawat, kapal tenggelam, kereta api terbalik, mobil tabrakan di jalan raya, dan banyak lagi kejadian tragis senantiasa mewarnai kehidupan rakyat Indonesia.
Semua itu menjadi gambaran betapa buruknya sistem pelayanan umum di negeri ini. Nyawa rakyat pun selalu berada di bawah bayang-bayang kematian tragis. Semuanya seolah hanya menanti kapan dijemput oleh malaikat maut secara tragis dan mengenaskan!
Saya pun menjadi ingin bercerita mengenai pelayanan umum di sektor medis yang diterima keluarga saya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pelayanan yang akhirnya mencabut nyawa bayi laki-laki yang baru dilahirkan kakak perempuan saya.
Senin (25/9/2006), kakak perempuan saya yang tengah hamil 9 bulan lebih merasa perutnya sangat sakit. Tanda dia segera akan melahirkan bayi pertama yang dikandungnya.
Dia pun diantar ke sebuah rumah sakit milik pemerintah di Kota Kupang. Kakak saya tampak menderita menahan sakit. Namun, setibanya di rumah sakit itu, dia tidak segera disambut dengan kereta dorong. Bahkan, ketika suaminya akan menarik sebuah kereta dorong, malah dilarang oleh seorang suster. Suster itu memaksa kakak saya untuk jalan kaki saja menuju sal melahirkan. Padahal, air ketubannya sudah pecah.
Proses kelahiran sangat sulit. Sehingga pihak keluarga meminta agar proses melahirkan dilakukan melalui operasi caesar. Permintaan ini ditolak oleh dokter maupun perawat. Kakak ku kian menderita menahan sakit.
Di tengah kesakitan itu, ternyata dia pun tak boleh ditemani oleh siapa pun! Termasuk suaminya sendiri. Hanya dokter dan suster yang boleh ada di ruang bersalin.
Hingga Selasa (26/09/2006), bayi itu belum bisa lahir. Sehingga keluarga kembali mendesak agar dilakukan operasi caesar. Permintaan itu tetap ditolak. Dokter dan suster bersikukuh bahwa kakak saya harus melahirkan secara alami.
Akhirnya bayi laki-laki berbobot 3,6 kilogram dengan panjang badan 50-an cm itu pun lahir. Tentu saja tidak lahir dalam kondisi normal. Bentuk kepala bayi itu menjadi tak karuan lantaran divakum berkali-kali oleh suster yang menolong kelahirannya.
Setelah dilahirkan, tidak ada seorang anggota keluarga pun yang boleh melihat kondisi bayi itu. Mereka hanya boleh melihat dari jarak yang cukup jauh. Mungkin 20 meter atau lebih. Bayi itu baru bisa dilihat sehari setelahnya, yakni pada Rabu (27/09/2006).
Dari ukuran dan bobot tubuhnya, bayi itu normal-normal saja. Namun, seluruh tubuhnya membiru dan kehitam-hitaman. Kata suster, bayi itu keracunan air ketuban. Bayi itupun disuntik pada lengan kanannya. Hasilnya, warna tangan bayi itu menjadi lebih hitam dibanding bagian tubuh lainnya.
Menurut ibu saya yang melihat langsung cucunya di dalam inkubator, kondisi bayi itu sangat mengkhawatirkan. Bulatan bekas sedotan alat vakum di kepalanya tampak sangat jelas. Sementara tubuhnya terlihat terus bergetar, seolah menahan sakit yang tak terkira. Bayi itu tampak sangat menderita. Ibu saya langsung berpikir, bayi ini tidak mungkin bertahan lama. Ayah saya pun berpikiran sama.
Benar. Akhirnya, pada Kamis (28/09/2006), bayi laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal atau lebih tepat disebut TEWAS secara mengenaskan.
Tidak ada yang protes. Seluruh anggota keluarga kami pasrah dan menganggap kematian itu wajar. Meski di dalam benak mereka semua terbersit pikiran bahwa bayi itu mati karena buruknya pelayanan medis yang diterima.
Ada yang heran dan berkata,
“Kenapa permintaan untuk operasi caesar tidak dikabulkan?”
“Kenapa tidak ada keluarga yang dibolehkan mendampingi saat proses kelahiran?”
“Kenapa ketika pertama kali datang kakak saya tidak diperkenankan naik kereta dorong dan dipaksa jalan kaki menuju ruang persalinan yang jaraknya mencapai puluhan meter?”
Kenapa…kenapa…kenapa….. kenapa mereka kasar sekali ketika membantu proses kelahiran bayi?
Semua orang sudah tahu persis bahwa para suster yang melayani proses kelahiran umumnya suka berlaku kasar terhadap para ibu. Mereka bahkan sering mengumpat dengan kata-kata kasar. Misalnya, “Kalau ‘bikin’ na enak. Sekarang baru berteriak kesakitan”.
Kalimat itu dilontarkan oleh mereka. Seolah-olah mereka sendiri tercipta dengan cara yang berbeda.
Sudah banyak ibu-ibu yang ketika melahirkan menerima kata-kata kasar itu. Namun, mereka hanya bisa diam. Karena ketika itu, mereka sangat membutuhkan pertolongan para suster dan dokter. Mereka ingin selamat. Mereka juga ingin bayinya selamat. Sehingga mereka tak kuasa melawan sikap arogan para pelayan masyarakat itu.
Sampai kapan kondisi pelayanan yang sangat buruk itu akan dilestarikan? Bisa jadi tingginya tingkat kematian ibu dan bayi yang dilahirkan juga dikontribusi oleh buruknya pelayanan yang diterima. Mungkin saja. (*)

Iklan

One thought on “Buruknya Sistem Pelayanan Umum Kita”

  1. Ping-balik: propecia side effects

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s