Farres Tamoes

Farres TamoesSAYA sangat berharap, suatu ketika nanti, anak laki-laki ini menjadi orang berguna, setidaknya bagi kampung halamannya. Siswa kelas dua SMP Negeri 9 Kota Kupang, NTT, ini memiliki ‘sesuatu’ yang berbeda dibanding anak-anak seusia dia. Lugu, rajin, ulet, disiplin, dan cerdas.
Farres Tamoes, begitu nama anak 13 tahun asal Amfoang Selatan ini. Kebetulan dia tinggal bersama orangtua saya di Lasiana, Kupang. Dia memang dibawa bapakku dari kampung untuk disekolahkan di Kupang. Semua biaya pendidikannya ditanggung oleh bapakku dan seorang adikku.
Menurut cerita bapakku, Farres sering juara di kelasnya, kelas 1 A. Saat kelas dua, dia juga tetap meraih ranking di kelas. Padahal, setiap hari dia harus menyelesaikan banyak sekali pekerjaan di rumah.
Maklum, Farres mendapatkan model didikan zaman dulu dari bapakku yang seorang pensiunan guru. Oleh bapakku, Farres dibikinkan jadwal harian. Jadwal tersebut dimulai dari pukul 04.00 pagi sampai pukul 16.00 sore. Waktu kerja, makan, belajar, istirahat (tidur siang), bermain hingga saatnya tidur malam.
Kebetulan baru-baru ini saya libur Natal di Kupang. Selama 10 hari saya berada di rumah orangtuaku, saya memerhatikan aktivitasnya.
Pukul 05.00 pagi dia pasti sudah terlihat sibuk. Rupanya dia sudah bangun sejak pukul 04.00 pagi. Bangun pagi, dia langsung lari pagi sekitar 30-45 menit. Kemudian, dia melanjutkan aktivitasnya dengan memberi makan babi, melepas ayam dari kandang. Selanjutnya mengeluarkan beberapa ekor kambing dari kandang untuk ditambatkan di tempat yang ada rumputnya. Sekitar pukul 05.00 dia pergi mencari pakan berupa dedaunan dan rumput untuk lima ekor sapi.
Tiap hari Farres terlihat sibuk dengan aktivitas rutinnya itu. Meskipun saat itu liburan Natal dan Tahun Baru, Farres tetap mematuhi jadwal belajarnya. Tidur siangnya pun tetap sesuai jadwal. Hanya saja, di waktu-waktu antara pukul 07.00 hingga pukul 13.00 Wita, dia terlihat lebih santai karena tidak ke sekolah.
Hal yang menarik adalah ketika diajak ngobrol. Dia tidak seperti anak (maaf) suku Atoni (salah satu suku asli di Timor) kebanyakan yang umumnya pemalu dan takut-takut. Dia berbicara dengan tegas, suaranya jernih dan kelihatan berani. Ketika saya tanya, semester lalu dapat juara berapa, dia jawab, “Beta dapat juara dua. Kali ini ada kawan cewek yang juara. Tapi semester depan beta usaha untuk dapat juara satu.”
Saya bertanya tentang nilai-nilainya. Sejarah 9, Matematika 8, Fisika 7, Biologi 8, Bahasa Indonesia 9, Bahasa Inggris 8. Yah, dia memang mendapatkan nilai tinggi untuk sejumlah mata pelajaran penting itu.
Orangnya memang terlihat optimistis dan ada semacam pancaran seorang calon pemimpin di dalam dirinya. Kalau yang ini sulit dijelaskan. Ini hanya feeling saya saja ketika berbincang dengan Farres.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s