Masuk Dipermudah Pergi Seenaknya

PT LIVATECH, sebuah perusahaan perakitan elektronik di kawasan industri Kara, Batam Centre, angkat koper. Bosnya, Jackson Goh, pulang kampung ke Malaysia. Ia menelantarkan lebih dari 1.300 karyawan tetapnya. Gaji para karyawan untuk bulan Februari tidak dibayar!

Goh yang warga negara Malaysia itu mengaku tidak bisa melanjutkan usahanya di Batam lantaran sepinya order dari produsen elektronik di Jepang dan Singapura. Goh pun pergi tanpa memedulikan nasib karyawannya. Aset-asetnya senilai lebih dari Rp 50 miliar pun ditinggalkan. “Silakan dijual untuk bayar gaji,” ujarnya ketika ditemui perwakilan karyawan Livatech di Singapura.

Nilai aset tersebut lebih dari cukup untuk gaji karyawan dan pesangon. Sebab, gaji 1.300-an karyawannya untuk satu bulan terakhir “hanya” Rp 2 miliar. Sementara untuk pesangon sekitar Rp 17 miliar.

Namun, bukan soal itu saja. Yang menyakitkan adalah terlalu mudahnya perusahaan-perusahaan asing angkat koper dari Batam. Mereka seenaknya pergi tanpa pamit. Mengabaikan wibawa pemerintah, bahkan wibawa bangsa Indonesia.

Livatech bukan kasus pertama. Kasus perusahaanyang pergi tanpa pamit seperti ini adalah yang keempat di Batam. Tiga terdahulu adalah PT Singacom, Singamit, dan Bulpakindo yang beroperasi di kawasan industri Batamindo Mukakuning. Ada juga sebuah perusahaan forwarder bernama PT Daily Express, yang angkat koper dan meninggalkan derita bagi ratusan karyawannya. Meski banyak perusahaan asing yang punya itikad baik, namun tidak sedikit yang kurang sopan.

Mereka masuk Batam (dan Indonesia) dengan banyak sekali kemudahan. Mereka dilindungi, diberi keringanan pajak, tapi balasannya adalah pergi tanpa pamit hanya dengan alasan sepinya order. Apa salahnya sih permisi dulu kepada para pemangku kepentingan wilayah, di mana mereka sudah mengeruk banyak keuntungan selama ini!

Mudah ditebak. Mereka ingin lari dari tanggungjawab berupa pajak dan tanggungjawab lainnya seperti gaji dan tunjangan karyawan. Selain itu, perusahaan semacam itu memang tidak memiliki itikad baik dan tidak memiliki rasa hormat sama sekali terhadap bangsa ini.

Kaburnya sejumlah perusahaan asing harus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Supaya lain kali tidak terlalu mempermudah investor asing masuk. Harus diseleksi ketat, agar hanya perusahaan yang bonafid dan punya rasa hormat saja yang boleh masuk. Pun UU Investasi yang sementara digodok di DPR agar lebih hati-hati merumuskan pasal-pasalnya. Sebab, dalam draft yang sudah beredar, terlihat terlalu banyak kemudahan bagi investor asing dan mengabaikan azas keadilan bagi pekerja hingga kebebasan merepatriasi keuntungannya ke luar negeri. Sudah saatnya kita pilih-pilih investor. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s