Singapura (Mulai) Marah

SINGAPURA mulai marah akibat larangan ekspor pasir telah menghambat reklamasi dan pembangunan infrastruktur di negeri kecil itu. Perdana Menterinya, Lee Hsien Loong bahkan menyatakan, larangan ekspor pasir oleh Pemerintah Indonesia telah melenyapkan kesempatan kerja sama ekonomi Singapura-Indonesia.
Kita tahu bersama bahwa antara Indonesia dan Singapura tengah kerja sama mengembangkan special economic zone (SEZ) di Batam, Bintan, dan Karimun. Konsep ini pun telah menjadi harapan sebagian besar masyarakat di Provinsi Kepri, karena berharap penerapan konsep tersebut bakal mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.
Di tengah kerja sama itu, ada dua agenda besar yang menjadi pembicaraan hangat antara Pemerintah Indonesia dan Singapura. Yakni perjanjian ekstradisi dan pembahasan batas teritorial. Singapura senantiasa mengulur-ulur pembicaraan mengenai batas wilayah. Negeri Merlion pun tidak mau membuat perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
Soal batas wilayah, negeri Merlion masih enggan lantaran mereka tengah melakukan proyek reklamasi alias penimbunan pasir di laut untuk memperluas wilayahnya. Tentu saja mereka belum mau membahas perbatasan sebelum proyek reklamasi itu selesai pada tahun 2010 mendatang.
Singapura juga menolak perjanjian ekstradisi. Bagaimana tidak, di negeri itu bersembunyi banyak koruptor asal Indonesia. Padahal, para koruptor itu ikut menyebabkan kebangkrutan Indonesia dengan membawa kabur triliunan rupiah uang negara ke sana.
Meski demikian, Indonesia tidak bisa tergesa-gesa menghadapi Singapura. Meski hanya sebuah negara mini, Singapura memiliki kekuatan finansial dan sangat berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik, bahkan dunia. Dengan pengaruhnya itu, Singapura mampu mempengaruhi dunia internasional dalam berbagai perundingan politik dengan negara-negara di sekitarnya, seperti dua negara serumpun, Indonesia dan Malaysia.
Tapi Indonesia tetap belum berada di posisi dilematis hanya untuk sebuah kerja sama ekonomi. Sebab, negara ini memiliki kekayaan sumber daya manusia dan alam yang jauh lebih unggul dibanding Singapura. Sehingga soal tawar-menawar dengan Singapura, perjanjian kerja sama ekonomi tidak boleh menjadi hambatan untuk memperjuangkan sebuah nasionalisme. Dalam soal pasir dan batas wilayah, jika memang serius, maka para pengambil harus membuat keputusan tegas. Apalah artinya sebuah perjanjian ekonomi apabila kedaulatan negara tergadai dan harga diri bangsa terinjak-injak.
Soal special economic zone (SEZ) yang bakal dibantu sepenuhnya oleh Singapura, seharusnya tidak membuat Indonesia menjadi sangat bergantung pada negara itu. Sebab, kunci untuk mensukseskan program tersebut bisa dicapai sendiri. Tidak sedikit orang cerdas dan ekonom kelas dunia yang dimiliki bangsa ini. Tinggal bagaimana pemerintah lebih serius dalam pelayanan kepada para investor. Memangkas birokrasi yang berbelit-belit, memberikan kepastian hukum, dan memberantas praktik-praktik kotor aparat dan birokrat yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
Jika pemerintah mampu membuat kebijakan dan iklim investasi yang kondusif, negara ini tidak perlu bergantung kepada negara manapun. Toh, sekalipun ada bantuan Singapura, investor tidak otomatis tertarik jika iklim investasi di Indonesia, khususnya di Batam, Bintan, dan Karimun tidak menunjang. Artinya, sukses atau gagalnya SEZ, tidak berada di tangan Singapura. Bola tetap di tangan Pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah setempat.(edy)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s