Banyak Ibu di Pulau Nanga Sering Keguguran

Liputan Khusus Jelajah Pulau Tribun-Telkomsel (1)

Harian Tribun Batam memiliki program liputan jelajah pulau. Program ini telah berlangsung selama tiga tahun. Kali ini difokuskan untuk memotret kondisi kesehatan ibu dan anak di pulau-pulau dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

TIM liputan jelajah pulau bertolak dengan pompong, dari Pelabuhan Sagulung, Batam, pada pukul 12.00 WIB, Selasa (13/3/2007). Pompong adalah angkutan tradisional berupa perahu kayu yang didorong motor tempel. Pulau yang dituju adalah Pulau Nanga, di wilayah Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang, Kota Batam. Lokasinya berdekatan dengan Pulau Kore, Nipah, Tanjung Melagan, dan Pulau Sembur. Nama Pulau Nanga tidak terlihat di agenda peta resmi Pemerintah Kota Batam maupun Provinsi Kepulauan Riau.
Sepanjang pelayaran, pemilik pompong banyak bercerita mengenai kehidupan memprihatinkan yang dialami masyarakat di pulau yang kami tuju.
Cerita pemilik pompong terpampang di hadapan tim liputan tiba di pulau tersebut. Tidak hanya kurang dikenal dan tidak masuk dalam daftar peta formal, lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat di pulau tersebut tampaknya jarang tersentuh layanan pemerintah. Ini (mungkin) disebabkan jarak pulau tersebut cukup jauh. Dari pulau terdekat (Pulau Sembur) yang ada fasilitas kesehatan, harus menumpang perahu motor sekitar setengah jam perjalanan. Waktu tempuh ini bila kondisi cuaca sedang baik.
Meski demikian, layanan kesehatan di Pulau Sembur pun hanya berlangsung dari pagi hingga pukul 13.00 WIB. Di atas jam tersebut, layanan medis ditutup. Bila ada warga datang berobat di atas jam satu siang, mantri yang bertugas mengenakan biaya antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Biaya tersebut belum termasuk ongkos transportasi pergi-pulang, bagi warga yang datang dari pulau-pulau lain.
Sulitnya akses terhadap layanan kesehatan sudah pernah dialami oleh Tijah (20). Ibu muda ini sudah dua kali keguguran lantaran terlambat mendapat pertolongan medis. Istri dari Adnan (24), ini mengaku tak memahami bagaimana merawat kesehatan bayi dalam kandungannya. Apalagi, selama hamil dia tak pernah memeriksakan kandungannya.
Selain dua kali keguguran, seorang anak Tijah bernama Dani (10 bulan) juga mengalami kelainan pada kedua kakinya. Sepasang kaki bocah ini lemah dan membentuk huruf “X”. Menurut Tijah, Dani belum pernah tersentuh jarum suntik maupun imunisasi.
“Hanya sekali Dani pernah mendapat pelayanan dari dukun. Kalau kita melahirkan tinggal pakai dukun saja,” tutur Tijah dengan logat Melayu kental.
Meski Tijah adalah anak Mohd Bolong (70), Tetua Suku Laut yang mendiami Pulau Nanga, tak ada keistimewaan baginya untuk mengakses layanan kesehatan. Nasibnya sama dengan ratusan ibu lainnya yang mendiami pulau seluas kurang lebih 200 x 100 meter itu.
Dituturkan Mohd Bolong, pemahaman masyarakat Pulau Nanga terhadap kesehatan sangat rendah. Mereka tak pernah menikmati layanan seperti imunisasi, apalagi pemeriksaan kandungan. Layanan kesehatan menjadi sesuatu yang mewah dan langka bagi mereka.(bud/rnd)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s