Bidan Datang Dua Bulan Sekali

Jelajah Pulau III Tribun – Telkomsel (5)

MENJELAJAHI Pulau Tulang, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun memang sangat mengasyikkan. Untuk mencapai pulau ini, tim jelajah pulau Tribun-Telkomsel bertolak dari pelabuhan rakyat Gabion atau pelabuhan yang biasa disebut pelabuhan Pak Yusuf alias Usup.
Pulau Tulang berada di sebelah selatan Pulau Karimun Besar. Pulau ini cukup memesona dengan hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai. Menjadikannya sangat menarik untuk dikunjungi.
Pulau Tulang dapat dijangkau dalam tempo 30 menit. Pak Zainal, sang juru mudi pompong (perahu kayu), yang juga warga Pulau Tulang, dengan setia mengantar tim jelajah pulau tiba di pulau seluas 18 kilometer persegi itu. Sambutan ramah dari penduduk setempat sangat terasa begitu Tribun menginjakkan kaki di dermaga.
Secara administratif, Pulau Tulang masuk dalam wilayah Desa Tulang, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun. Sedikitnya ada empat pulau sekitar Pulau Tulang masuk wilayah Desa Tulang yakni Pulau Knipan, Nipah, dan Pulau Stunak.
Populasi Pulau Tulang saat ini 1.238 jiwa yang berasal dari 355 Kepala Keluarga. Mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan. Tak heran, banyak perahu nelayan berjejer rapi di bibir pantai.
Dengan mata pencaharian sebagai nelayan, warga Pulau Tulang tidak selamanya mujur dikala sedang melaut. Kalau lagi mujur, tangkapan bisa berlimpah dan mereka bisa membawa pulang uang lebih. “Namun, jika musim utara tiba, jangankan membeli susu untuk anak, kebutuhan untuk makan sekeluargapun kadang sulit,” ujar Zainal, Ketua RT I Desa Tulang kepada Tribun.
Di luar itu, ternyata ada kegundahan yang sangat dirasakan warga Pulau Tulang terkait pelayanan kesehatan selama ini. Ternyata pelayanan kesehatan yang diperoleh warga, terutama bagi ibu dan bayi, masih jauh dari harapan. Hadirnya sebuah Puskesmas, lengkap dengan obat-obatan dan fasilitasnya, justru tidak diikuti dengan kehadiran mantri ataupun bidan.
Padahal, di jendela Puskesmas itu terpampang dengan jelas jadwal pengobatan umum rawat jalan yang ditandatangi sendiri penanggungjawab Puskesmas yakni dokter Gunawan. Sejumlah warga yang ditanyai Tribun mengatakan sama, Puskesmas itu jarang buka.
“Semua warga di sini tahu jika Puskesmas itu jarang sekali dibuka. Coba bayangkan kalau tiba-tiba ada warga mendadak sakit. Mereka terpaksa lari ke Tanjungbalai dengan menyewa boat yang ongkosnya mencapai Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu ,” ujar Mayudin(35), seorang warga setempat.
Namun, bagi warga kurang mampu, pengobatan alternatif seperti obat ramuan kampung masih menjadi pilihan. “Seperti yang dialami suami saya kemarin. Dia mendadak sakit perut. Lambungnya perih sekali. Karena mantri tidak ada dan Puskesmas tutup, terpaksa pakai obat kampung,” ujar Jariah (52).
Tidak jarang warga Pulau Tulang memilih langsung berobat ke Puskesmas Balai, Tanjungbalai Karimun, ketika mantri tidak ada di tempat. Meskipun ada seorang pembantu mantri yang tinggal di Pulau Tulang, namun ia pun tak bisa berbuat banyak jika obat-obatan tidak tersedia.
Tidak hanya mantri, keberadaan seorang bidan juga sangat dibutuhkan warga Pulau Tulang. Setidaknya, dalam lima bulan terakhir ada tiga ibu yang melahirkan. Dua di antaranya harus lari ke Tanjungbalai untuk melahirkan.
Satu ibu lagi terpaksa melahirkan di rumahnya sendiri. Ialah Sunnati (25), warga Pulau Tulang yang ditemui Tribun di rumahnya. Di tengah keterbatasan dan sarana apa adanya, ia terpaksa melahirkan di rumahnya dengan bantuan seorang ibu tua yang pandai membantu proses persalinan.
“Orang-orang Desa Tulang biasa menyebut atau memanggilnya Ma’ Sar,” ujar Sunnati ketika ditemui di rumahnya yang sederhana, tak jauh dari bibir pantai. Berkat bantuan bidan kampung itulah, putra pertama Sunnati lahir dengan selamat.
Keluarga Sunnati menuturkan, bidan yang ditugaskan di Pulau Tulang tak rutin berada di tempat dan tidak begitu aktif. “Hanya sekali atau dua kali sebulan berada di Pulau Tulang. Selebihnya kita tidak tahu ia ada di mana,” ujar kerabat Sunnati.(zur/war)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s