Masih Andalkan Bidan Kampung

Jelajah Pulau III Tribun-Telkomsel (2)

DEBURAN ombak di bibir pantai Pulau Medang seolah menyambut dengan riangnya saat tim jelajah pulau III Tribun-Telkomsel tiba. Laut pasang dengan air jernih membuat mata bisa langsung melihat terumbu karang dan tarian ikan warna-warni di dasar laut.
Itulah sedikit gambaran keindahan Pulau Medang yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Populasinya sekitar 500 jiwa dan mayoritas nelayan. Mereka hanya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan yang jumlahnya terus menurun dari tahun ke tahun. Mungkin ini ada kaitannya dengan semakin banyaknya hutan mangrove (bakau) yang rusak.
Tapi tujuan utama tim liputan ke Pulau Medang bukan untuk mengetahui perekonomian masyarakat. Melainkan memotret kondisi kesehatan mereka, terutama ibu dan anak. Ternyata, warag Pulau Tulang memang tidak memiliki akses kesehatan memadai. Bahkan mereka masih mengandalkan bidan kampung untuk berobat maupun bagi ibu-ibu yang melahirkan.
Seperti keluarga Moes beserta istri dan dua anaknya. Ketua RT 03 Pulau Medang ini tinggal di sebuah gubuk yang sudah lapuk dimakan waktu dan cuaca. Hampir di semua sudut gubuk itu sudah berlubang sehingga tak lagi mampu menahan tiuapan angin laut.
Bahkan, ketika musim angin laut, percikan ombak bisa masuk gubuk, membuat mereka tak bisa tidur nyenyak kala malam. Gubuk keluarga ini memang terletak persis di bibir pantai, sebagaimana kebiasaan umum masyarakat di pulau-pulau.
Ketika istri Moes melahirkan kedua anaknya, ia lebih memilih melahirkan di rumah dengan bantuan dukun. Bukan karena tak ada Puskesmas. Mereka memang hanya bisa andalkan dukun karena tak ada biaya. “Kalau pakai dukun, kami bisa mencicilnya dan ia juga tak pernah menentukan biayanya. Kalau pakai bidan, mahal sekali, bisa sampai Rp 350-400 ribu. Tapi kalau hanya deman atau sakit flu biasa, kami terpaksa ke bidan supaya sembuh,” ujar Moes lugu.
Seorang kader posyandu di Pulau Medang, Neneng, mengatakan, hampir semua ibu di pulau itu memilih bantuan dukun beranak atau yang akrab mereka sebut bidan kampung. Menurut Neneng, jika terus mengandalkan dukun, sangat berisiko karena bayi dan ibunya tidak pernah diimunisasi. Sehingga mereka rentan terkena berbagai penyakit.
Toh masyarakat tetap sulit mengakses layanan kesehatan, mengingat petugas medis di Polindes Pulau Medang lebih sering berada di Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepri. “Sudah tiga hari pak, ibu bidan pergi,” kata seorang warga, awal Maret 2007 lalu.
Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Bagaimana jika ada warga yang sakit parah? “Inilah susahnya, kalau bidan pergi tidak ada penggantinya. Paling pakai obat dari bidan kampung atau tunggu bidannya pulang,” kata Pelas (58), Kepala Dusun Pulau Medang.
Terbatasnya fasilitas kesehatan juga berdampak pada keluarga Pelas. Sekitar enam tahun lalu, ia kehilangan anak kelimanya saat hendak melahirkan.”Anak saya meninggal karena ‘rahim nyangkut’. Saat itu, sebenarnya anak saya sudah didampingi bidan kampung dan juga bidan. Karena di sini tidak memiliki peralatan, makanya harus dibawa ke Tanjungpinang,” tuturnya.
“Namun, akibat cuaca yang buruk, hujan dan angin kencang semalaman saat itu, anak saya tidak bisa dibawa. Akhirnya bayi dan ibunya meninggal,” kisah Pelas sambil menerawang.
Secara keseluruhan, Pulau Medang memiliki beberapa fasilitas umum, di antaranya, Pondok Bersalin Desa (Polindes), Sekolah Dasar Negeri 015, dan Posyandu. Hanya ada seorang bidan yang didatangkan dari Pulau Tajur Biru. Namun, tidak setiap waktu bidan itu berada di tengah masyarakat. Hingga saat ini kondisi kesehatan ibu dan anak di Pulau Medang masih memperhatikan.(noe/rur)

Iklan

One thought on “Masih Andalkan Bidan Kampung”

  1. semoga kabupaten lingga, selalu memperhatikan masyarakat awam…bukan hanya memikirkan pribadinyasaja….,kami anak lingga akan terus berjuang demi memajukan negri ini…amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s