Terima Amplop Atau Tidak Ya..?

MEMANG ini masalah yang sangat dilematis. Bagaimana wartawan bisa hidup dengan gaji kecil, kebutuhan mendesak, sementara ada tawaran “bantuan” dari narasumber berupa amplop berisi sejumlah uang. Saya sendiri belum terlalu lama menjadi wartawan. Efektifnya baru sekitar 7 tahun menjadi wartawan profesional alias benar-benar menggantungkan hidup dari profesi ini. Dan sejauh itu saya selalu tidak mau menerima amplop.
Hasilnya, hidup saya memang menjadi susah dan serba kekurangan. Ketika masih di kampung, pernah cicil motor. Berkali-kali tukang tagih dari dealer motor datang ke rumah untuk minta cicilan. Saya sering nunggak sampai dua bulan lebih. Motor mau ditarik, padahal itulah sarana untuk membantu saat liputan. Tapi saya sudah rugi banyak karena sudah satu tahun mencicilnya. Akhirnya, dengan kerjaan sampingan sebagai nelayan di tengah malam dan ikut aktif di sebuah LSM, saya akhirnya bisa melunasi cicilan motor. Kebetulan ketika aktif di LSM itu, saya digaji dengan layak. Selamat deh.
Tapi godaan amplop ini sungguh luar biasa. Seringkali dia datang ketika kita benar-benar sangat membutuhkan. Ini terjadi waktu saya sudah di Batam. Suatu ketika, istri saya sudah hamil besar dan hendak melahirkan. Saya butuh uang untuk ongkos bersalin. Tapi uang dari mana? Apalagi saya hidup di rantau. Kebetulan saya mewawancarai seorang ibu, kaya, punya perusahaan cukup mapan. Dia menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu (yang ini tidak di dalam amplop). Jumlahnya mungkin satu setengah juta, atau mungkin lebih dari itu. Saya tak sempat menghitungnya.
Uang disodorkan dan saya terima. Setelah uang di tangan, hati saya menolak. Hati saya berkata, “Ini memang bukan uang haram, tapi kamu seorang wartawan. Sekali kamu terima uang itu, seterusnya kamu akan menjadi wartawan yang terbiasa menerima “sumbangan” dari narasumber. Karena profesimu, uang yang tidak haram itu telah berubah status menjadi haram.”
Tapi uang itu masih tetap dalam genggaman saya. Sampai waktunya saya harus pamit pulang, perasaan berdosa itu makin menggelitik. Akhirnya dengan permintaan maaf terhadap ibu itu, uangnya saya kembalikan. Perjalanan kembali ke kantor pun menjadi sangat ringan, tanpa beban. Saya terbebas dari perasaan berdosa.
Baru-baru ini, di minggu kedua bulan Mei 2007 ini, ada seorang dari perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia menawarkan “bantuan” kecil. Si pejabat perusahaan telekomunikasi ini awalnya ingin memberikan ‘sedikit’ uang, tapi secara halus saya tolak. Kemudian dia menawarkan pulsa yang akan ditransfer langsung kepada saya. Saya menolak, tapi dia setengah memaksa. Imbalannya hanya agar press release-nya yang agak berbau iklan saya muat di halaman bisnis koran kami.
Dia juga sudah mengirim email dengan permintaan serupa plus rilis beritanya. Saya membalas emailnya sebagai berikut:
Pak …. saya sangat berterima kasih karena Bapak mempercayai saya dan koran saya untuk bisa bekerja sama. Saya berusaha untuk membantu Bapak, dalam hal ini mengubah advertorial bapak menjadi bernilai berita. Toh informasi yang Bapak sampaikan juga ada benefitnya bagi masyarakat. Jadi, Bapak tak usah khawatir, informasi Bapak saya upayakan untuk diterbitkan. Mudah-mudahan saya tidak meleset.
Mengenai janji yang Bapak sampaikan kepada saya, sebaiknya jangan saja. Saya mohon Bapak tidak memberikan imbalan apa pun kepada saya. Mohon dimaafkan. Tapi kita akan tetap menjadi mitra, antara perusahaan Bapak dan media tempat saya bekerja. Terima kasih.
Dan saya senang telah melakukan hal itu. Sungguh menyenangkan kita bisa lepas dari godaan-godaan kecil seperti itu. Percayalah.(*)

Iklan

6 thoughts on “Terima Amplop Atau Tidak Ya..?”

  1. Hallo wartawan Depok, bagi-bagi donk, jangan dipake sendiri. Gitu donk jangan munafik, jadi mari bergabung bersama kami untuk cari amplop dan tolong donk ajarin kami cairkan dana APBD

    Suka

  2. Waduh, Gile, bajingan dan busuk tuh para watawan Depok. Usut tuntas watawan yang terima dana APBD epok 2007 itu dan Walikotanya juga, ternyata Nur Mahmudi bresek juga pake ngajarin wartawan jadi nggak benar

    Walikota goblok !!!!

    Kepada para watawan Depok, contohin tuh Mas Edi…..

    Suka

  3. waduh top banget deh mas Edi, trus jaga idealisme tidak menerima amplop atau uang atau dari siapapun dalam kaitannya menjadi wartawan ya sehingga medai massa kita menjadi media massa yang beretika, bermoral dan bertangung jawab untuk memberikan infomasi yang baik dan benar.

    Tapi sayang ya apa yang tejadi saat ini dengan para wartawan di depokyang mengatasnamakan Hiwami (Himpunan wartawan Muslim) itu dengan mencairkan dana APBD Depok 2007 sebesar masing-masing Rp. 20 juta.

    nah ni dia beritanya yang saya dapat dari milis-milis dan belum ada media massa yang memblow up menjadi beritanya (mungkin karena solidaritas sesama wartawan ya). Padahal mestinya diberitakan untuk dijadikan pembelajaran bagi wartawan dan pemerintah yang menyetujui untuk memberikan dana itu.

    Wartawan Ikut-Ikutan Makan Duit Rakyat

    Berkembang informasi yang tidak sedap di lingkungan Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Depok bahwa Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail membagi-bagikan uang kepada sejumlah wartawan melalui dana APBD Depok 2007 masing-masing sebesar Rp 20 juta.

    Mungkin inilah kenyataan kalau seorang walikota tidak memiliki visi dan misi dalam menjalin hubungan yang baik dengan pers atau wartawan. Kasus pemberian uang kepada sejumlah oknum wartawan Ini menandakan jika pemkot Depok sama sekali tidak mimiliki rasa prihatin atas penderitaan rakyat dan hanya sekedar menuruti keinginannya segelintir wartawan saja.

    Hal ini jelas sangat memprihatinkan dengan kenyataan bahwa dana APBD untuk rakyat itu dan rakyat lebih membutuhkan dana tersebut dibandingkan para wartawan yang notabenen sudah mendapat gaji dari medianya masing-masing. Ini jelas penyelewengan yang dilakukan Pemkot depok yang berkolaborasi dengan wartawan.
    Parahnya lagi sejumlah oknum wartawan ini berkedok di balik organisasi membawa nama Islam untuk dapat mencairkan dana APBD Depok 2007 itu. Jelas itu akal-akalan Pemkot Depok dan wartawan saja untuk membohongi rakyat.

    Dugaaan sejumlah wartawan yang mencairkan dana APBD Depok 2007 yang direstui Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail melalui proposal yang diajukan atas nama HIWAMI Depok (Himpunan Wartawan Muslim Indomesia) itu, yakni :
    Ketua : Helmi Halim ( Post Metro)
    sekretaris : Feru Lantara (Antara)
    Bendahara : Juni Armanto (Indo Pos)
    Anggota : Ratu Munawaroh (Elshita), Fauzan (Junal Indonesia), Andrea (Nostop), Yusuf (Republika) dan Suwandi (Pelita)

    INI HARUS DIUSUT TUNTAS DEMI NAMA BAIK PERS INDONESIA

    Suka

  4. Doakan saya untuk mampu seperti kakak sepupu saya ini….
    Saya bercita-cita jadi wartawan, sejak melihat sosok wartawan dalam dirinya.
    Apa yang ditulisnya dalam cerita di atas, adalah fakta.
    Bu Eddy……… Beta su menyusul Ooooooooooo


    El Jadi wartawan di mana? Mulai kapan?

    Suka

  5. Ya ampun Mas Eddy… pernah nyambi nelayan sambil jd wartawan?! Walah…
    Tapi dari sini ika jadi makin semangat untuk ngefreelance ngirim tulisan cerpen dan artikel anak muda di media lain. Yang penting dapat duit halal dan barokah deh. Biarpun temen2 udah nggak jelas justrungnya, ika sih emang masih percaya, rejeki ada sendiri2 kok. Ya kan Mas Eddy…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s