Borong Apartemen Mewah di Singapura

LUAR BIASA! Sepanjang tahun 2006 saja, ada 1.000 apartemen dan kondominium mewah di Singapura diborong oleh orang-orang kaya dari Indonesia. Begitu laporan hasil riset Jones Lang LaSalle, sebuah perusahaan broker dan riset properti global.
Menurut riset itu, rata-rata apartemen dan kondominium yang dibeli itu berharga antara Rp 30 juta sampai Rp 70 juta per meter persegi. Atau satu unit apartemen dan kondominium yang dibeli itu seharga kira-kira Rp 30 miliar sampai Rp 40 miliar!
Jika mengambil nilai tengah dari harga tersebut, taruhlah seharga Rp 35 miliar per unit, pada tahun 2006 saja orang-orang kaya dari Indonesia telah membelanjakan uang mereka di Singapura sebesar Rp 35 triliun. Itu baru hitungan dengan nilai paling rendah dan hanya pada tahun 2006.
Pertanyaannya, begitu kaya kah orang-orang Indonesia? Dari mana orang-orang kaya itu mendapatkan kekayaannya sehingga mampu membeli barang mahal sebanyak itu?
Padahal, Indonesia adalah negara berkembang yang masih miskin. Itu pengakuan’ orang Indonesia sendiri yang juga diamini dunia internasional. Meski memiliki wilayah luas dan kekayaan alam berlimpah, tidak ada jaminan bagi paling tidak 50 persen saja dari orang di negeri ini untuk hidup sejahtera. Distribusi kekayaan di negara ini masih dalam genggaman segelintir orang-orang berkuasa, atau setidaknya berada di sekitar lingkaran kekuasaan.
Kekuasaan dimaksud, bukan saja bagi mereka yang berada di sekitar penguasa saat ini, tetapi juga mereka yang sejak kakek-neneknya dahulu sudah berada di lingkaran serupa pada zamannya masing-masing.
Untuk kelompok yang disebutkan terakhir, boleh dikata pada zaman kakek-neneknya sudah berpikir untuk mewariskan kekayaannya hingga tujuh turunan di bawahnya. Istilahnya, kekayaan mereka takkan habis dimakan sampai tujuh turunan.
Tak heran hingga saat ini masih ada begitu banyak orang kaya yang masih menikmati kekayaan yang ditinggalkan 5 atau bahkan 6 generasi di atas mereka. Atau paling tidak, pengaruh kakek-neneknya masih memberikan keuntungan politis dan ekonomis bagi mereka.
Kalaupun ada orang-orang di luar lingkaran itu yang berhasil pada masa-masa sekarang di republik ini – dengan tidak bermaksud mengabaikan jerih payah luar biasa mereka – boleh jadi mereka itu hanyalah orang-orang beruntung. Lantaran kebetulan’ memilih jalur yang pas menuju akses kesejahteraan material.
Kondisi yang sangat rumit dan kompleks itu semakin menutup akses bagi orang-orang biasa untuk mencapai level sejahtera secara ekonomis. Orang-orang biasa harus jumpalitan, berusaha seratus kali lebih berat sebelum mencapai mimpi itu. Sebaliknya mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dengan mudahnya bisa menikmati kesejahteraan material itu. Sementara di sisi lainnya, mayoritas penduduk Indonesia bahkan tak mampu membeli makanan yang merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar.
Sehingga maraknya pembelian apartemen dan kondominium mewah dan mahal oleh orang Indonesia di Singapura, tentu melukai rasa keadilan bagi saudara-saudara setanah airnya. Terlepas dari bagaimana pun cara mereka bisa mendapatkan kemewahan itu.
Alangkah lebih baiknya mereka memanfaatkan kekayaan yang melimpah itu untuk menggerakkan sektor riil di dalam negeri sehingga membuka lapangan kerja bagi sesama saudaranya di Tanah Air. Daripada membiarkan rakyat negeri ini senantiasa terkungkung dalam kemiskinan dan banyak di antaranya yang terpaksa menjadi babu di berbagai negara, sekaligus menjatuhkan martabat bangsa ini di mata negara lain. Bahkan di mata negara serumpun, Malaysia, yang hanya mau menyebut para TKI dengan sebutan Indon yang berkonotasi negatif dan melukai harga diri segenap bangsa Indonesia.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s