Indonesia “Kuasai” Singapura

PEMBICARAAN perjanjian kerja sama pertahanan atau defence cooperation agreement (DCA) RI-Singapura boleh memanas. Tapi hal itu sama sekali tidak mengganggu hubungan kedua negara, terutama bagi para maniak belanja.
Lihat saja hari-hari belakangan ini, justru orang Indonesia ‘menguasai’ Singapura. Batam yang bersebelahan dengan Negeri Merlion, sekaligus menjadi tempat transit orang-orang Indonesia dari berbagai wilayah, bisa melihat orang berbondong-bondong ke sana.
Dua hingga tiga hari belakangan ini, terjadi peningkatan aliran manusia yang turun di Bandara Hang Nadim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Singapura melalui terminal feri Batam Centre dan Harbour Bay di kawasan Jodoh. Antrean panjang manusia di kedua terminal feri itu mengular, lebih padat dari hari-hari biasanya.
Ada apa gerangan sehingga begitu banyak orang Indonesia berbondong-bondong ke negara kota itu? Siapa saja orang-orang itu?
Tingginya aliran manusia itu terkait dua even besar yang digelar Pemerintah Singapura melalui Singapore Tourism Board (STB) yakni Great Singapore Sale (GSS) 2007 serta CommunicAsia 2007 & Enterprise IT 2007 yang dimulai Selasa (19/6) kemarin.
Jelaslah kepentingan orang-orang Indonesia di sana. Pantauan di berbagai pusat perbelanjaan di Singapura, dengan mudah orang-orang Indonesia bisa dikenali. Dari tampang dan tentu saja bahasa yang digunakan. Tak sedikit yang menggunakan bahasa Jawa. Mereka memenuhi pusat-pusat perbelanjaan, terutama di kawasan Orchard Road. Mereka mensukseskan program diskon besar- besaran melalui GSS yang digelar setahun sekali oleh STB itu.
Orang-orang Indonesia, terutama kaum ibu dan remaja putri, benar-benar memuaskan hasrat belanjanya. Kelihatannya mayoritas mereka adalah orang-orang ‘berada’, karena terlihat sangat royal dalam berbelanja. Entah berapa banyak duit yang dibawa masing-masing orang itu.
Tentengan mereka gila-gilaan. Satu orang bisa menenteng dua sampai tiga kantong kertas bertuliskan nama gerai tempat mereka berbelanja. Barang yang dibeli pun dari merek-merek terkenal dan tentu saja mahal. Barang belanjaannya kebanyakan fashion dan aksesories.
Cerita itu menggambarkan perilaku orang kaya Indonesia yang cenderung kurang memiliki sensivitas sosial. Sangat suka menghambur-hamburkan uang di negeri orang. Fakta ini bisa dilihat dari data yang dikeluarkan STB. Tahun 2006 lalu, jumlah wisatwan Indonesia ke Singapura tercatat 1,92 juta orang dari total 9,7 juta wisatawan. Di tahun yang sama, khusus pengunjung GSS yang berlangsung delapan minggu, berhasil menarik 360 ribu shopper Indonesia. Rata-rata tiap orang membelanjakan uangnya sebanyak Rp 7 juta, belum termasuk pengeluaran untuk transportasi dan penginapan.
Bila rata-rata shopper menghabiskan Rp 10 juta saja, maka dalam delapan minggu saja, uang dari Indonesia yang mengalir ke Singapura mencapai Rp 3,6 triliun. Jangan lupa, orang Indonesia tak hanya suka shopping, mereka, para orang kaya, juga doyan memborong properti di negeri kecil itu. Bisa dibayangkan betapa derasnya devisa mengalir keluar dari Indonesia ke Singapura.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s