Nikmatnya Hidup Tanpa Ponsel

HARI gini gak punya handphone…??? Tapi begitulah diriku sekarang. Tidak memiliki alat komunikasi canggih itu. Padahal, hampir semua orang saat ini petantang petenteng membawa alat komunikasi portabel itu. Ada yang memang sangat butuh karena terkait erat dengan pekerjaan, ada yang butuh buat memudahkan komunikasi dengan keluarga, sahabat, kekasih, dll, tapi ada juga yang sekadar buat gaya.
Saya seharusnya berada pada kategori pertama. Karena berprofesi wartawan, alat komunikasi ibarat “kunci inggris”. Kita dengan mudah menghubungi atau dihubungi di manapun berada. Tapi sudah dua bulan saya tidak pakai handphone. Otomatis komunikasi dengan rekan kerja maupun narasumber jadi terganggu.
Sebenarnya saya tidak sengaja tak memakai handphone. Gara-garanya satu handphone GSM saya rusak karena sering dibanting-banting oleh Michelle dan Theo. Hanphone itu akhirnya pensiun setelah digunakan sekitar dua tahun.
Sekitar enam bulan lalu, saya memperoleh sebuah handphone CDMA merek Nokia dengan cara kredit. Sudah kredit, harganya murah pula. Baru dipakai empat bulan, handphone itu rusak. Kali ini bukan karena dibanting-banting oleh kedua anakku itu, tapi rusak sendiri. Teman2 lain yang menggunakan handphone serupa (dengan cara mendapatkan yang sama) juga sering jengkel dengan “kelakuan” handphone itu. Tapi sayalah yang paling sial karena punyaku rusak total. Padahal cicilan kreditnya belom lunas.
Mau aku servis, tapi ongkos servisnya hampir sama dengan beli baru. Tambah sedikit lagi sudah bisa beli yang bekas. Cuma itu, bujet saya akhir-akhir ini mengalami sedikit gangguan karena Michelle – anak pertama ku – sedang butuh ongkos sekolah. Taulah…ongkos sekolah di Batam ini kan supermahal. Jutaan bos… Apalagi saya juga sedang menjalankan usaha kecil2an yang cukup menyedot ‘celengan’.
Begitulah, akhirnya sampai sekarang saya gak pake handphone. Teman2 mungkin agak kesal karena saya sulit dihubungi. Padahal, mungkin mereka mau menyampaikan hal penting. Atau ada instruksi yang harus saya lakukan. Mau bagaimana lagi… terpaksa saya harus menunggu sampai ada bujetnya. Mungkin tiga bulan lagi… empat bulan lagi… atau bisa saja lebih cepat dari itu.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, hidup tanpa handphone itu nikmat juga. Serius. Kalau dulu handphone krang..kring melulu tak kenal waktu, sekarang tak ada lagi “gangguan” itu. Hidup ini terasa lebih tenang. Tidur pun jadi lebih nyenyak…heheee…

AWAS… KHUSUS WARTAWAN, DILARANG MEMPRAKTEKKAN ALINEA TERAKHIR TULISAN INI SECARA SENGAJA. ANDA BISA BONYOK DIHAJAR REDAKTURMU….!!!

Iklan

One thought on “Nikmatnya Hidup Tanpa Ponsel”

  1. pantesan……………….
    Om saya hubungi beberapa kali, operator bilang “tolong cek no yang anda tuju.”
    Tapi menurut keluarga Om, nomornya nggak salah.
    Ternyata…….. lagi nikmati hidup tanpa ponsel ya…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s