Paradigma Sekolah Unggulan Perlu Diubah

PENERIMAAN siswa baru atau PSB dibuka sejak 2 Juli 2007 kemarin. Banyak orangtua menyerbu sekolah-sekolah unggulan untuk mendaftarkan anak-anak mereka. Mereka berharap, dengan mendaftarkan anak-anaknya di sekolah unggulan maka prestasi anak-anaknya pun bisa moncer. Sayang, banyak calon murid yang ditolak sekolah-sekolah unggulan karena tidak masuk kriteria yang ditetapkan sekolah bersangkutan.
Maaf, sekolah unggulan hanya untuk murid dengan kemampuan akademik dan prestasi di atas rata-rata. Dalam rekrutmen siswa, sekolah-sekolah unggulan hanya mau menerima calon siswa yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Prinsipnya, sekolah unggulan ya harus memilih murid-murid yang unggul pula.
Lagipula, fasilitas penunjang pendidikan di sekolah unggulan pun biasanya lengkap. Ini sangat membantu para guru dalam menyampaikan ilmu yang diajarkan. Fasilitas yang lengkap juga sedikit banyak membantu meningkatkan daya serap ilmu pengetahuan oleh siswa.
Akhirnya, di akhir tahun ajaran, murid-murid dari sekolah unggulan lah yang keluar sebagai para peraih nilai tertinggi. Nilai mereka jauh di atas nilai rata-rata murid pada umumnya. Prestasi mereka pun mentereng. Pada akhirnya, murid-murid dari sekolah unggulan itu pula yang lebih mudah mengakses tingkat pendidikan tinggi yang lebih baik. Mereka juga lebih mudah mengakses pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Ada sekolah unggulan, tentu ada sekolah non unggulan. Sekolah-sekolah yang non unggulan adalah sekolah-sekolah yang “terpaksa” menerima semua kategori murid. Mereka yang ‘tak layak’ dalam perspektif sekolah unggulan, mau tak mau harus masuk sekolah non unggulan. Mereka tak punya pilihan lain, karena harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Celakanya, sekolah-sekolah non unggulan (biasanya) tidak memiliki fasilitas penunjang pendidikan yang memadai, bahkan seadanya. Hampir bisa dipastikan, output dari sekolah non unggulan pun pas-pasan. Bahkan sudah sangat bersyukur bisa lulus. Masa bodoh berapa pun nilai yang diraih, yang penting lulus. Akhirnya, akses mereka ke jenjang pendidikan di atasnya pun lebih sulit. Kesulitan mereka akan berlanjut hingga saatnya memasuksi dunia kerja, ketika mereka harus bersaing menghadapi manusia-manusia unggul.
Ibarat seorang pembuat pedang yang menerima pedang yang hampir jadi, digosok-gosok sedikit, lalu jadilah pedang yang tajam. Sementara pembuat pedang lainnya hanya menerima bahan yang benar-benar mentah, diharuskan membuat pedang tajam dalam tempo yang sama dengan tukang pedang yang menerima bahan hampir jadi. Bukankah pembuat pedang yang hebat adalah yang mampu menempa sebongkah besi menjadi pedang yang tajam?
Pertanyaannya, apakah layak para pengelola “sekolah unggulan” mencap institusinya sebagai sekolah unggulan? Pantaskah mereka mentahbiskan dirinya sendiri atau ditahbiskan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang unggul? Padahal, murid-murid yang diterima pada dasarnya adalah ‘bahan’ jadi? Artinya, sebuah lembaga pendidikan yang unggul adalah yang bisa menempa orang-orang biasa menjadi manusia-manusia pintar dan unggul. Dalam kenyataannya, “sekolah-sekolah unggulan” hanyalah lembaga pendidikan yang mengumpulkan murid- murid cerdas dan berprestasi. Dipoles sedikit, jadilah murid-murid cerdas dan berprestasi.
Demikianlah fakta yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Provinsi Kepri. Sekolah-sekolah ungggulan hanya mau menerima murid-murid berprestasi dan bernilai tinggi. Dengan demikian, (maaf) para pengajarnya tidak perlu mengeluarkan energi ekstra untuk memoles para muridnya. Sebaliknya, para pengajar di sekolah-sekolah non unggulan, dengan fasilitas pendidikan seadanya, harus bekerja lebih keras supaya murid-muridnya bisa memahami apa yang diajarkan.
Dengan demikian, sudah saatnya paradigma mengenai sekolah unggulan harus diubah. Sebuah sekolah bisa dikatakan unggul apabila mau menerima siapa saja menjadi muridnya untuk selanjutnya ditempa menjadi manusia-manusia berkualitas. Sementara sekolah non unggulan yang menghasilkan murid-murid berprestasi, sepantasnya mendapatkan penghargaan khusus karena mampu mengubah murid-murid biasa menjadi murid-murid berprestasi.
Sudah saatnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan, menyediakan fasilitas pendidikan yang seragam untuk seluruh sekolah. Seleksi terhadap para pengajar pun perlu diperketat. Supaya hanya orang-orang yang benar-benar memenuhi syarat lah yang boleh menjadi guru. Bukan menerima orang yang hanya mencari pekerjaan. Bila semua fasilitas dan standar guru sudah disamakan, kemudian ada lembaga pendidikan tertentu yang mampu menghasilkan output lebih berkualitas, maka lembaga pendidikan seperti inilah sesungguhnya boleh ditahbiskan sebagai sekolah unggulan. Sudah saatnya paradigma sekolah unggulan diubah. Bukan sekolah-sekolah “unggulan” yang hanya bisa pilih-pilih murid.(eddy)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s