Kecerobohan Saya

Lagi-lagi saya melakukan kesalahan fatal. Bayangkan, judul headline berita di halaman 12 bisa salah! Seharusnya “Aceh Menuju Referendum” tertulis “Aceh Menuju Refendum”. Luar biasa! Kurang teliti dan sungguh ceroboh. Apa kata pembaca nanti???
Tak hanya itu, beberapa makom di halaman utama juga keliru. Tapi mau bagaimana… sudah kejadian. Yang bisa dilakukan hanyalah lebih teliti di edisi-edisi selanjutnya.
Sebelum-sebelumnya pun terjadi banyak kesalahan cukup fatal. Ada judul yang nyaris sama persis dengan berita yang sudah pernah terbit sebelumnya. Pernah juga salah tulis pangkat polisi. Tapi namanya penyesalan memang selalu datang kemudian. Lagi-lagi, yang bisa dilakukan hanyalah selalu berusaha untuk lebih baik di hari-hari selanjutnya. Karena bagaimana pun, sayalah yang paling bertanggungjawab atas semua kesalahanlahan itu. Dalam hati juga saya berkata,”Kamu adalah orang yang paling bertanggungjawab atas semua kesalahan itu. Ingat, sekali-kali kamu tidak boleh menimpakan kesalahan itu pada orang lain. Karena kualitas produk adalah tanggungjawab kamu…!
Tapi agak mengherankan juga. Kenapa kesalahan selalu terulang? Padahal saya sudah berusaha untuk lebih berkonsentrasi. Berusaha untuk lebih teliti. Setiap pulang rumah, sekitar pukul 02.00 dinihari, saya merenung. Terkadang tanpa sadar hari sudah pagi dan saya sudah menghabiskan sebungkus rokok. Saya tak pernah memikirkan apa kata orang mengenai kesalahan yang sudah saya lakukan. Yang selalu saya pikirkan adalah kenapa kesalahan itu bisa terulang?
Kendati begitu, saya selalu mengambil hikmah. Karena saya yakin, seiring waktu berjalan, saya akan semakin terbiasa dengan tanggungjawab ini. Sehingga di suatu titik saya pasti bisa lebih teliti.
Sedikit bernostalgia… kondisi ini sama halnya ketika saya masih baru menjadi wartawan. Saya sering salah kutip pernyataan narasumber. Bahkan saya pernah menulis berita hanya dari penuturan satu pihak, tanpa mengonfirmasi ke pihak lain. Padahal berita itu menyangkut konflik yang sangat pelik dan di saat situasi sangat tidak kondusif. Ini terkait kasus lepasnya Timor-Timur tahun 1999 silam. Silakan bayangkan sendiri dampak pemberitaan itu…
Tapi akhirnya, di hari-hari kemudian menjadi lebih baik. Ini karena ada pelajaran yang saya peroleh dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s