Malaysia Caplok Lagu Rasa Sayange

Rasa Sayange

Rasa sayange..rasa sayang sayange
Lihat nona dari jauh…rasa sayang sayange

Kutipan itu menjadi semacam chorus. Bait selanjutnya diganti dengan pantun yang bisa ditukar-tukar.
Selain lagu Rasa Sayange, ada satu lagu lagi berjudul Kole-Kole yang biasa kami nyanyikan sambil berbalas pantun.

SEMINGGU terakhir ini saya sangat terusik dengan isu Malaysia mencaplok lagu Rasa Sayange. Versi Malaysia Rasa Sayang saja tapi dengan irama dan cara menyanyikan yang sama. Lagu ini dicaplok untuk promosi pariwisata mereka. Secara pribadi saya sendiri nggak tahu persis dari mana asal lagu itu dan siapa penciptanya. Namun sejak kecil saya memang sering mendengar lagu itu dan bahkan sering dan suka menyanyikannya.
Saat masih di kampung (di Kupang, NTT), saya biasa menyanyikan kedua lagu itu dengan iringan juk atau okulele (semacam gitar kecil dengan empat senar). Sebagai mantan nelayan, saya paling sering menyanyikan kedua lagu itu di tengah laut, ketika sedang mencari ikan malam hari. Bersama teman-teman sesama nelayan, kami biasa berbalas pantun dengan kedua lagu tersebut.
Juga biasa kami nyanyikan untuk berbalas pantun ketika begadang di rumah kerabat yang meninggal. (Tradisi di kampung saya, setelah orang yang meninggal dikuburkan, biasanya kerabat dan kenalan datang begadang – istilahnya mete-mete – bersama mereka. Tujuannya untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan).
Atas dasar berbagai kebiasaan turun-temurun itu, saya yakin bahwa lagu Rasa Sayange memang lagu rakyat hasil karya orang Ambon. Kebetulan budaya orang NTT (terutama Rote dan Timor) mengalami banyak percampuran budaya dengan Ambon. Sehingga kami di NTT juga meyakini lagu Rasa Sayange adalah karya orang Ambon, Maluku.
Tiba-tiba, Malaysia sudah menggunakan lagu tersebut dalam situs http://www.rasasayang.com.my untuk mempromosikan pariwisata negaranya. Mulai dari nama situs hingga pemasangan lagu tersebut yang bisa diklik dan didengar di seluruh dunia. Otomatis, ketika orang-orang dari negara lain mengklik lagu itu, mereka akan langsung berasumsi bahwa itu adalah lagunya orang Malaysia.
Namun Malaysia berkilah, lagu tersebut adalah lagu di Kepulauan Nusantara alias lagu rakyat di negeri mereka. Mereka bahkan menantang Indonesia untuk membuktikan kalau memang lagu itu hasil karya cipta orang Indonesia. Menteri Pariwisata Malaysia bahkan minta Indonesia untuk menyebutkan siapa pencipta lagu itu.
Menurut saya, kita juga bisa balik bertanya, “Memangnya siapa orang Malaysia yang menciptakan lagu itu?” Atau, “Memangnya mereka tahu siapa pencipta lagu itu?” Lho…kok jadi emosional begini?:)
Jika memang Pemerintah Malaysia menganggap mereka adalah bangsa terhormat, yang menghargai karya cipta orang lain, mestinya mereka mencari tahu siapa pencipta lagu itu sebelum digunakan. Nah lu..makin emosional deh…:))
Saya teringat sebuah iklan di Harian Kompas. Iklan itu untuk mencari tahu siapa pencipta lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. Karena lagu itu akan digunakan untuk produksi iklan sebuah produk di televisi. Dalam iklan itu disebutkan, jika sampai batas waktu yang ditentukan dan tidak ada yang mengaku sebagai penciptanya, maka perusahaan itu akan menggunakan lagu tersebut tanpa berkewajiban membayar royalty kepada siapa pun.
Hemat saya, untuk menggunakan karya-karya seperti lagu Rasa Sayange, yang penciptanya nyaris tak diketahui, mestinya Malaysia juga memasang iklan serupa.
Namun catatan untuk kita sendiri, Negara Indonesia, mestinya juga tidak lagi masa bodo terhadap hal-hal seperti ini. Sebab, batik, tempe, rendang, dan banyak lagi kebudayaan asli bangsa kita telah dipatenkan oleh bangsa lain. Tapi kita hanya bereaksi dan ribut-ribut ketika sudah menjadi persoalan seperti saat ini. Padahal, sesungguhnya kita memiliki banyak sekali lembaga yang bisa menjalankan fungsi-fungsi melestarikan budaya bangsa.
Misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Dinas Pendidikan?). Kebetulan kakak saya di kampung (namanya Yustus Mesakh) bekerja pada dinas tersebut di wilayah Kabupaten Kupang, Kecamatan Kupang Tengah. Dia dipercaya sebagai Penilik Kebudayaan yang kerjaannya mengumpulkan berbagai karya seni, cerita-cerita rakyat, lagu, puisi, dan sebagainya. Kemudian dia mencatat itu sebagai karya asli masyarakat di Kabupaten Kupang, khususnya Kecamatan Kupang Tengah. Bertahun-tahun dia mengerjakan hal itu.
Sayangnya, hasil kerja keras kakak saya itu hanya berhenti sampai tingkat pengumpulan dan pendokumentasian di kantornya yang hanya level kecamatan. Tak ada langkah lanjutan, misalnya disimpan museum daerah atau nasional. Atau bahkan dipatenkan bila memang ada yang perlu dipatenkan. Akibatnya ya seperti lagu Rasa Sayange itu.(*)

Iklan

10 thoughts on “Malaysia Caplok Lagu Rasa Sayange”

  1. Koq bisa gitu ya malaysia itu? asal embat! tapi sebenarnya ini salah siapa ya? salah indonesia yang tidak segera mempatenkan lagu ini, apa salah malaysia yang ngaku-ngaku?

    Suka

  2. Mengapa harus dibersarkan perkara sekelumit. memang benar itu lagu rakyat berasal dari kepulauan nusantara. sebelum merdekar dan dan dipecah pecahkan provinci sebetulnya nusantara hanya ada satu. disini kita harus lihat banyak isu yang lebih besar lagi untuk mana mana pihak selesaikan dari menuding jari dan beremosi dengan keanak anakan.

    Lihat saja apabilah satu pihak dilanda musibah tidakah pihak jiran anda juga yang segera menghulurkan tangan. tetapi itu semua tidak di besarkan melainkan yang nagetif . Ada dua juta pendatang Indonesia mencari nafkah di malaysia sama ada masuk secara sah atau secara haram. Itu bisa saja ada peristiwa ditindas majikan atau diperlakukan kurang enak. Jika dikaji mengapa haru berlaku begini , jawabannya sekiranya tiada kartus sah berkerja maka mudah diperlakukan sewenangnya maka salah kan diri sendiri sebelum menuding orang lain.

    sebelum kita berimosi lihat saja apa yang ada pada kita. sekiranya sudah difikirkan kita sudah hebat mengapa perlu susah menyeberang lautan sedangkan disana kita ambil dan disana juga kita baling najis bererti kita sendiri tidak pernah berterima kasih.

    Umum mengetahui Indonesia sering kali berkonfrontasi dengan jirannya apabila di dalam sendiri gawat. Lugu lagu yang didendangkan bersama akan sumbang sekiranya dinyanyikan tidak sama temponya maka kita sendiri yang membatasi persembahan dipentas dunia lakonan omogan yang kononnya mahu bersatu tetapi nada suaranya gawat.

    Suka

  3. gak perlu tersinggung sama sebutan ‘indon’
    kita emang ‘indon’, seperti ‘singaporean-kiasu'(-sebutan bagi orang singapura) menyebutkan ‘malay’ bagi orang pribumi malaysia, ‘bangla’ bagi orang bangladesh, ‘pinoi’ bagi philipino dan ‘ang-mo’ bagi bule, dstdst..
    itu cuma istilah saja.
    balik ke konteks, rasa sayange emang kepunyaan kita..
    salam kenal mas Eddy.
    piss.

    Suka

  4. Malaysia itu sudah menganggap Indonesia sebagai negara kacangan, liat aja mulai batik, ambalat, sate, lagu bahkan patok perbatasan pun di embat.

    Mereka bukan saudara kita lagi

    mereka adalah musuh

    Saudara tidak pernah seperti itu

    Mempermainkan yang lemah

    mereka menganggap kita lemah

    Apalagi ras india di malaysia yang begitu benci pada kita

    Hingga menyebut kita “INDON”

    Tunggu saja pembalasan kami

    Undergroun Community tak akan tinggal diamm!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s