Berpulang dalam Kesederhanaan

* Jusuf Ronodipuro  

SAAT perhatian bangsa Indonesia tertuju pada berita meninggal mantan Presiden RI yang ke-2, Soeharto, Minggu (27/1/2008),  Indonesia kehilangan M Jusuf  Ronodipuro, orang yang berperan besar menyebarkan kabar Proklamasi.
Jusuf adalah orang yang pada 17 Agustus 45 secara sembunyi-sembunyi  menggunakan radio militer Jepang di Jakarta untuk menyiarkan naskah Proklamasi RI.
Jusuf  wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta, Minggu   pukul 23.20 WIB akibat menderita komplikasi paru-paru dan stroke. “Sebenarnya bapak sudah masuk ICU (intensive care unit) di RSPAD sejak 14 Desember,” ucap Dharmawan Ronodipuro, putra sulung  Jusuf, saat ditemui di rumah duka, Senin (28/1/2008).
Tapi, Dharmawan bercerita, sebelumnya, sejak Juni 2007, bapaknya sudah keluar masuk RS karena stroke. Bulan Oktober, dokter menemukan kanker paru-paru dikarenkan M Jusuf  perokok. “Dan akhir Desember, dokter memberitahukan bahwa ginjal bapak sudah tidak berfungsi lagi. Mereka hanya berkata akan berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan,” lanjut dia.
Sejak itu, pernapasan pendiri RRI ini dibantu alat pernafasan (ventilator). Meski, kata Dharmawan, bapaknya masih sadar. Otaknya masih jalan. Juga, bisa berkomunikasi melalui perantara papan dengan dilengkapi abjad. Dengan medium itu, M Jusuf berkomunikasi dengan tiga anak dan enam cucunya.
Lewat perantara medium papan itu pula, Jusuf yang kelahiran Salatiga, 30 September 1919, ini menyampaikan pesan terakhirnya sebelum menghembuskan napas terakhir. “Beliau tulis “jaga mama”. Itu pesan bapak pada kami,” lanjut Dharmawan.
Keberanian Jusuf memang pantas diberi penghargaan. Dia menyiarkan naskah proklamasi Kemerdekaan RI melalui radio militer Jepang meski taruhannya nyawa. Naskah proklamasi itu dibawa oleh Syahruddin, wartawan kantor berita Domei yang masuk tempat siaran dengan cara melompat pagar.
Atas tindakannya itu, Jusuf  ditahan dan disiksa Kempetai Jepang. Luka akibat siksaan itu masih membekas di kakinya hingga ia tutup usia. Namun, intimidasi itu tak membuatnya kapok. Dia terus berjuang demi negara, melalui caranya sendiri.
Namun, meski berperan besar dalam menancapkan tonggak kemerdekaan bangsa ini, wafatnya Jusuf nyaris luput dari perhatian. Jauh berbeda dengan perlakuan yang diterima oleh Soeharto. Prosesi pemakaman Jusuf digelar dengan sangat sederhana. Hanya sekitar 100 orang yang turut mengantar jenazah almarhum ke TMP Kalibata. Karangan bunga yang mampir ke kediamannya di Talang Betutu, Jakarta Pusat sangat sedikit.
“Bapak itu orangnya sederhana. Sangat biasa. Tapi sangat nasionalis. Beliau juga tidak pernah merasa dirinya menjadi pahlawan. Dia merasa apa yang dia lakukan, merupakan sebuah kewajiban,” kata Dharmawan sambil menyeka airmatanya.
Direktur RRI, Parni Hadi  mengatakan, kesalahan jika apresiasi terhadap sosok Jusuf Ronodipuro sangat minim. “Memang dibanding Pak Harto, Pak Jusuf mungkin kalah populer. Tapi dari segi pengabdian, hanya Tuhan yang tahu,” kata Parni.
Di mata Jakob Oetama, pendiri dan Presiden Komisaris Kompas Gramedia, Jusuf  terkenal sebagai manusia sederhana. “Beliau orangnya sederhana. Bicaranya santai tapi bermakna,” kata Jakob Oetama di rumah duka.
Selain Jakob Oetama,  hadir Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono, sejarawan Taufik Abdullah, presenter Tantowi Yahya,  dan juga artis film Jajang C Noer. “Kita kehilangan pejuang kemerdekaan dan juga pejuang penegak diplomasi penerangan dan diplomasi budaya,” kata Menhan Juwono Sudarsono.
Tantowi Yahya mengaku empat tahun terakhir dekat dengan almarhum karena memimpin PPIA.  “Apa yang almarhum perbuat, kalau saja diangkat menjadi berita, benar-benar akan menggugah rasa kebangsaan kita. Beliau berani mengambil keputusan patriotisme yang dampak dan risikonya luar biasa besar,” kata Tantowi.
Tantowi, menyayangkan dalam lembaran sejarah kebangsaan, banyak pelaku sejarah yang terlupakan. Salah satunya adalah almarhum. Ia mengatakan, mayoritas orang masih terlena bahwa yang disebut pahlawan itu yang memanggul senjata. “Padahal, kata dia, para pemikir, konseptor juga almarhum yang berjuang dengan caranya sendiri, memanfaatkan media yang ada, juga sangat berjasa. Kontribusinya tidak kalah dengan militer,” lanjut penyanyi country ini.
Kemarin, pukul 12.15 WIB, jenazah almarhum Jusuf  dilepas dari rumah duka. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo yang bertindak selaku wakil keluarga, menyerahkan jenazah kepada pemerintah yang diwakili inspektur upacara Direktur Kesehatan Departemen Pertahanan, Brigjen Mohamad Joesro, untuk dimakamkan secara militer di TMP Kalibata, Jakarta.(persda network/had)

Iklan

One thought on “Berpulang dalam Kesederhanaan”

  1. walaupun terlambat tidak ada salahnya mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya, semoga arwah almarhum diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa, Amiin

    apa kabar bung mesack…..mampir n kasi komentar di blog saya, saya sedang belajar menulis biar mantap seperti bung mesack, salam

    http://eddyprasetyo-pwr.blogspot.com

    ================

    Sesama Eddy dilarang saling mendahului….hehehee… Apa kabar bang? Lagi sibuk program apa sekarang? Kapan2 kita lanjutkan berbagai obrolan tempo hari….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s