Dibantu Juwono Sudarsono

Posted on: Wednesday, 30 January, 2008 16:16
Author: Louisa Tuhatu
Subject: Jusuf Ronodipuro

Jusuf RonodipuroBERITA beban keuangan untuk menanggung biaya pengobatan Bapak diangkat oleh Budiarto Shambazy dalam salah satu artikelnya di Kompas. Setelah itu Fauzi Bowo dan Probosutejo datang mengulurkan bantuan tanpa diminta. Niat untuk meminta bantuan kepada Departemen Komunikasi dan Informasi tersandung birokrasi karena mereka tidak mengenal Bapak.

Rupanya tidak ada hubungan antara Departemen Penerangan dengan Departemen Komunikasi dan Informasi. Tetapi, sosok yang paling banyak membantu, baik material maupun moril, adalah Juwono Sudarsono. Sejak Bapak pertama kali dirawat di RS MMC Juwono rajin menyambangi Bapak dan kehadirannya selalu membuat Bapak sangat bahagia.
Semasa sekolah di Inggris sekitar akhir tahun 50-an, Juwono dan kakaknya sering tidur di rumah Bapak sehingga hubungan mereka sudah seperti bapak dan anak. Atas bantuan Juwono pula akhirnya Bapak bisa dirawat di ruang ICU RSPAD Gatot Subroto tanpa keluarga perlu dipusingkan dengan urusan pembayaran. Tidak hanya itu, secara rutin dokter Nyoman dari Dephankam menelpon dokter di RSPAD untuk menanyakan kondisi Bapak.
Ada banyak kenangan saya selama 7 bulan mendampingi Bapak yang akan saya tuliskan dalam kesempatan lain. Yang sampai sekarang sangat teringat dan selalu membuat air mata saya mengalir adalah kecintaannya terhadap Puccini. Puccini telah menyelamatkan nyawa Bapak pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu serdadu kempetai yang menyiksa Bapak setelah membacakan naskah proklamasi sudah siap menghunuskan pedangnya, hanya beberapa inci dari leher Bapak. Tiba-tiba masuk seorang perwira kempetai yang sering duduk bersama Bapak mendengarkan karya Puccini sambil minum whisky single malt. Kepala Bapak akhirnya tidak jadi berpisah dari badannya. Melalui arias dan komposisi Puccini Bapak berkomunikasi dengan khaliknya. Sinar kebahagiaan memancar dari matanya setiap kali mendengarkan karya-karya Puccini di hari-hari ia terbaring lemah di tempat tidurnya.
Karya Puccini ini juga yang bergema mengantarkan Bapak keluar dari rumah menuju ke Kalibata. “Nessun dorma! Nessun dorma! Tu pure, o Principessa, nella tua fredda stanza, guardi le stelle che tremano d’amore, e di speranza!”(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s