Membantah Biografi Des Alwi

Posted on: Wednesday, 30 January, 2008 16:16
Author: Louisa Tuhatu
Subject: Jusuf Ronodipuro

Jusuf RonodipuroBAPAK berulangkali menceritakan peristiwa yang terjadi pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945 di gedung radio militer Jepang, Hoso Kyoku. Kejadian ini sudah banyak dikisahkan di berbagai publikasi. Yang ingin ditegaskan oleh Bapak adalah peran Syahruddin, seorang wartawan Domei yang melompat pagar tembok di sisi Tanah Abang untuk menyampaikan pesan dari Adam Malik agar menyiarkan naskah proklamasi yang sudah dibacakan pada pagi harinya.
Bapak merasa perlu menceritakan ini untuk membantah pernyataan Des Alwi yang mengatakan bahwa ia lah yang menyerahkan naskah tersebut kepada Bapak. Pernyataan Des Alwi ini bahkan dituliskan secara gamblang dalam buku biografinya yang baru saja diterbitkan oleh Cornell University Press dan diluncurkan pada peringatan ulang tahun Des Alwi yang ke-80.
Kutipan dari buku tersebut “By seven o’clock the morning of the August 17, we were ready. The area around the radio station was tightly guarded by the Heiho, so we had to enter the station by jumping the back fence on the Tanah Abang side. I went in first, and all was quiet within. We were prepared to broadcast the text of the proclamation at 10.00 a.m.
However, when Rahardi Usman jumped the fence he accidentally dropped his pistol, which went off with a loud noise. The others jumped back over the fence and ran away, while being chased by several Heiho. I, who was already inside, quickly gave the text to Jusuf Ronodipuro, but he only succeeded in broadcasting it that evening.”
Bapak mengatakan ia tidak pernah bertemu Des Alwi sama sekali pada hari itu, dan adalah Syahruddin yang menyerahkan naskah pada sore hari menjelang magrib. Syahruddin sendiri sudah meninggal dunia tidak lama setelah itu. Secara logika sulit dipahami bahwa Des mengaku memberikan naskah tersebut kepada Bapak tetapi Bapak mengaku menerima naskah tersebut dari tangan Syahruddin.
Pada saat saya membacakan cuplikan paragraf buku Des kepada Bapak, saya menawarkan untuk melakukan klarifikasi melalui surat pembaca di majalah Tempo. Tetapi Bapak tetaplah Bapak yang sederhana dan tidak mau menonjol. Sambil melemparkan senyum khasnya ia berkata “Sudahlah, untuk apa.” Bapak mengatakan, ia baru akan menyatakan pendapat setelah melihat, memegang dan membaca langsung buku Des tersebut.
Sambil bergurau saat itu Bapak bahkan mengatakan “Mungkin nanti setelah saya meninggal Des akan mengatakan bahwa dia lah yang membacakan naskah proklamasi melalui radio pada tanggal 17 Agustus 1945.” Suatu ucapan satir khas Bapak. Sayangnya, sampai Bapak menutup mata saya tidak berhasil mendapatkan buku itu. Pada hari pemakaman Bapak saya sempat bertemu dengan pak Rushdy Hoesein dan mas Doddy Partomiharjo yang menceritakan bahwa ternyata peran Syahruddin dan claim Des ini sudah menjadi keprihatinan Bapak sejak lama.
Menjelang 17 Agustus 2007 mulai banyak media yang menghubungi Bapak untuk permintaan wawancara. Saya secara bergurau mengatakan bahwa Bapak adalah selebriti musiman yang laku hanya sekitar pertengahan Agustus. Mengingat banyaknya permintaan wawancara, untuk topik yang sama, serta kondisi kesehatan Bapak, saya terpaksa harus mengatur jadwal yang tidak melelahkan Bapak.
Saat itu, kepada teman-teman wartawan yang datang dan menginginkan informasi tambahan, Bapak selalu mengatakan “Hubungi press secretary saya,” sambil menunjuk kepada saya. Dalam setiap wawancara Bapak selalu menginginkan si press secretary kagetan ini untuk mendampingi. Kondisi kesehatan Bapak saat itu tidak lah prima, tetapi semangatnya untuk bercerita dan bertemu teman-teman wartawan membuat saya harus pandai-pandai mengatur waktu.
Pada hari pemakaman, banyak teman media yang bertanya tentang hal yang paling mengesankan tentang Bapak. Bagi saya, kesederhanaan dan kebersahajaannya adalah hal yang paling menonjol, selain rasa cintanya yang luar biasa terhadap Indonesia. Dharmawan Ronodipuro, suami saya yang juga adalah putra tertua Bapak, menceritakan bagaimana Bapak yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama Percetakan Negara menolak komisi dari pembelian peralatan.
Bapak malah mengatakan agar uang komisi tersebut dikonversikan menjadi peralatan lagi. Tidak heran sampai akhir hayatnya Bapak tetap tinggal di rumah yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan Direktur Jenderal dan Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan. Rumah Bapak di Jalan Talangbetutu 20 dicicilnya dari negara selama berpuluh-puluh tahun. Suatu hal yang tak terbayangkan akan dialami oleh pejabat masa kini dengan posisi Direktur Jenderal atau Sekretaris Jenderal.
Sejak bulan Juni 2007 itu Bapak lebih banyak menghabiskan harinya di rumah sakit MMC. Bapak berkawan baik dengan para perawat RS MMC. Ia selalu menyapa suster Vera yang berasal dari Flores dengan salam “Malam bae!”. Suster Vera dan teman-temannya di lantai 4 RS MMC menyempatkan diri menelpon Mama untuk menyampaikan duka cita mereka. Sebelum terserang stroke Bapak secara rutin mengunjungi klinik Prof Dr Azis Rani untuk memeriksakan penyakit diabetesnya.
Di sana, Bapak juga berkawan dengan para perawat. Ia selalu datang dengan satu kotak kue untuk para perawat. Suster Sum dari klinik ini mengatakan bahwa ia merasa sangat kehilangan Bapak, tentu saja bukan karena kue yang tidak akan datang lagi tetapi karena kehangatan Bapak yang tidak akan menyambanginya lagi.
Di ruang ICU RSPAD, dalam keadaan terbaring lemah, Bapak masih bisa mencuri hati para dokter dan perawat. Harlan, salah seorang perawat di ruang ICU, selalu setia mencukur jenggot dan kumis Bapak karena Bapak selalu mengeluh kalau dagunya sudah teraba kasar. Selain itu, Bapak juga mendapat perhatian yang luar biasa dari dokter Sylvana Kolibonso.
Bukan karena Bapak adalah pasien titipan Menteri Pertahanan tetapi lebih karena mereka telah banyak membaca tentang Bapak dan sikap Bapak yang tidak pernah rewel selama dirawat. Ia selalu dapat dihubungi oleh keluarga yang kadangkala bingung melihat kondisi Bapak. Dokter Sylvana juga lah yang terus mendampingi keluarga pada jam-jam terakhir hidup Bapak sampai Bapak dibawa pulang ke jalan Talangbetutu.(*)

Iklan

2 thoughts on “Membantah Biografi Des Alwi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s