Empat Hari tak Berdaya Dihantam Malaria

RABU (20/2/2008) dinihari aku pulang dari kantor di Batuampar. Tiba di rumah sekitar pukul 03.00 WIB. Sambil melepas pakaian, aku merasakan ngilu yang sangat mengganggu kenyamanan. Ia berasal dari sebuah geraham atas sebelah kiri rongga mulut.
Makin lama semakin sakit dan akhirnya benar-benar menyakitkan. Tapi jam segitu, mau cari obat di mana? Terpaksa pakai jurus kampung: berkumur air garam. Masih nggak mempan. Aku lalu masuk kamar mandi dan sikat gigi…sampai dua kali! Masih belum mempan juga.
Lalu terlihat obat kumur, Listerin. Rongga mulutku kuisi penuh dengan cairan penghilang plak dan bau mulut itu. Ternyata, sakitnya makin menjadi-jadi. Ya Tuhan, penderitaan yang sudah empat tahun nggak kurasakan, kini harus kualami lagi. Gigiku terasa sakit luar biasa.
Pagi-pagi sekali, istriku pergi mencari obat sakit gigi. Dia membawa pulang Asam Mefenamat. Telan satu butir, sakitnya belum berkurang. Ditambah satu butir lagi dan KO! Sakit gigiku sembuh. Syukurlah.
Tapi tanpa ku sadari, itulah awal dari penderitaan yang lebih besar. Rupanya, lantaran sakit gigi, aku sama sekali nggak bisa istirahat….tak bisa tidur. Ini menguras stamina dan membuat daya tahan tubuhku drop. Ketika itulah potensi malaria di dalam tubuhku menyergap.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 11.00 siang, kepalaku mulai terasa pusing dan tubuhku menggigil kendati kulitku terasa panas ketika disentuh. Suhu tubuhku kira-kira 38 atau 39 derajat Celcius. Aku demam. Istriku menelepon Om Richard (Redpel Tribun)…minta izin karena aku nggak bisa masuk kerja.
Waktu sore, sekitar pukul 16.00, aku merasa agak sehat. Demam sudah lenyap entah ke mana. Kepalaku juga terasa lebih ringan. Kecuali dua garis urat warna hijau yang tampak sangat menonjol di kedua pelipisku. Yah, kedua urat itu biasa menjadi pertanda bagiku kalau aku sedang nggak sehat. Sebab, kalau lagi sehat…fit, urat-urat itu biasanya bersembunyi di balik kulit kepalaku…nggak kelihatan sama sekali.
Aku pun mencoba istirahat. Aku terbangun karena merasa sangat kedinginan. Gigiku sampai gemerutuk seperti orang yang sedang dihantam badai salju. Padahal suhu tubuhku sangat tinggi. Keringat dingin membasahi baju, celana, bahkan selimut yang kukenakan. Ubun-ubunku serasa mau lepas. Rongga kepalaku terasa kosong. “Pasti ini malaria,”kataku dalam hati. Karena penyakit ini pernah aku rasakan ketika masih kelas satu atau dua SD di kampung, puluhan tahun silam. Ya, Batam dan Kupang (NTT) adalah daerah endemik malaria.
Dan benar. Dokter di RS Elisabeth mengatakan malaria ku kambuh saat ia memeriksa tubuhku, Kamis pagi. Tapi aku nggak bisa minum sembarang obat karena alergi parasetamol. Untung ada Aspirin yang bisa menurunkan demam. Kondisi ini membuat aku KO selama empat hari, sejak Rabu pagi. Sabtu sore, sebenarnya aku merasa baikan dan sudah siap-siap berangkat kerja. Tapi ketika hendak berangkat, lagi-lagi tubuhku meriang. Dan baru hari Minggu aku bisa masuk kerja lagi….. Syukurlah aku sudah sembuh. Rupanya Tuhan tetap menyayangi saya kendati sering malas ke gereja…..:))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s