Berhentilah Menghukum Aa Gym

Aa Gym dan Teh Ninih- Bian HarnansaHARUS diakui, KH Abdullah Gimnastiar alias Aa Gym adalah seorang dai kondang yang disenangi banyak orang karena khotbah-khotbnya yang bernas dan mencerahkan, tak terkecuali bagi non Muslim. Kondisi ini seolah menempatkan Aa Gym di puncak pohon tinggi yang banyak anginnya. Maka apa pun yang terjadi pada Aa Gym menjadi perhatian publik. Dan ini menjadi santapan media massa yang gemar mengorek-ngorek kehidupan pribadi pemimpin pondok pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat itu. Media lantas menyamakan Aa Gym dengan para selebriti yang selalu nongol di acara infotainment.
Akhirnya media massa mendapat “berita bagus” saat Aa Gym menikah lagi dengan Teh Rini. Berbagai pemberitaan menyudutkan sang dai. Banyak yang memberitakan bahwa Aa Gym menyakiti istri pertamanya, Teh Ninih.
Media massa seolah ingin menghukum Aa Gym akibat dia memutuskan untuk poligami. Sebagai manusia biasa, tentu Aa Gym merasa terusik. Terlalu banyak kehidupan pribadinya dicampuri.
Belakangan, muncul lagi isu bahwa Aa Gym akan menceraikan Teh Ninih. Aa Gym heran atas berita itu. Sebab, kata dia, keluarganya rukun-rukun saja, tapi kenapa diberitakan sedang bermasalah. Kedua istrinya pun masih berkomunikasi satu sama lain dengan baik.
“Saya bukan artis, bukan juga publik figur atau pemain film dan sinetron. Mari kita jauhi prasangka dan gibah,” ucap Aa Gym usai ceramah di Masjid Pondok Indah, Pondokpinang, Jakarta Selatan, Rabu (19/3/2008) malam.
Namun sebagai panutan orang banyak, AA Gym berusaha menanggapi berita tak sedap itu dengan kepala dingin. “Mudah- mudahan bisa bermanfaat bagi kita semuanya. Keluarga saya bersama Teh Ninih dan Teh Rini baik-baik saja… Semoga Allah mengampuni berita fitnah itu,”kata Aa Gym.
Tapi wartawan terus mencecar, mengorek kehidupan pribadinya. Inilah yang membuat Aa Gym sempat marah. “Kalian itu makan dari gaji haram,” ujar Aa Gym. “Marilah kita hargai hak-hak orang lain,”imbuhnya lagi.
Yah, setiap manusia memang punya kehidupan pribadi, dan tak ingin privasinya diekspose secara berlebihan. Hanya orang kurang waras yang merasa senang dan gembira ketika privasinya dipublikasi habis-habisan, apalagi menjurus fitnah. Maka saran saya, berhentilah menghakimi Aa Gym.(*)

Iklan

12 thoughts on “Berhentilah Menghukum Aa Gym”

  1. kami sebagai orang muslim sangat merindukan kembali ceramah menejemn qolbu aa, yang sangat menyentuh hati
    dan dimana kami bisa mendengarkn lg ceramah aa itu, kami terus mendukungmu selama aa berjalan di rel ajaran islam

    Suka

  2. orang yg baikkan dambaan semua orng,wajar aj klo teh rini menjatuhkan pilihan kepada aa’,mudah2an ad kebaikan d sana,pemberitaan infotemenkan bukan konsumsi umtuk muslim jd mereka”seneng liat orng susah, susah liat orang seneng” yang penting dapat uang.

    Suka

  3. Semoga Aa tetap ada dalam lindungan Allah Subhanahu wata ‘ala
    dan selalu semangat dalam menegakan amar maruf nahi munkar

    Semagat Aa, saya selalu mendulukung Aa untuk memerangi kemusrikan

    Suka

  4. yah namanya juga kerjaannya anak2 liberal mas,. biar dakwahnya tewas dibikin blow up media kaya gitu deh… lagian siapa lagi yang suka dakwah islam begitu fenomenal disajikan oleh dai kondang macam A a Gym. Charachter Assasint,. A a Gym udah, Ihsan Tanjung udah, Habib Riziq udah, yang emang dibentuk biar yang ada nantinya cuma ‘ustadz-ustadz liberal’ macam Gus ***, Abdul Muq***, Guntur Rom** dst lah. Assalamu’alaikum.. =)

    Suka

  5. dasar infotainment plus wartawan yang ga tanggung jawab… cari duit diatas penderitaan orang. Bukannya amar makruf nahi mungkar.. malah ngompor ngompori

    Suka

  6. Kalau menurut saya aagim adalah hamba Allah yang selalu menuruti Sunnah Allah Dan Rosulullah kalau menurut saya tambah dua lagi halal kok!!!

    Suka

  7. Aa Gym
    menempuh jalan
    “ emergency exit ”
    ( mengikuti istilah yang beliau gunakan )

    Aa Gym mengambil jalan “emergency exit” ketika menikah yang kedua kali. Perumpamaannya adalah seperti di dalam gedung yang terbakar, pilihannya adalah berusaha memadamkan api atau cepat-cepat keluar lewat “emergency exit”.Memadamkan api hanya bisa dilakukan oleh seorang “fire fighter” terlatih, yang tindakannya tidak membuat situasi lebih beresiko.

    Mempersiapkan pemadam api yang portable, kecil dan ringan untuk mengendalikan “api” selagi masih kecil supaya jangan sampai menjadi kebakaran besar mungkin lebih mudah. Namun bila api muncul hingga membesar, membahayakan jiwa orang lain, maka tentu saja seorang “fire fighter” harus berusaha untuk memadamkannya, meskipun dengan jiwa dan raganya sendiri sebagai taruhannya.

    Semula, saya merasa bahwa beliau adalah satu diantara figur “fire fighter” sejati, dengan berbekal ilmu dan pengetahuannya, mampu menunjukkan, bahwa potensi munculnya “fire” pada materi, kedudukan dan lawan jenis sanggup ditaklukkan , mengorbankan “selera dunia dirinya“ untuk kepentingan umat.

    Ternyata “fire fighter” harapan saya ini kemudian memilih keluar lewat “emergency exit”, meskipun ditempat itu masih banyak yang harus dibantu, diselamatkan lewat perjuangannya, tidak serta merta langsung lari “menyelamatkan diri” meskipun tindakan ini juga boleh–boleh saja…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s