Mereka Mengaku tak Saling Kenal

Al Amin (kiri) dan Azirwan (kanan). Azirwan dan Al Amin Nasution mengaku tak saling kenal ketika petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap mereka di Hotel Ritz Charlton, Jakarta Selatan, pada Rabu, 9 April 2008 dinihari.

Itu diungkapkan oleh Juru Bicara KPK Johan Budi, di Kantor KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, sehari setelah penangkapan. KPK menangkap keduanya ketika Azirwan memberikan uang suap senilai Rp 71 juta kepada Al Amin. Tak hanya itu, Azirwan juga telah menjanjikan uang Rp 3 miliar yang akan diberikan kemudian. Ini diungkapkan M Yasin, Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan.

Mengaku tak saling kenal adalah reaksi spontan Azirwan dan Al Amin. Karena mereka kaget dan belum sempat berpikir, secara spontan mereka mengaku tak saling kenal. Padahal, semestinya kedua orang itu sudah saling mengenal.

Itu diakui oleh Samsul Huda, pengacara Azirwan pada Senin (14/4/2008). Ia mengatakan, kedua orang itu bertemu untuk sekadar memberi ucapan selamat atas persetujuan DPR soal alihfungsi hutan lindung untuk ibukota Bintan. Padahal, sebelumnya Al Amin mengatakan bahwa dirinya tidak bertemu Azirwan. Bantahan itu dilontarkan sesampainya di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (10/4/2008), pukul 02.00 WIB.

Soal reaksi spontan bahwa mereka tak saling kenal. Ini merupakan kebohongan awal mereka ketika tertangkap basah. Sebab, mana mungkin mereka tak saling kenal, padahal Al Amin pernah berkunjung ke Bintan pada 11-15 Desember 2007 silam. Kunjungan itu dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi IV DPR (Komisi Kehutanan dan Pertanian) untuk meninjau lahan hutan lindung seluas 7.300 hektare di Bintan Buyu. Kunjungan itu diikuti oleh 18 anggota Komisi IV, termasuk Al Amin dan Ketua Komisi IV Ishartono bersama sejumlah pejabat Departemen Kehutanan.

Tentu ketika itu keduanya sudah pernah bertemu dan saling mengenal mengingat Azirwan adalah satu di antara orang yang harus ditemui Komisi IV, mengingat posisinya sebagai Ketua Tim Percepatan Pembangunan Ibu Kota Bintan, Bandar Sri Bintan di Bintan Buyu.

Bahkan anggota Komisi IV DPR Jalaluddin Satibi yang diperiksa KPK pada 21 April 2008 mengungkapkan bahwa ketika itu ia juga mengalami percobaan penyuapan. Mereka masing-masing disuap sebesar Rp 55 juta oleh orang tak dikenal. Jalaluddin kemudian menyerahkan uang itu kepada KPK pada 7 Januari 2008.

Selain mengaku tak saling kenal, Azirwan juga membantah dirinya ditangkap di kamar bersama Al Amin. “Saya ditangkap di depan lobi,”katanya saat akan diperiksa penyidik KPK, 21 April lalu.

Lain lagi cerita dari kubu Al Amin, yakni PPP. Menurut mereka Al Amin ditangkap di basement parkiran Hotel Ritz Carlton, selepas menikmati hiburan malam di kafe hotel mewah tersebut. Sementara Al Amin sendiri mengaku dirinya ditangkap di lift.

Pernyataan berbeda dikatakan Kuasa Hukum Al Amin, Sira Prayuna, bahwa menurut pengakuan kliennya, dia ditangkap di parkir hotel setelah mengunjungi kafe hotel bersama rekan-rekannya. Bahkan, saat di kafe Al Amin mengaku tidak berada dalam meja yang sama dengan Sekda Bintan Azirwan. “Dia (Amin) ditangkap KPK saat memasuki mobilnya,” kata Sira di Polda Metro Jaya pada 13 April 2008.

Tapi pada Kamis (10/4/2008), Sira mengatakan bahwa saat penggerebekan, Al Amin baru saja habis bersantai sambil ngopi di kafe hotel. Dia ditangkap saat turun dari kafe menggunakan lift. Dia juga membantah adanya pertemuan antara Al Amin dan Azirwan. Sehingga tidak ada perbuatan pidana yang dilakukan Al Amin.

Ia juga menjelaskan bahwa uang senilai Rp 67 juta merupakan dana yang sengaja dipersiapkan untuk perbaikan pagar rumah kliennya yang berada di Kalibata Utara, Jakarta Selatan. Sementara Rp 4 juta adalah uang reses yang diterimanya sebagai anggota DPR.

Padahal, menurut KPK yang melakukan penangkapan, kedua orang itu ditangkap dalam satu ruangan (kaEfielian Yonatamar) bersama seorang cewek yang diduga pekerja seks komersial (PSK). Belakangan cewek itu diketahui bernama Efielian Yonata, mahasiswa D3 Pajak Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan, Bogor angkatan 2006.

Dari penangkapan itu tim KPK mendapatkan sejumlah barang bukti, di antaranya uang pecahan Rp100.000 dengan total hampir Rp 4 juta. KPK juga mendapatkan uang Rp 67 juta di dalam mobil Al Amin yang diparkir di basement. Uang ini diduga diperoleh dari Azirwan.

Namun pengacara Azirwan, Dorel Almir mengatakan, Azirwan hanya memberi uang Rp 1,5 juta kepada Al Amin. “Uang dari Pak Azirwan cuma Rp 1,5 juta,” kata Dorel usai mendampingi pemeriksaan kliennya di gedung KPK.

Kemudian Dorel juga mengatakan bahwa Azirwan memberikan uang Rp 1,5 juta itu untuk membina pertemanan dengan Al Amin. “Ini udah teman dengan Pak Al Amin, sempat ada penyerahan uang. Ya biasalah, teman gitu kan,” kata Dorel.

Ini sekaligus membuktikan bahwa Azirwan dan Al Amin sudah saling mengenal sebelumnya. Mana mungkin memberikan uang sebanyak itu kepada orang yang tak dikenal sama sekali. Aneh dan menggelikan.

Azirwan sendiri menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyuap “Tidak akan pernah saya akan menyuap sedikitpun. Ingat..!” katanya dalam nada tinggi, ketika tiba di Gedung KPK, Jakarta, Senin (21/4/2008). Alasan dia, rakyat Bintan masih miskin sehingga tidak mungkin dia menyuap hanya untuk memuluskan pembangunan ibukota Bintan, Bandar Sri Bintan di hutan lindung Bintan Buyu.

Mereka terus membantah dan membantah. Namun keterangan yang diberikan pun hampir selalu berbeda-beda dari waktu ke waktu. Beruntung Al Amin dan Azirwan tidak menyadari bahwa mereka sudah menjadi target KPK sejak 6 bulan silam. Berbulan-bulan mereka diintai dan teleponnya pun telah disadap oleh KPK, sehingga nanti bukti-buktilah yang akan berbicara. Bantahan demi bantahan mereka bakal menjadi sampah. Kita tunggu saja kelanjutan kasus ini sambil menantikan “ikan besar” yang kemungkinan besar akan ikut terjaring. (*)

Iklan

9 thoughts on “Mereka Mengaku tak Saling Kenal”

  1. Mohon maaf sebelumnya jikalau pesan ini mengganggu.
    Saya pengen berbagi informasi nih buat kita semua, mudah2an bermanfaat.
    Barangkali ada dari rekan2 yg sedang butuh dana/income tambahan diluar gaji blnan.
    Program ini dijalnkan secara online(maya),tapi uang yg
    dihsilkn betul2 riil.Ada transaksi,ada produk,logis,
    masuk akal,en tidak ada satu pihak pun yg dirugikan
    dlm program ini.Program ini dijlankan secara LEGAL&HALAL (KET hrap bca di websitenya, di menu “Legal & Halal”)
    Websitenya http://www.bisnis5milyar.net/?id=fazi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s