Antara Engkau dan Kita

MENTERI Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault mengirim pesan menarik dari negeri Belanda, Rabu (6/5/200) atau Kamis waktu Indonesia.

Adyaksa meminta supaya para pemuda dan masyarakat di dalam negeri tidak keterusan “MENGENGKAUKAN” pemerintah, tetapi mulai “MENGKITAKAN” pemerintah. (detikcom, Kamis, 08/05/2008).

Itu pernyataan yang menarik dan patut dipertimbangkan oleh kita, terutama “mereka” para cerdik cendekia. Cuma itu, “ENGKAU” yang kini berkuasa dan mereka yang pernah duduk di struktur pemerintahan maupun yang mewakili “KITA” (rakyat) di parlemen, apakah juga memandang “KITA” seperti itu.

Apakah juga menganggap rakyatnya, konstituennya, sebagai “KITA” sebagaimana ketika mereka (yang kini disapa “ENGKAU” oleh “KITA”) berkampanye untuk merebut simpati “KITA”?

Sebab, berpuluh tahun “KITA” sudah “MENGKITAKAN” pemerintah, dengan memilih dan mempercayakan pengelolaan negara ini kepada “MEREKA” supaya mensejahterakan “KITA”, tapi setelah berkuasa, “MEREKA” malah “MENGENGKAUKAN” masyarakat yang dipimpin dan justru membodohi sekaligus memiskinkan “KITA-KITA” ini.

Terbukti dengan banyaknya korupsi. Ya… mereka korupsi untuk memuaskan hasrat hidup bergelimang harta yang dinikmati sendiri, turun-temurun sampai tujuh turunan. Sementara “KITA” tetap miskin melarat dan bodoh. Demikian pula terhadap anak cucu “KITA”.

Untuk bisa sekolah, akses kesehatan, dan layanan publik lainnya, “KITA” butuh perjuangan superhebat. Atau yang paling sederhana saja, seperti untuk memperoleh Kartu Tanda Penduduk (KTP) pun harus menyuap dulu. Urus sertifikat tanah perlu uang pelicin, mendirikan usaha harus ada uang pelicin. Bahkan ketika membayar pajak sekalipun, “KITA” harus menyuap dulu supaya urusan menjadi lancar.

Kalau begitu, siapa yang harus memulai? Apakah “KITA” harus memulai “MENGKITAKAN” pemerintah, ataukah sebaliknya mereka, pemerintah, yang harus lebih duluan “MENGKITAKAN” rakyatnya… ya ‘KITA-KITA” ini?

Mereka yang pernah dan kini berkuasa jangan lupa, bahwa sesungguhnya rakyat sudah berulang-ulang “MENGKITAKAN” mereka. Tapi janji mereka tak pernah dijawab dengan tindakan yang mensejahterakan. Setidaknya melakukan upaya sungguh-sungguh, murni untuk rakyat, bukan sekadar menarik simpati hanya untuk melanggengkan kekuasaan semata.

Menpora juga mengajak para pelajar Indonesia untuk pulang ke Tanah Air kalau sudah selesai studi. Dan mengimbau mereka yang kini sukses merantau di luar negeri untuk memberi sumbangsih bagi bangsa. Ini anjuran dan ajakan yang sangat baik. Tapi apakah mereka (yang masuk kategori “KITA”) akan didengar pendapat dan pandangannya ketika sudah kembali ke Tanah Air?

Menurut Anda, bagaimana buktinya selama ini? Bacalah beritanya di sini dan di sini.(*)

Iklan

One thought on “Antara Engkau dan Kita”

  1. saya baru sekali melihat langsung adyaksa berceloteh. menurut saya, dia menteri paling asik. soalnya kl ngomong blak2an. hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s