Hentikan Subsidi Obligasi Rekap…!

Rizal RamliITULAH kalimat yang diteriakkan ekonom Rizal Ramli pada sebuah kegiatan PKB, di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2008). Menurut mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Gus Dur itu, pemerintah justru memberikan subsidi obligasi rekap yang mencapai Rp 35 triliun per tahun. Ini sama dengan memberikan subsidi bagi orang kaya. Baca beritanya di SINI.

Nah, rasanya itu lebih tepat daripada menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Karena jelas bahwa yang menikmati subsidi itu (obligasi rekap) hanya orang kaya saja. Sedangkan subsidi BBM dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, kaya maupun miskin.

Oh ya..menurut saya, kalau subsidinya untuk kepentingan yang lebih umum, seperti subsidi BBM, tidak perlu membedakan kaya-miskin. Toh orang kaya juga bayar pajak (banyak lagi), jadi mereka juga berhak atas pelayanan dari pemerintah. Dan banyak orang kaya punya usaha yang berkaitan dengan kepentingan orang miskin, misalnya transportasi. Bila BBM naik, tentu mereka juga akan menaikkan ongkos transportasi seperti bus, angkot, dll. Kan rakyat juga yang disusahkan. Berbeda kasusnya dengan subsidi obligasi rekap itu.

Apa sih obligasi rekap itu?

Menurut penjelasan di Wikipedia, penerbitan obligasi rekap merupakan bagian dari Program Rekapitalisasi Perbankan. Tujuannya adalah untuk mengatasi kesulitan permodalan bank-bank tersebut akibat pengaruh krisis ekonomi di akhir tahun 1997.

Setelah diterbitkan, obligasi rekap ditransfer kepada bank-bank tertentu yang terpilih untuk mengikuti program tersebut sebagai realisasi dari upaya penyertaan modal negara.
Nah, sebagaimana obligasi pada umumnya, obligasi rekap juga merupakan instrumen pasar modal yang dapat diperdagangkan. Perdagangannya di pasar sekunder cukup diminati para investor yang biasa berinvestasi pada instrumen obligasi. Alasan utamanya adalah tingkat pengembalian investasi (yield) yang cukup tinggi sementara sebagai efek yang diterbitkan oleh pemerintah secara teoritis tidak berisiko.

Bisa diartikan bahwa subsidi obligasi rekap itu hanya dinikmati oleh orang-orang berduit. Karena sebagian besar dari kelompok itulah yang bermain di pasar modal. Kayaknya nggak ada ada orang miskin berjualan saham di bursa.

Bisa dihapus
Dalam tulisannya di harian sore Sinar Harapan, mantan Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya RI (1998-1999) yang juga mantan Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM (1999), Marzuki Usman, menjelaskan bahwa obligasi rekap telah dikeluarkan pemerintah Indonesia sejak akhir tahun 1990-an, untuk mengatasi kekurangan modal bank-bank milik pemerintah sebesar Rp 750 triliiun.
Menurut Marzuki, hal itu ternyata telah membawa kenestapaan bagi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) kita hingga saat ini.

Mengapa? Ketika obligasi rekap diterbitkan, wujudnya adalah kertas utang yang bertuliskan I owe you (IOY). Artinya, saya (pemerintah) meminjam kepada Anda. Pinjaman itu semula Rp 750 triliun, tetapi tidak ada uang tunai yang masuk ke kas negara. Yang ada cuma kertasnya saja (obligasi rekap) yang diserahkan kepada bank-bank milik pemerintah itu.

Menurut Marzuki, apakah pemerintah cukup adil membebankan APBN sebesar bunga obligasi rekap setiap tahun (hampir Rp 100 triliun), yang berarti merupakan ongkos ketidaknyamanan yang harus diderita rakyat banyak? Sebab, andaikata uang itu dibelanjakan untuk membangun Sekolah Dasar (SD), atau untuk membangun sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), tentu sudah banyak yang bisa dibangun.

Lebih jauh, utang pokok obligasi rekap tetap saja harus dibayar. Kapan? Jawabnya, wallahualam.
Alangkah kasihan nasib generasi mendatang. Mereka tidak menerima nikmatnya, tetapi harus membayar akibatnya? Apakah hal seperti ini adil? Penjelasan selengkapnya silakan baca di SINI.

Artinya, kalaupun pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi (mencabut sebagian subsidi BBM), kenaikan harganya tidak mesti hingga 28,7 persen. Pemerintah bisa menaikkan harga BBM lebih rendah dengan menghapus obligasi rekap untuk ditambahkan ke dana subsidi BBM. Mungkin itu pilihan yang lebih bijak.. atau bagaimana? (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s