Fenomena Trilyuner Achmad Zaini

* Satu Penegasan Lagi soal Kesehatan Mental Kita

KONDISI psikis masyarakat Indonesia kian memprihatinkan. Kini masyarakat kita menjadi terlalu mudah percaya pada hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Dua kali “test case” dengan mudah menembus saringan nalar yang semakin tak objektif.

Pertama adalah teknologi blue energy yang konon bisa menjadikan air sebagai bahan bakar menggantikan bahan bakar minyak (BBM). Banyak orang terperdaya, tak terkecuali lingkup Istana Negara. Belakangan para ilmuwan di Universitas Gadjah Mada (UGM) menganggap Joko Suprapto, sang penemu teknologi itu, sebagai seorang penipu. Tentu ini menjadi tantangan bagi Joko untuk membuktikan teknologinya sekaligus membantah bahwa dirinya seorang penipu.

Kasus itu masih hangat sampai sekarang. Tapi kasus kedua seperti tak sabar menunggu untuk menggebrak publik. Mendadak muncul pria paroh baya bernama Achmad Zaini Suparta (52), yang mengaku memiliki kekayaan yang nilainya 20 kali lipat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Atau kira-kira Rp 18 ribu triliun, karena APBN Indonesia saat ini sebesar Rp 900 triliun.

Bualan Achmad Zaini langsung ditelan bulat-bulat oleh begitu banyak orang. Pengusaha sampai pejabat dari berbagai daerah percaya pada Achmad. Mereka sangat berharap dapat sedikit cipratan dari uang warisan senilai triliunan rupiah milik Achmad yang konon kabarnya tersimpan pada 8 bank di luar negeri.

Penelusuran terhadap jatidiri Achmad, sedikit mengungkap siapa orang ini. Rumahnya di kawasan Pulomas, Jakarta Timur, tidak menggambarkan bahwa dirinya adalah orang yang memiliki kekayaan belasan ribu triliun.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira secara tegas menyatakan bahwa Achmad Zaini adalah penipu, dan menginstruksikan Polda Jabar untuk menginvestigasi. Namun Kapolda Jabar Irjen Pol Susno Duadji enggan memeriksa Achmad Zaini. Bukan karena menolak perintah, namun karena menganggap Achmad Zaini hanyalah orang gila yang sedang melucu, sehingga tak perlu diperiksa.

Kapolda Jabar bahkan menyarankan masyarakat untuk sekedar menganggap bualan Acmad sebagai hiburan di tengah kesulitan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Wartawan pun dianjurkan agar memasang tulisan mengenai Achmad di rubrik lelucon saja, jangan di kolom berita.

Tapi hal yang patut menjadi perhatian kita bersama adalah semakin mudahnya akal sehat masyarakat tertembus oleh berbagai kabar kabur yang beredar. Ini merupakan indikasi bahwa kesehatan mental masyarakat sedang sakit lantaran terlalu banyak diterpa persoalan hidup ditambah kenaikan harga BBM yang membuat masyarakat semakin terpukul.

Hal itu dibenarkan oleh ahli psikologi sosial Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Faturochman. Bahwa itu merupakan fenomena atau gejala sosial yang menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang kebingungan karena senantiasa berada dalam ketidakpastian. Apalagi diakui bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya rasional.

Mudah-mudahan dua ”test case“ itu sudah cukup untuk menyadarkan kita agar tak mudah terlena oleh janji-janji manis dan instant. Sebab tidak ada cara instan yang bisa mengeluarkan kita secepatnya dari aneka ragam persoalan di negeri ini yang berjejal dan seolah tak berujung. Tetaplah berusaha dan berpikir logis. Cukuplah kita terperosok di lubang yang sama dua kali. Jangan sampai ada yang ketiga setelah ini, karena kta manusia, bukan keledai bebal.(*)

Iklan

One thought on “Fenomena Trilyuner Achmad Zaini”

  1. berikut adalah kisah asal usul uang yang di wariskan kepada
    achmad zaini suparta . th 2001, 15 agustus telah ditanda tangani kontrak ‘rolling programe’ antara sultan hamid joko lelono (bapaknya AZS) dg salah satu perusahaan dari Inggris yg berkantor di WTC. Barang yang dijaminkan untuk pelaksana
    an rolling programe tersebut emas sejumlah 12000 metrik ton yang tersimpan di UBS. dari kontrak tersebut mulai tgl15 september 2001 pihak sultan hamid akan menerima kompensasi tiap 5 hari per 100 ton emas sebesar 1 milyar dollar amerika serikat. kontrak rolling programe berlang sung selama 40 minggu putaran saham(10 bulan). dari hasil tersebut ada peruntukan sbb:
    40% diserahkan kepada badan kemanusiaan inter nasio nal, 35% diserahkan kepada pemerintah RI, 10% diserah kan kepada account Bullion Bank, 10 % untuk para amanah (ini adalah para raja nusantara yang menyerahkan aset kerajaan kepada pemerintah RI th 1957 yang kemudian disimpan di UBS oleh Bung Karno pada 1967 … sesuai surat wasiat yang pernah saya baca), 5% untuk para mediator yang membidani sampai lahir kontrak rolling programe tersebut. pada kesempatan ini saya mengingatkan kepada pihak AZS dan yayasannya agar tidak menyalahgunakan amanah yang ia terima. saya adalah orang yang mempertemukan sultan hamid joko lelono dg perusahaan inggris di WTC dengan bantuan teman-teman saya dari malaysia. sekian komentar saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s