Belajar dari Hillary Clinton

Hillary Rodham ClintonPERSAINGAN antara Hillary Clinton dan Barack Obama berakhir dengan keunggulan Obama. Pria kulit hitam ini akhirnya terpilih mewakili Partai Demokrat untuk maju pada pemilihan presiden, November mendatang. Dia akan bersaing dengan kandidat dari Partai Republik, John McCain.

Hampir 17 bulan kedua senator itu bersaing habis-habisan. Saling serang. Berupaya keras membuka kelemahan konsep dan pemikiran pesaingnya kepada publik. Persaingan mereka demikian ketatnya, namun tak ada aib yang terlontar. Setidaknya langsung dari mulut mereka sendiri.

Menarik. Ketika Obama terpilih mewakili Partai Demokrat, istri mantan Presiden Bill Clinton itu langsung menyatakan dukungannya kepada bekas rivalnya itu. Hubungan mereka kembali mesra. Bahkan mungkin lebih mesra dibanding sebelum mereka berkompetisi untuk menjadi kandidat terbaik dari partainya.

Keputusan Hillary mendukung senator Illinois tersebut diambilnya setelah kongres Demokrat memastikan untuk berjuang merebut nominasi Demokrat telah berakhir. Kepastian itu muncul setelah Obama berhasil mendapatkan 2.118 delegasi yang diperlukan untuk meraih nominasi.

Keduanya bahkan menggelar pertemuan pribadi sebagai upaya menyatukan kembali Partai Demokrat yang sempat terpecah, untuk menghadapi pilpres dalam kondisi partai yang sudah kembali utuh. Mereka kembali bersatu untuk sama-sama memperjuangkan kejayaan partai mereka.

Lebih menarik lagi, Hillary mengirimkan email kepada para pendukungnya untuk memberikan dukungan kepada Obama. “Terlalu banyak hal besar dan terlalu banyak tugas yang penting akan kami (bersama Obama) emban,”tulis Hillary dalam pesan e-mail mengenai keinginannya mendukung Obama.

Pesan Hillary berhasil. Para pendukungnya menyatakan bersedia mendukung Obama menuju Gedung Putih. Untuk menjadi presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam. Ia bahkan akan menjamu Obama dalam sebuah acara di Washington DC untuk menyampaikan ucapan terima kasih terhadap pendukungnya, menyampaikan dukungannya terhadap Senator Obama, serta seruan persatuan Demokrat. Barack Obama

Sikap Hillary dan Obama sungguh bertolak belakang dengan sikap dan perilaku para kandidat maupun para pemimpin di Indonesia. Kampanye di Indonesia nyaris selalu disertai pertumpahan darah. Para pendukung dari kubu yang berbeda saling berkelahi. Dan ini justru menjadi kebanggaan bagi calon yang mereka dukung.

Bahkan ketika pemenangnya sudah ditentukan pun, rasa tidak puas itu masih tetap ada. Saling menggugat ke pengadilan lantaran tak puas atas hasil pemilihan. Situasi seperti ini terjadi pada semua level pemilihan pemimpin politik di negeri ini. Mulai dari kabupaten/kota hingga pemilihan presiden.

Akibat persaingan tak sehat para politisi, justru rakyat yang dikorbankan. Rakyat menjadi terkotak-kotak. Saling bermusuhan, bahkan berkelahi sesama mereka. Contoh paling mutakhir adalah Pilkada Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Maluku Utara (Malut).

Di Sulsel, para pendukung kedua kubu berkelahi habis-habisan gara-gara jagoannya kalah, setelah berperkara hingga ke Mahkamah Agung. Di Malut juga terjadi perkelahian antarpendukung. Gara-gara jagoan Golkar, pasangan Abdul Gafur-Abdurrahim Gabanyo kalah dari pasangan Thaib Armaiyn dan Abdul Gani Kasuba yang ikut dijagokan Demokrat dalam pilkada Malut.

Dampaknya bahkan sampai menggoncang keharmonisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Demokrat) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Golkar).

Petinggi Golkar Surya Paloh bahkan berbicara seperti ini. “Tentu, kita sedih, berempati, dan kecewa. Itu satu fakta yang terasa dalam semangat dan emosi para konstituen partai Golkar. Namun, tidak berarti bahwasanya ini suatu hal yang barangkali–katakanlah–kita langsung ambil sikap tidak mengenal lagi hubungan silaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar Surya Paloh.

Di level pemerintahan pusat, kandidat yang kalah menyatakan diri sebagai oposisi. Tapi justru menjadi oposisi yang kontraproduktif. Berupaya menyerang dan menjegal semua kebijakan pemimpin terpilih. Seolah-olah semua kebijakan dan keputusan pemerintah tak ada yang benar. Bahkan antara presiden dan wapres pun terjadi ‘perang dingin’. Kalau begini, bagaimana slogan “kita bisa” dapat berjalan? Tentu ini justru menghambat kemajuan negara.

Sudah saatnya para pemimpin dan calon pemimpin di negeri ini belajar dari sikap Hillary dan Obama. Apalagi tahun depan Indonesia akan menggelar pemilihan umum. Pelajaran itu sudah bisa mereka terapkan saat menjadi kontestan pesta demokrasi itu. Dan setelah itu, semuanya kembali bersatu untuk membangun negeri ini.

Bagi masyarakat Indonesia, ingat, jangan pilih calon pemimpin yang hanya pandai mencari kesalahan lawan politiknya. Waspadai juga pemimpin yang membiarkan pendukungnya menyerang dan berkelahi dengan pendukung lawan politiknya. Karena mereka pasti tidak akan mampu memimpin dengan baik. Bahkan akan sulit merangkul semua pihak ketika berkuasa.(*)

Iklan

One thought on “Belajar dari Hillary Clinton”

  1. yupzzz setuju sekali

    kita harus mencari sosok calon pemimpin yang terbaik tahun ini….

    bercermin pada politik amerika,,, dunia politik kita jauhhh sekali jika di bandingkan dengan amerika…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s