Persekongkolan di Kejagung Terbongkar (3)

* Jaksa Agung Mati-matian Membantah

FAKTA yang muncul di pengadilan Tipikor, Jakarta Selatan, Rabu ( 11/6/2008 ), sudah demikian telanjang. Rekaman suara yang ada sudah diakui oleh Artalyta Suryani. Bahkan Jaksa Urip Tri Gunawan yang menerima suap 660 ribu dolar AS dari Artalyta, sudah tak berdaya lagi sehingga terpaksa menerapkan jurus lupa.

Tapi Jaksa Agung Hendarman Supandji mati-matian membantah bahwa penangkapan Urip terkait penghentian kasus BLBI. “Kalau Urip terkait BLBI, iya karena dia ketua tim BLBI. Tapi kalau menghentikan BLBI, saya lihat tidak ada kaitannya,” kata Hendarman di Gedung Kejagung, Jakarta Selatan, Rabu (11/6/2008).

Hendarman juga mengaku belum dapat menentukan letak kesalahan Kemas Yahya Rahman, karena pihaknya belum pernah memeriksa Artalyta.

Saya malah curiga, jangan-jangan kengototan Kejagung memeriksa Artalyta beberapa waktu lalu bertujuan untuk sama-sama mengarang skenario lain yang lebih rapi agar jawaban mereka bisa seragam ketika menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor.

Tapi entahlah. Karena alasan Kejagung memeriksa Artalyta, menurut Kapuspenkum Kejagung B D Nainggolan, adalah untuk meminta keterangannya guna menentukan berat ringannya hukuman administratif kepada Jaksa Urip Tri Gunawan sebagai amanat PP No 30 Tahun 1980 tentang Disiplin PNS.

Semua itu membuat saya tidak percaya pada penegakan hukum di Indonesia. Dan saya semakin tidak percaya ketika orang-orang penting di Kejagung terlibat kasus suap untuk kasus BLBI yang sangat merugikan negara ini.

Berikut hasil sadapan yang dibeberkan oleh KPK saat sidang di PN Tipikor, Rabu ( 11/6/2008 )

Inilah rekaman percakapan Kemas Yahya Rahman (KYR) dengan Artalyta Suryani pada tanggal 1 Maret 2008, atau sehari sebelum Jaksa Urip dibekuk tim KPK:

AS: Halo…. KYR: Halo…
AS : Ya siap
KYR : Sudah dengar pernyataan saya? he..he..he..
AS : Its good, very good
KYR : Jadi tugas saya sudah selesai, he..he..he..
AS: Siap, tinggal…
KYR : Sudah jelas, itu gamblang, tidak ada permasalahan lagi.
AS: Bagus itu
KYR : Tapi saya dicaci maki, sudah baca (koran) Rakyat Merdeka ngak?
AS: Aah, Rakyat Merdeka mah ngak usah dibaca.
KYR: Bukan, saya mau dicopot, ha..ha..ha. Jadi gitu ya
AS: Sama ini Bang, Saya mau info kan.
KYR: Yang mana?
AS: Masalah si Joker
KYR: Oh nanti,nanti, nanti
AS: Oh nggak, itu kan saya perlu jelasin Bang,
KYR: Nanti,nanti, nanti, tenang aja
AS: Hari Selasa saya mau ke situ
KYR: Ngak usah,ngak usah. Itu gampang itu. Nanti..nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah ada pesan dari sana. Kita…
AS: Iya, sudah
KYR : Sudah sampai itu
AS: Iya, tapi begini Bang.
KYR: Jadi gini..gini.. . Ini sudah telanjur kita umumkan.Ada alasan lainya jadi sudah ada dalam perencanaan.

Lalu, berikut ini merupakan percakapan telepon antara Artalyta Suryani dengan Jaksa Agung Muda Tata Usaha Negara (Jamdatun) Untung Udji Santoso pada 2 Maret 2008. Dalam percakapan ini ada kalimat berbunyi: AMANKAN BOS..!

Untung (U): Memang dikasih berapa duit?
Artalyta (A): 660 ribu dolar.
U: 4 M (empat miliar)
A: 6 M (enam miliar)
U: Lailahailallah!
A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A: Jadi gimana?
U: Tak pikir enam ratus juto (enam ratus juta) gitu.
A: nggak, itu banyak. Gimana?
U: Itu untuk siapa?
A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?
U: Adu biyung gimana?
A: Heh.
U: Sek…sek (sebentar). Kalau kayak gitu, susah itu.
A: Aku kena lho, Mas, kayak gini.
U: Lha iya.
A: Aku bilang kan ajudanku.
U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah). Gimananya caranya hubungi Antasari.
A: Ya, coba Sampeyan telepon dulu.
U: Udah, mati teleponnya.
A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono) suruh nyari.
U: Feri juga nggak ngangkat.
A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama)
A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).
U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh (Maksudnya Ketuak KPK Antasari Ashar).
A: Ya, di mana dia rumahnya?
U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.
A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto).
A: Sekarang susulin.
U: Tak telepon dulu.
A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U: Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.
A: Kata Wisnu apa?
U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak?
nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.
A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip) maksa (ambil uang 660 ribu dolar AS) hari ini.
U: Uhhh, kacau kabeh… (menghela nafas)

Rekaman tersebut merupakan lanjutan hasil penyadapan KPK yang telah dibuka di muka sidang Tipikor tanggal 2 Juni 2008 lalu.(bersambung ke bagian 4)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s