Berpoligaji ala Seorang Tukang Sampah

*  Penghasilan Pak Dhe Hampir Rp 2 Juta Sebulan

Pak Dhe Tukang SampahSEHARI-HARI pria yang sebagian rambutnya sudah memutih ini nyaris tak pernah lepas dari sapu lidi di tangan kanan dan di alat pengumpul di tangan kiri. Dia nyaris tak pernah berkeliling lokasi kerjanya di Kompleks MCP Batuampar, Batam. Setiap sampah yang ditemukan langsung disapu.

Namanya Gudel. Namun orang-orang di Kompleks MCP dan sekitarnya biasa menyapa dia Pak Dhe. Sebelum ke Batam, Pak Dhe adalah seorang loper koran merangkap penarik becak di kawasan Larangan Karang Asri, Ngawi, Jawa Timur.

Dia menuturkan, sejak lama dirinya bekerja pada Pak Darno, seorang pensiun guru KPA yang menjadi agen Harian KOMPAS di Ngawi.

Pria kelahiran 1951 ini merantau ke Batam tahun 1997 dan langsung bekerja di Kompleks MCP sebagai tukang sampah. Ketika itu dia diajak ibunya, seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ibunya mengenal Batam karena dikirim ke Malaysia melalui kota ini.

Kendati hanya seorang tukang sampah, Pak Dhe mampu mengelola penghasilannya dengan baik. Hasilnya, rata-rata sebulan dia bisa mengirimkan uang Rp 750 ribu kepada istrinya dan seorang cucunya yang kini tinggal di kampung mereka, Gandu Jambangan, Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur.

“Alhamdulillah, tiap bulan aku bisa ngirim sedikit uang kepada istri dan cucu di kampung,“ujarnya.

Sebagai tukang sampah, penghasilan Pak Dhe terbilang cukup. Ini karena dia menerapkan poligaji alias memiliki beberapa sumber penghasilan sekaligus.

Ketika pertama kali bekerja di MCP, pria yang tidak tamat sekolah dasar ini diupah Rp 9.000 per hari selama satu tahun. Tahun berikut, upahnya naik menjadi Rp 15.000 per hari selama 2 tahun. Upahnya dinaikkan menjadi Rp 18.000 pada tahun 2000.

Lalu upahnya dinaikkan lagi menjadi Rp 20.000 per hari (2001), Rp 25.000 per hari (2002). Dinaikkan lagiPak Dhe Tukang Sampah menjadi Rp 30.000 per hari pada 2003-2004, naik lagi menjadi Rp 32 ribu per hari pada 2005-2007. Tahun ini upahnya Rp 35.000 per hari atau Rp 1.050.000 per bulan, untuk 8 jam kerja, sejak pukul 08.00-16.00.

Penghasilan Pak Dhe tidak hanya itu. Setiap dua hari sekali dia bisa memperoleh penghasilan tambahan sebesar Rp 50.000, dari hasil menjual plastik bekas, karton, botol-botol plastik bekas minuman kemasan, dan sebagainya. Sampah-sampah bernilai itu dia kumpulkan dari dalam kawasan Kompleks MCP Batuampar. Artinya, dalam sebulan, penghasilan tambahan Pak Dhe sebesar Rp 750.000.

Masih ada lagi penghasilan tambahan yang lain, yakni membersihkan halaman kantor Tribun Batam yang dia lakukan mulai pukul 16.00 setiap hari. Untuk pekerjaan sampingan ini dia memperoleh Rp 150.000 per bulan. Sehingga total penghasilan Pak Dhe dalam sebulan rata-rata sebesar Rp 1.950.000!

Pak Dhe menunjukkan bahwa seorang tukang sampah tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, dia mengaku pengeluarannya tidak banyak. Selama ini dia menghuni rumah liar alias ruli di kawasan Batuampar, tak jauh dari lokasi kerjanya. Biaya perawatan kesehatan juga tidak besar, karena dia jarang ke Puskesmas. Selalu mengandalkan pengobatan tradisional untuk semua jenis penyakit.

“Kalau sakit, aku biasanya minum perasan daun kates (pepaya) muda dicampur air kunyit. Tapi harus kates yang buahnya gandul (menggelantung pada tangkai panjang),“ ujarnya memberi tips.

Dia mengaku selalu minum setengah cangkir ramuan itu ketika merasakan gejala demam. Alhasil, Pak Dhe tak perlu mengeluarkan biaya perawatan kesehatan, kendati saat ini dia memperoleh fasilitas Jamsostek dari perusahaan tempatnya bekerja.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s