Koruptor Lebih Pintar dari KPK

BIASANYA penjahat selangkah lebih maju dari polisi. Tentu saja, karena yang menciptakan modus kejahatan adalah penjahat. Ketika polisi masih sibuk mempelajari sebuah modus baru, penjahat sudah punya seribu macam modus lain yang lebih canggih.

Demikian pula para koruptor. Mereka punya banyak cara untuk korupsi. Kalau dulu, ketika baru belaja korupsi, mereka melakukan secara terang-terangan, kini mereka memiliki sejuta cara untuk menjalankan aksinya. Jadi, secanggih apa pun cara yang digunakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), suatu saat mereka bisa tak berdaya. Tentu saja. Karena para koruptor pasti lebih pintar dari KPK.

Parahnya lagi, belakangan ini makin banyak saja aparat penegak hukum terlibat kasus korupsi. Misalnya Kejaksaan Agung. Petinggi-petingginya justru berkomplot dengan para koruptor untuk menggerogoti uang negara. Sudah rahasia umum, sulit mencari penegak hukum yang tidak korupsi. Dalam artian tidak terlibat praktik jual beli kasus. Itu sudah menjadi hal lumrah. Di negeri ini, bukan hal aneh bila putusan pengadilan menjadi komoditas dagangan.

Celakanya lagi, mereka yang membuat undang-undang malah korupsi juga. Kian marak kasus anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlibat suap. Menerima uang pelicin dari lembaga/departemen terkait bidang kerja mereka.

Sejauh ini baru lima anggota DPR ketahuan terlibat korupsi/suap. Yakni Saleh Djasit (Golkar), Hamka Yamdu (Golkar), Sarjan Taher (Demokrat), Al Amin Nur Nasution (PPP), dan Bulyan Royan (PBR). Ada juga dua mantan anggota DPR periode 1999-2004 yang dicokok KPK, yakni Antony Zeidra Abidin (Golkar) dan Adenan Razak (Reformasi).

Itu yang ketahuan. Entah berapa banyak yang tidak ketahuan. Dan yang tidak ketahuan itu adalah orang-orang yang lihai. Cerdas sekaligus licin seperti belut. Mereka jauh lebih pintar dari KPK. Sehingga praktik korupsi yang mereka lakukan tak terendus oleh petugas KPK.

Apalagi sudah mendekati masa pemilihan umum (pemilu). Para politisi dan petualang politik pasti sedang berpikir keras bagaimana memperoleh dana untuk kepentingan kampanye dan sebagainya. Dari mana sumber dananya? Tentu tak mudah. Maka tak penting lagi apakah uangnya halal atau haram. Bisa saja dari hasil korupsi, pemerasan, suap, dan sebangsanya.

Saya jadi khawatir. Suatu saat, tak lama lagi, KPK pasti kewalahan menghadapi para koruptor. Selain karena modusnya semakin canggih, seperti suap melalui money changer yang diterima Bulyan Royan, jumlah pelakunya juga (pasti) semakin banyak. Sampai akhirnya KPK menjadi tak berdaya menghadapi para koruptor. Maka kian berjayalah para koruptor.(*)

Iklan

One thought on “Koruptor Lebih Pintar dari KPK”

  1. Sekarang berjaya nanti Diachirat azab akan memusnah para korupsi, itu semua hanya populeritas semata supaya dia disebut2 orang banyak itu adalah,ìni adalah salah satu contoh tidak biasa memegang duit,itu pareman kampung bergaya kota

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s