Adik Bayi Keluar dari Perut Mama

* Kisah Kelahiran Anak Ketiga Kami

Albert Triana baru lahir, Kamis 31 Juli 2008
Albert Triana baru lahir, Kamis 31 Juli 2008

Kamis 31 Juli 2008 sekitar pukul 07.42 WIB, istriku melahirkan anak ketiga kami. Dia lahir hanya sehari setelah kakaknya, Michelle, merayakan ulang tahunnya yang ke-4.  Kata beberapa orang Tionghoa, anak ini mempercepat kelahirannya untuk menghindari “bulan hantu” yang  dimulai 1 Agustus 2008.

Sejak tengah malam, perut istriku mulai terasa sakit. Dia bilang sakitnya seperti mau melahirkan.

Tapi kami kurang yakin karena menurut prediksi kami, paling cepat dia lahir tanggal 14 Agustus 2008. Sementara menurut perkiraan dokter, anak kami baru akan lahir sekitar tanggal 11 Agustus. Sehingga kami berpikir, mungkin karena bayinya bergerak dalam perut sehingga perut istriku terasa sakit.

Kendati begitu, kami tetap melakukan persiapan. Maklum, kami sudah berpengalaman untuk hal seperti ini. Karena ini adalah kelahiran anak ketiga kami, setelah Michelle dan Theo. Semua kebutuhan yang harus dibawa ke rumah sakit saya masukan ke dalam tas. Setelah itu kami tidur lagi.

Semakin malam, dia merasakan benar-benar akan melahirkan. Tapi kami tetap tenang. Kendati perutnya sakit, namun dia berusaha untuk tidur. Saya sendiri malah tertidur pulas, karena baru saja merebahkan kepala sekitar pukul 03.00 dinihari.

Pukul 04.00 pagi, setelah keluar dari kamar mandi, istriku bilang sudah ada tandanya. Dia semakin yakin segera melahirkan bayi kami. Kami pun berkemas untuk berangkat. Setelah semuanya siap, saya menstarter Suzuki Tornado kesayangan kami. Mesinnya bunyi, tapi pincang. Sebentar kemudian mati lagi. Beruntunglah kakak ipar meninggalkan motornya di rumah kami, sehari sebelumnya. Padahal tidak biasanya dia pergi meninggalkan motornya. Ini sebuah “kebetulan“ yang luar biasa.

Pukul 04.45 kami berangkat menggunakan Honda Karisma milik kakak ipar. Setelah menempuh perjalanan kira-kira 10 kilometer dari rumah kami, akhirnya kami tiba di RS St Elisabeth sekitar pukul 05.30 dan langsung masuk ruang bersalin. “Sudah bukaan delapan,“ kata suster setelah memeriksa istri saya.

Walah, rupanya sudah hampir melahirkan. Orang akan melahirkan setelah bukaan sembilan. Istriku masih sempat bertanya, “Bawa kamera nggak?“ Karena biasanya kami memotret anak kami sesaat setelah lahir. Bukannya tidak percaya kepada para dokter dan suster, namun kami tak mau ambil risiko bayi kami tertukar dengan bayi orang lain. Kendati kasus seperti ini belum pernah terjadi di RS Elisabeth, sebelumnya. Namun karena biasanya jumlah ibu yang melahirkan di tempat itu rata-rata 5-7 orang, segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Saya duduk sebentar di sisi tempat tidur. Pikirku, ah, masih ada sedikit waktu. Saya langsung keluar dan pulang lagi ke rumah untuk mengambil kamera. Ngebut dengan kecepatan hampir 100 km/jam. Tiba lagi di rumah sakit, istriku belum melahirkan. Dia disuruh tahan sebentar karena dokter Saman masih membantu kelahiran ibu lain di ruangan itu.

Pukul 07.42, lahirlah putra kami. Prosesnya sangat lancar. Hanya sedikit rasa sakit, kemudian…. “Oek…oek…oeekkk….,” tangisan pertama anak kami sesaat setelah lahir. Puji Tuhan. Inilah kelahiran paling lancar dibanding dua kelahiran sebelumnya.

Tapi istriku terlihat khawatir. Dia bertanya, “Anak kita sehat? Tidak cacat kan?” Dia khawatir karena pada usia kehamilan 4 bulan dia terserang cacar air. Menurut berbagai literatur yang kami baca, ibu hamil yang terserang cacar air bisa menyebabkan bayinya cacat. “Bayinya sehat,“ kata dokter Saman.

Saya langsung memotret bayi mungil itu. Bayi laki-laki. Kulitnya putih., pipinya tembem, hidungnya agak pesek, matanya sipit. Alis mata dan rambutnya tipis, mirip Michelle, kakaknya. Selain itu tak ada ciri khusus lain di tubuhnya.

Berat lahirnya 3,4 kg dengan panjang 51 cm. Reaksinya juga bagus ketika mendapat perawatan suster. Dia terkejut ketika pantatnya ditepuk oleh suster. “Wah, bagus. Bayi ini sehat,”ujar suster. Syukurlah…. Puji Tuhan.

Siangnya saya pergi menjemput Theo di sekolahnya untuk dibawa ke rumah sakit. Di sana saya bertemu Michelle yang baru akan masuk sekolah. Dia bertanya, “Pa, adik bayi sudah keluar dari perut mama ya? Kakak mau lihat. Kakak mau ke rumah sakit.” Tapi sorenya baru Michelle berkesempatan ke rumah sakit. Sayang, dia tak bisa bertemu adiknya karena masih di ruang perawatan .

Dia memandang perut mamanya dan bertanya, ”Mama, adik bayi sudah keluar dari perut mama ya? Adik bayinya di mana? Kakak mau lihat adik bayi.” Michelle baru bisa melihat adiknya keesokan pagi, kira-kira pukul 09.00. Dia tampak sangat gembira. Dia mengelus dan mencium adiknya berkali-kali.

Sebaliknya si Theo yang sudah melihat sang adik sehari sebelumnya, tampak sangat cemburu. Dia enggan dekat-dekat sang adik. Dia ngotot dirinya lah “adik“, bukan kakak atau koko. Dia menolak dipanggil kakak maupun koko. “Adik, sekarang adik sudah jadi koko. Karena adik Theo sudah punya adik,“ ujar mamanya.

Theo tetap menolak dipanggil kakak. Dia bahkan memaksa saya untuk keluar dari ruangan itu. Beruntung, sikap itu tak bertahan lama. Keesokan hari, ketika adiknya sudah kami bawa pulang, Theo mau mencium adiknya. Hanya saja dia tetap tak mau dipanggil kakak. Dia hanya mau dipanggil adik. “Ini adik bayi….ini adik Theo,“ujarnya sambil menunjuk adiknya dan dadanya sendiri.

Anggota keluarga baru ini kami namakan Albert Triana Mesakh. Gabungan nama tengah saya dan istri. Kami memanggilnya adik Abe. Terima kasih Tuhan atas satu lagi berkat dan kepercayaan kepada kami untuk merawat dan membesarkan anak ini. Semoga kami tidak mengecewakan Tuhan dalam merawat dan membesarkannya. (*)

Iklan

One thought on “Adik Bayi Keluar dari Perut Mama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s