Cara Berutang Gaya Baru

SAAT ini total utang Indonesia mencapai sekitar Rp 1.300 triliun. Namun pemerintah tetap harus berutang untuk menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2008 yang mencapai Rp 94,5 triliun atau 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Untuk menutup defisit, pemerintah diperkirakan masih akan menambah utang luar negeri dari Bank Pembangunan Asia (ADB) senilai 170 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,547 triliun pada tahun anggaran 2008.

Selain utang luar negeri, pemerintah juga berutang kepada masyarakat melalui penerbitan surat utang negara (SUN) untuk menambal defisit APBN. Misalnya, sejak Selasa (19/8), pemerintah kembali menawarkan Obligasi Negara Ritel (ORI) 005 yang menargetkan bisa menarik dana masyarakat sebesar Rp 6,225 triliun.

Sebelumnya, dari ORI 004, pemerintah berhasil menyerap Rp 13,455 triliun dan ORI 003 sebesar Rp 9,3 triliun. Melalui penerbitan obligasi, secara total pemerintah telah berutang pada masyarakat sebesar Rp 75 triliun lebih. Dalam APBN-P 2008 pemerintah menetapkan target penerbitan surat berharga negara secara netto sebesar Rp 117,79 triliun.

Beberapa tahun belakangan, pemerintah memang kian gencar berutang dengan cara menerbitkan obligasi negara. Inilah cara berutang gaya baru yang ditempuh pemerintah. Ini berbeda dengan pola utang beberapa tahun lalu yang mengandalkan pinjaman luar negeri dari lembaga donor seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Consultative Group of Indonesia (CGI).

Penerbitan surat berharga negara pun semakin beragam. Selain ORI, masih ada sukuk (obligasi syariah), surat utang negara (SUN), zero coupon bond, fixed rate, hingga variable rate bond.

Makin gencarnya pemerintah menerbitkan obligasi menimbulkan kontroversi. Karena toh pemerintah tetap mengandalkan pembiayaan pembangunan dan penyelenggaraan negara dari utang. Kendati pemerintah menyatakan mampu membayar utang, termasuk utang melalui surat berharga, namun ujungnya, tetap masyarakat yang harus menanggungnya. Sementara laba dari utang itu dinikmati oleh segelintir orang yang memiliki modal besar. Karena mayoritas pembeli ORI dan berbagai surat berharga negara adalah kalangan menengah ke atas.

Para pembeli surat utang akan semakin kaya karena menikmati bunga dari surat utang yang dibeli (misalnya ORI 005 yang menawarkan imbal hasil menggiurkan, yakni 11,45 persen per tahun. Surat utang juga ada yang jatuh ke tangan investor asing. Misalnya melalui global bond yang sangat diminati investor asing, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan investor asal Asia. Mereka tertarik karena Indonesia menawarkan bunga menggiurkan.

Namun ini patut diwaspadai. Banyak uang mengalir masuk, tapi investor bisa seketika menarik dananya (capital flight). Kondisi ini bisa menyebabkan krisis keuangan. Dampak berantainya, bisa pemutusan hubungan kerja (PHK), lonjakan harga barang (inflasi), dan sebagainya. Akhirnya, yang menderita pastilah rakyat kecil juga.

Indonesia bakal semakin terbelit utang, apalagi telah menaikkan sejumlah anggaran dalam APBN serta pembayaran utang. Sementara pemerintah sendiri belum mampu menarik banyak devisa. Contohnya adalah penerapan free trade zone (FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) yang tampaknya masih setengah hati. Tampak berbelit-belit di level pemerintah pusat sampai akhirnya wilayah BBK mulai kehilangan momentum menarik investor asing.

Padahal, melalui FTZ diharapkan banyak investor asing masuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga banyak devisa masuk dan juga menyerap banyak tenaga kerja. Implementasi FTZ bakal semakin berat dan lambat karena dipengaruhi tingginya tekanan politik terkait Pemilu 2009.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s