Sang Murid Sudah Kencing Berlari

Belajar Mengelola Pariwisata dari Malaysia (1)

Kereta gantung yang mengangkut tamu ke Genting Highland, Malaysia.
Kereta gantung yang mengangkut tamu ke Genting Highland, Malaysia.

POTRET pariwisata Indonesia dan negeri serumpun Malaysia berbeda cukup mencolok. Angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Malaysia jauh di atas Indonesia. Bak bumi dan langit. Saya pernah berkunjung ke sejumlah objek wisata di Malaysia, dan melihat sendiri bagaimana mereka mengelola  dan menjual potensi wisatanya.

Angka kunjungan wisatawan mancanegara secara tahunan ke Indonesia bahkan kalah dibanding angka kwartalan negeri jiran itu. Lantas, apa sih kelebihan Malaysia dari Indonesia? Negeri itu baru 50 tahun merdeka, sementara Indonesia sudah 63 tahun. Artinya Indonesia sudah start 12 tahun, baru Malaysia menyusul.

Dahulu mereka ‘mengimpor’ guru-guru dari saudara tuanya ini untuk mengajari anak-anak mereka supaya pintar. Nah, setelah pintar, mereka memanfaatkannya dengan baik. Kini sang murid sudah berada di depan dan kita, sang guru, ngos-ngosan mengejar dari belakang.

Bagaimana dengan sektor pariwisata? Negara Melayu yang menggunakan  tagline “The Truly Asia” telah menjadi medan magnet berkekuatan dahsyat yang mampu menarik jutaan turis mancanegara. Informasi divisi komunikasi Pariwisata Malaysia (Tourism Malaysia) mencatat, kunjungan turis mancanegara meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Mari kita bandingkan dengan Indonesia.
Tahun 2003 Indonesia hanya didatangi 4 juta turis mancanegara, sementara Malaysia menangguk  10,58 juta orang dan menambah kocek negara sebesar 21,29 miliar ringgit (sekitar  Rp 64,5 triliun). Bahkan angka kunjungan turis ke Indonesia sepanjang tahun 2004 hanya 5,3 juta, nyaris kalah dibanding kuartal pertama Malaysia yang mencapai 5.245.100. Tapi jelas kalah dibanding total kunjungan turis ke Malaysia pada tahun 2004 yang mencapai 10,57 juta orang.  Kondisi serupa juga terjadi di tahun 2005, dimana kunjungan turis ke Indonesia hanya 3,76 juta, atau menurun sekitar 8 persen dibanding tahun 2004. Malaysia justru meraup 16,6 juta turis asing.

Ketika merayakan ulang tahun emas, 50 tahun merdeka dari penjajahan Inggris, negeri tetangga itu berhasil menggaet 20,9 juta wisman. Angka ini melampaui target 20 juta turis asing, yang dipatok melalui program “Tahun Melawat Malaysia 2007” atau The Visit Malaysia Year 2007.

Bagaimana dengan Indonesia? Tahun 2006 kita menarik 4,8 juta turis dan tahun 2007 berhasil mendatangkan 5,5 juta wisatawan asing. Ini merupakan rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Sebab, dalam rentang itu, angka kunjungan tertinggi terjadi pada 2004, yakni 5,3 juta kunjungan.

Angka kunjungan 5,5 juta (2007) itu jauh di bawah target sebesar 7 juta kunjungan. Sementara untuk tahun 2008, melalui Visit Indonesia 2008, Menteri Pariwisata Jero Wacik malah menurunkan target dibanding tahun sebelumnya. Jero Wacik hanya berani memasang target 6 juta kunjungan turis asing.

Lantas mengapa Indonesia yang melangkah 12 tahun di depan justru tertinggal 15 tahun di belakang dibanding Malaysia? Padahal, dari segi jumlah objek wisata dan potensi budaya, Indonesia jelas lebih banyak dan beragam. Jauh lebih potensial dibandingkan Malaysia.

Kementerian Pariwisata Malaysia memang tak main-main dalam upaya meraup kunjungan wisatawan mancanegara. Segala jurus dikeluarkan, disertai dengan tingginya optimisme mengejar target yang telah ditetapkan. Jika saat ini slogan “The Truly Asia” juga telah nyantol di kepala Anda, itu adalah kesuksesan promosi mereka yang secara kontinyu didengungkan ke seluruh pelosok dunia.

Itu adalah sebuah strategi jangka panjang yang sangat mumpuni. Misalnya, Malaysia Tourism Promotion Board berani mengajak ribuan jurnalis cetak dan elektronik serta para agen perjalanan dan biro perjalanan berkeliling negeri bekas jajahan Inggris itu. Hampir setiap tahun mereka melakukan hal itu. Tahun ini mereka juga tetap melaksanakan agenda serupa.

“Mereka diajak ke sini supaya nanti merekalah yang mempromosikan Malaysia di negaranya melalui  tulisan di media cetak, tayangan di televisi, dan sebagainya. Jadi kita bisa berhemat biaya promosi. Daripada pejabat kita yang studi banding ke negara luar, paling-paling cuma pergi makan angin dan pulang tanpa hasil,” jelas Azlilna, seorang guide freelance di Malaysia ketika saya berkunjung ke negeri itu beberapa waktu lalu. Lantas, bagaimana dengan Visit Batam 2010?(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s