Terpaksa Revisi Pepatah untuk Para Koruptor

PEPATAH yang berbunyi “Patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu” mungkin perlu sedikit direvisi. Saya mengusulkan bunyi pepatah itu diubah menjadi, “Belum patah sudah tumbuh, belum hilang sudah berganti. Yang satu belum mati, eh…yang seribu sudah tumbuh”.

Yah, revisi pepatah itu khusus ditujukan untuk para koruptor di Indonesia. Lihat saja, hampir tiap hari jumlah koruptor bertambah. Kasus yang satu masih dalam proses, sudah muncul kasus baru. Celakanya, praktik korupsi saat ini dijalankan secara bersama-sama, dan dalam kelompok yang lebih besar lagi. Mereka seperti bersepakat melakukan korupsi secara berkelompok supaya bisa berlindung di balik kelompok besar itu.

Kasus-kasus korupsi terus bermunculan. Kasus suap yang menjerat anggota Komisi IV DPR Al Amin Nasution,dkk, kasus mantan Ketua komisi IV Yusuf Emir Faisal, kasus Bulyan Royan, dan sebagainya masih berproses, tapi kasus-kasus baru sudah bermunculan. Pelakunya masih dari kalangan Senayan. Mereka yang mengaku wakil rakyat, tapi perilakunya justru mengangkangi rakyat.

Kasus paling mutakhir adalah dugaan suap yang diterima oleh 41 anggota Komisi IX DPR Periode 1999-2004, yang sebagian besar masih duduk di Senayan. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan indikasi suap, terkait 400 travel cek dari Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda S Goeltom.

Konon, masing-masing anggota DPR itu menerima 10 lembar travel cek, yang masing-masingnya bernilai Rp 50 juta. Atau setiap orang dapat jatah Rp 500 juta (berarti totalnya sekitar Rp 20.5 miliar). Temuan PPATK klop dengan pengakuan Agus Condro, anggota FPDIP yang secara jantan mengakui telah menerima uang haram tersebut. Kabarnya uang panas itu merupakan tanda terima kasih dari Miranda karena terpilih sebagai Deputi Senior Gubernur BI, Juni 2004 silam.

Kasus-kasus itu paling-paling hanya seperseratus dari sejatinya. Boleh jadi masih banyak kasus suap, korupsi, dan penyimpangan lain yang dilakukan para wakil rakyat itu. Mereka dengan rakusnya menggunakan kekuasaan dan kekuatan kelompoknya untuk menguras uang negara. Sungguh sebuah perilaku paling biadab, jauh lebih kejam dari perbuatan Ryan, sang pelaku mutilasi dan pembunuh berantai di Jakarta dan Jombang.

Sungguh celaka karena para wakil rakyat justru sedang menghancurkan negara ini dengan perilaku biadab mereka. Tubuh-tubuh berbungkus jas rapi dan leher “dicekik” dasi keren itu berdalih mewakili rakyat. Tapi sejatinya mereka adalah musuh rakyat, musuh bangsa Indonesia yang harus dilawan.

Selain para wakil rakyat, mulai dari pusat sampai daerah, di kalangan eksekutif dan judikatif pun tak kalah biadabnya. koruptor mulai dari Menteri, gubernur, bupati, kepala dinas, pejabat BUMN, tak terhitung banyaknya. Tidak percaya? Ketiklah kata KORUPSI di mesin pencari (google/yahoo), dan hitung sendiri berapa banyak kasus korupsi yang muncul.

Said Amin, seorang peneliti World Bank mengatakan, khusus di daerah saja, tercatat 967 anggota DPRD dan 61 kepala daerah terlibat kejahatan korupsi.  Berdasarkan data dihimpun dari Departemen Dalam Negeri, diketahui selama tahun 2004 – 2006 telah dikeluarkan surat izin pemeriksaan kepala daerah atas dugaan korupsi bagi tujuh gubernur dan 60 orang bupati/wakil bupati atau wali kota/wakil wali kota.
Data yang dikeluarkan Indonesia Corruption Watch (ICW), DPR RI Periode 2004-2009, ada 38 orang yang diduga terlibat korupsi. Mereka berasal dari 6 fraksi. Mereka antara lain terdiri dari 15 anggota FPDIP, 8 anggota FPG, 8 anggota FPPP, 3 anggota FPD, 3 anggota FPAN, dan 1 anggota FPKS.

Beberapa nama yang cukup ngetop masuk dalam daftar. Antara lain Noviantika Nasution, Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, Theo Syafei, Heri Achmadi, Adiwarsita Adinegoro, Abdul Gafur, Marzuki Darusman, Setya Novanto, Tosari Widjaja, Andi M Ghalib, Junus Effendi Habibie, AM Fatwa, Fuad Bawazier, dan Iwan Prayitno. Itu baru data lama yang dikeluarkan ICW pada 2005 silam.
Inilah nama-nama yang menurut ICW terlibat kasus korupsi (data tahun 2005).

Fraksi PDIP:
1. Dharmono K Lawi, korupsi.
2. Eka Santosa, korupsi
3. Noviantika Nasution, penyalahgunaan jabatan
4. Zainal Arifin, penyalahgunaan jabatan
5. Royani Haminullah, penyalahgunaan jabatan
6. Pramono Anung Wibowo, korupsi (penyuapan)
7. Tjahjo Kumolo, korupsi (investasi)
8. I Gusti Agung Rai Wirajaya, korupsi (menerima suap)
9. Theo Syafei, korupsi (money politics)
10. Agustinus Clarus, korupsi
11. Max Moein, korupsi (suap)
12. Dudhie Makmun, korupsi (suap)
13. Gunawan Wirosaroyo, korupsi (suap)
14. Heri Achmadi, korupsi (suap)
15. Soewarno, korupsi (suap)

Fraksi Golkar:
1. Ahmad Darodji, korupsi
2. Ebby Jauharie, korupsi
3. Markum Singodimedjo, korupsi
4. Adiwarsita Adinegoro, korupsi dan perusak lingkungan
5. Abdul Gafur, korupsi
6. Agusman Effendi, penyalahgunaan jabatan
7. Marzuki Darusman, penyalahgunaan jabatan
8. Setya Novanto, korupsi

Fraksi PPP:
1. Tengku Muhammad Yus, korupsi
2. Faqih Chaeroni, korupsi
3. Ahmad Thoyfoer, korupsi
4. Ahmad Kurdi Moekri, korupsi
5. Endang Kosasih, korupsi
6. Hasrul Azwar, korupsi (suap)
7. Tosari Widjaja, korupsi (investasi)
8. Andi Muhammad Ghalib, korupsi (penyuapan)

Fraksi Partai Demokrat:
1. Tata Zaenal Mutaqien, korupsi
2. Junus Effendi Habibie, korupsi
3. Azam Azman, korupsi

Fraksi PAN:
1. Totok Daryanto, korupsi
2. AM Fatwa, korupsi (suap)
3. Fuad Bawazier, korupsi dan penyalahgunaan jabatan

Fraksi PKS:
1. Iwan Prayitno, penyalahgunaan jabatan

Nah,sekarang ada lagi puluhan nama yang bakal menambah panjang daftar di atas. Beberapa nama sudah ada dalam daftar di atas, yang diduga menerima aliran dana Bank Indonesia dan menerima travel cek dari Miranda Goeltom.  Nama-nama dimaksud (sesuai pengakuan Hamka Yandhu) adalah para mantan anggota Komisi IX periode 1999-2004.

Fraksi  Golkar:
Hafida Alawi,  TN Nurdin Baharuddin Aritonang,  Antoni Zeidra Abidin, Ahmad Hafiz Zawawi,Asep Ruchimat Sudjana,  Bobby SH Suhadirman, Aji Ashar Muklis, Abdullah Zaini, Ryan Salampessy, Hamka Yandhu, Henky Baramuli, Reza Kemarala, Paskah Suzetta.

Fraksi PDIP (masih menurut pengakuan Hamka Yandhu)
Emir Moeis, Max Moein, Poltak Sitorus, Alberson M Sihaloho, Sukowaluyo Mintohardjo,Candra Wijaya, Zulvan Lindan, Angelina Fathian, William Tutuarima, Sukono, Mahtus Corness, Dudhie Makmun Murod ,Sutanto Pranoto,  Donny Prasetyo, Agus Condro Prayitno, Daniel Budi Setiawan.

Jumlah itu pun diyakini belum seluruhnya. Masih banyak yang belum terungkap. Celakanya, banyak di antara nama-nama itu justru menjadi calon legislatif (caleg) lagi pada Pemilu 2009 mendatang. Kendati belum terbukti kebenarannya secara hukum, namun diyakini, pengakuan Agus Condro dan Hamka Yandhu bukan isapan jempol. Bayangkanlah apa yang terjadi jika Anda kembali memilih para koruptor dan penerima suap sebagai wakil Anda. Entah apa jadinya negara ini bila mereka kembali menjadi wakil rakyat. Bisa bubar negara kita ini.

Jika para pencuri itu terpilih kembali, mereka akan menjadi guru yang baik bagi anggota Dewan yang baru untuk sama-sama melakukan korupsi. Maka jumlah koruptor ini negeri ini akan berlipat-lipat banyaknya.
KPK bakal kehabisan akal untuk mengatasi kasus korupsi sampai akhirnya lembaga itu menjadi mandul sendiri karena kehabisan napas dalam menangani begitu banyaknya kasus korupsi di negeri ini. Korupsi di Indonesia sudah bagaikan sebuah kutukan. Ya Tuhan, ampunilah bangsa kami. Lepaskanlah negeri ini dari bencana korupsi yang mahadahsyat itu….

Iklan

One thought on “Terpaksa Revisi Pepatah untuk Para Koruptor”

  1. hny ad satu cara pencegahan korupsi di DPR.

    kita boikot pemilu 2009.

    kita pilih golput.

    tidah usah lagi ada DPR yang bobrok.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s