Korupsi tak Ada Habisnya

SEKALI lagi, saya perlu menggunakan pepatah ini untuk para koruptor.  Patah tumbuh hilang berganti. Mati satu tumbuh seribu. Ya, pepatah tua ini sangat cocok untuk kasus korupsi di Indonesia. Satu kasus korupsi belum selesai, sudah muncul kasus baru lagi. Korupsi di negara kita ini seolah tak ada habisnya.

Selasa 23 September 2008, Indonesia Corruption Watch membeberkan lagi 77 nama anggota DPR yang diduga melakukan pelanggaran kode etik. Pelanggaran terbesar adalah dugaan penerimaan gratifikasi dan berangkat ke luar negeri dengan biaya pihak lain.

Bila data yang dibeberkan ICW terbukti, maka perbuatan 77 anggota Dewan tersebut masuk kategori korupsi, dalam hal ini penyalahgunaan kekuasaan. Ini  mengacu pada pendapat Lord Acton yang berbunyi, “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”.

Badan Kehormatan (BK) DPR selalu beralasan bahwa mereka akan mengambil tindakan terhadap anggota DPR yang diduga melakukan pelanggaran kode etik apabila ada laporan dari masyarakat. Sayangnya, ketika ICW hendak menyampaikan laporan pelanggaran kode etik oleh anggota Dewan, BK justru tidak bisa ditemui.
Pada kasus suap yang dilaporkan Agus Condro Prayitno misalnya.

Sebagai anggota Dewan, Agus telah membeberkan mengenai adanya suap berupa 400 travel cek terkait pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda S Goeltom, Juni 2004 silam. Agus sendiri mengaku menerima cek senilai Rp 500 juta. Pusat Pelaporan dan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) menguatkan pengakuan Agus dengan menyampaikan laporan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai adanya 400 travel cek, masing-masing senilai Rp 50 juta.

Namun sampai saat ini BK tidak melakukan pemeriksaan terhadap Agus. Padahal, sudah seharusnya BK menjalankan fungsinya dalam menegakkan kode etik anggota Dewan dengan melakukan pemeriksaan terhadap mereka yang disinyalir terlibat. Ini menimbulkan kecurigaan bahwa lembaga DPR sendiri tidak sungguh-sungguh ingin memerangi korupsi. Apalagi beberapa waktu lalu sejumlah anggota DPR hendak mengurangi power KPK.

Korupsi di DPR ibarat puncak gunung es. Patut dicurigai masih banyak anggota DPR yang juga melakukan  korupsi dalam berbagai bentuk. Sehingga semakin sulit menyangkal opini publik bahwa DPR adalah lembaga yang sangat korup.

Melihat kondisi tersebut, maka partai politik peserta Pemilu 2009 sebenarnya bisa memanfaatkan isu tersebut untuk meraih simpati calon pemilih. Saat ini rakyat sudah sangat muak terhadap perilaku korup para anggota DPR. Maka parpol peserta pemilu bisa juga mengadopsi pola yang diterapkan sejumlah parpol jelang Pemilu 2004 silam.

Ketika itu sejumlah parpol membentuk koalisi melawan korupsi. Meski kini banyak di antara kader parpol tersebut ternyata melakukan korupsi, tapi tekad dan upaya yang dilakukan merupakan sesuatu yang positif. Hanya saja, untuk Pemilu 2009, perlu dibuat komitmen yang lebih kuat lagi. Koalisi itu jangan sampai dibentuk hanya untuk meraih kekuasaan. Perlu ada sebuah kontrak sosial yang mengikat di antara anggota koalisi.

Misalnya, apabila seorang anggota Dewan yang tergabung dalam koalisi parpol antikorupsi itu terindikasi melakukan korupsi, parpol yang bersangkutan harus mengusut secara sukarela kasusnya untuk dilaporkan kepada aparat hukum yang berwewenang. Dengan begitu rakyat tahu kepada siapa dia menggantungkan harapan untuk memerangi korupsi.

Dari sisi eksekutif. Pada bulan Juni lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyatakan bahwa perang melawan korupsi di Indonesia akan dimenangkan pemerintah.  “Jangan sampai ada safe haven (tempat perlindungan) bagi koruptor di dunia,” tegas Presiden ketika itu.

Kenyataannya sikap pemerintah terlalu lunak terhadap para koruptor. Contohnya pemberian remisi kepada terpidana korupsi Abdullah Puteh. Mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam itu mendapat remisi hari raya 1,5 bulan. Ini sama dengan memanjakan para koruptor.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s