Bursa “Cueki” 10 Jurus SBY

* BEI Mendadak Stop Perdagangan Saham

* Kejatuhan IHSG Terburuk di Seluruh Dunia

Kondisi saat ini sudah hampir mirip dengan krisis ekonomi tahun 1997-1998.

Dradjad Wibowo, Anggota Komisi XI DPR

OKTOBER kelabu bagi pasar modal Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah bursa saham di Indonesia,

Pialang ini menepuk jidatnya lantaran syok melihat IHSG ambruk pada perdagangan Rabu (9/10/2008).
Pialang ini menepuk jidatnya lantaran syok melihat IHSG ambruk pada perdagangan Rabu (9/10/2008).

otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan saham secara mendadak, Rabu ( 8/10/2008 ), menyusul langkah serupa yang dilakukan bursa Rusia sehari sebelumnya.

Alasan penutupan perdagangan mendadak bukan karena alasan force majeur yang pernah dilakukan pada 13 September 2003, ketika bursa Indonesia masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Saat itu perdagangan dihentikan karena ada peledakan bom di kantor BEJ.

Suspensi mendadak kali ini menunjukkan bahwa pasar mengabaikan 10 jurus yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jurus-jurus tersebut bukannya membangkitkan kepercayaan pelaku pasar, sebaliknya justru IHSG terus melorot dan terpaksa harus ditutup lantaran pihak BEI tak kuasa meredam kepanikan luar biasa yang terjadi di pasar saham. Terakhir, Presiden SBY memerintahkan 14 BUMN yang listring di BEI untuk memborong saham sebanyak-banyaknya. Akankah ini berhasil? Kita tunggu saja hasilnya.

Kembali ke situasi di pasar modal. IHSG langsung hancur-hancuran sejak pembukaan perdagangan saham Rabu pagi. Sesi I, pukul 10.40 JATS, IHSG berada di level 1.472,71 atau turun tajam 147,01 poin atau anjlok sangat dalam sebesar 9,08 persen.
Kemudian IHSG melorot tajam ke level 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Inilah posisi terendah sejak 18 September 2006. Kala itu IHSG melorot ke level 1.510,825. Indeks saham kemarin bergerak di kisaran seperti pada 11 September-7 Agustus 2006, atau berada di kisaran 1.465,710-1.402,191.
Transaksi hanya bergerak pada kisaran di bawah Rp 1 triliun, atau persisnya Rp 952,165 miliar. Kondisi ini memaksa otoritas BEI memutuskan menghentikan perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB.

“Transaksi di bawah 1 triliun dan kami rasa itu terlalu kecil. Sedangkan volume perdagangan juga masih kecil. Jadi, direksi memutuskan untuk menghentikan perdagangan pada sesi kedua ini,” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah saat menggelar jumpa pers di Gedung BEI, Jl Sudirman, Jakarta, kemarin.

Penutupan ini sampai batas waktu yang belum ditentukan.  Menurutnya, para investor masih sangat panik. Ada sesuatu hal yang dikhawatirkan oleh investor lokal maupun investor asing.

Menurut informasi, kehancuran BEI dipicu aksi jual investor asing yang berburu likuiditas karena di negara asalnya sedang kekeringan likuiditas. Adanya pernyataan dari JP Morgan Chase untuk menghindari surat utang di Indonesia makin membuat investor menjauhi IHSG. Erry tidak membantah ataupun mengamini pernyataan tersebut.

“Jadi sangat beragam. Kita tidak bisa bilang apakah investor lokal yang lebih banyak trading ataukan investor asing,” ujarnya tanpa menjelaskan kekhawatiran yang dimaksud.

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Fuad Rahmany juga menilai ada irasionalitas di pasar modal saat ini. “Kami hentikan dulu sementara transaksi bursa karena tingkat kepanikan dan irasionalitas pasar sudah demikian tingginya, oleh karena itu, suspensi dilakukan agar pasar bisa mencerna informasi dengan lebih tenang dan rasional,” ujar Fuad.

Penurunan IHSG yang mencapai 10,38 persen tercatat paling tajam dibandingkan bursa saham lain di seluruh dunia. Bursa-bursa dunia lainnya hanya turun sebesar 4-5 persen. Indeks Hang Seng turun 5,44 persen, Seoul (3,54%), KOSPI (3,42%), Nikkei (4,54%), STI Singapura (3,84%), dan Taiwan turun 4,34 persen.

Saham di Australia turun 4,04 persen dan di belahan Eropa FTSE pada 7 Oktober malah rebound 0,35%, Xetra Dax turun 1,12%.  Sedangkan Dow Jones pada penutupan 7 Oktober 2008 hanya turun 5,11 persen, Arab Saudi juga turun 7 persen.

Belum lama ini perdagangan saham di BEI sempat naik tajam sebagai imbas euforia naiknya harga komoditas, seperti saham perkebunan dan pertambangan. Namun, anjloknya pasar global membuat saham perkebunan dan tambang ikut anjlok. Pemerintah tidak bisa apa-apa, satu-satunya cara adalah dengan buy back atau pembelian kembali agar bisa mengerem merosotnya harga saham.

“Sehingga orang tidak berspekulasi dan panik. Selama ini kan seperti itu, hingga mengakibatkan harga-harga saham jatuh,” kata Menneg BUMN Sofyan Djalil, yang juga menjabat pelaksana tugas Menteri Keuangan, di Gedung Garuda, Jakarta, Rabu.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan, selama pasar saham global terkoreksi akan terus berimbas dengan menurunkan saham Indonesia.  Namun dia menolak intervensi pemerintah dengan membeli saham karena dinilai tidak bijak secara politik. Dia malah memperingatkan pemerintah bahwa kondisi saat ini sudah hampir mirip dengan krisis ekonomi tahun 1997-1998.

“Sebenarnya arahnya sama, suku bunga naik, indeks jatuh, interbank loan kering, rupiah turun, inflasi tinggi, tapi memang magnitudenya lebih kecil,” ujarnya.

Pertanyaannya, siapa yang tidak rasional, pemerintah, otoritas bursa atau pelaku pasar?(*)

Iklan

One thought on “Bursa “Cueki” 10 Jurus SBY”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s