Polisi Salah Terjemahkan Aturan Bank Indonesia?

SEORANG pria ditangkap oleh petugas dari Poltabes Barelang, Batam, karena diduga hendak menyelundupkan uang kertas rupiah ke Singapura.

Tribun/Leon
Kapoltabes Barelang Kombes Slamet Riyanto (kanan) memperlihatkan bundelan uang pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 100 juta yang akan dibawa Tang Tek Meng (kiri) ke Singapura, Kamis (16/10/2008). Foto: Tribun/Leon

Pria bernama Tah Tek Meng itu ditangkap saat berada di ruang tunggu Pelabuhan Harbour Bay.  Setelah digeledah, polisi menemukan uang kertas pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 100 juta yang dibungkus koran.

Pertengahan September lalu, TNI Angkatan Laut (AL) menangkap dua pria di atas feri Wave Master 6 saat berlayar menuju Singapura karena hendak menyelundupkan uang kertas rupiah senilai Rp 696 juta.

Pada kasus yang disebutkan kedua, jelas sekali bahwa kedua pelaku hendak menyelundupkan uang.

Pertama, uang ratusan juta dilakban seperti ikat pinggang dan diikatkan ke tubuh mereka. Kemudian mereka mengenakan busana longgar agar tidak terlihat sedang membawa banyak uang. Di situ terlihat ada upaya kedua pelaku untuk mengelabui petugas.

Kedua, jumlah uang yang mereka bawa mencapai Rp 696 juta. Jumlah ini melewati ketentuan yang diatur oleh pemerintah.  Sebab, menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 4/8/PBI/2002, Bab II pasal 2 dan 3,  setiap orang (baik individu maupun lembaga) yang ingin membawa uang ke luar negeri ataupun membawa masuk ke wilayah pabean Indonesia dalam jumlah di atas Rp 100 juta, harus meminta izin BI di daerah setempat.

Berbeda dengan kasus yang dihadapi Tah Tek Meng. Pria ini hanya membawa uang Rp 100 juta. Dia mengaku hendak membeli bawang di Singapura karena lebih murah dibandingkan di Batam. Tapi menurut polisi, Tang ditangkap karena membawa uang sejumlah Rp 100 juta tanpa dilengkapi dokumen dari Bank Indonesia.

Tapi jika mengacu pada aturan Bank Indonesia, pria itu tidak melakukan pelanggaran. Sebab, nilai uang yang hendak dia bawa ke luar negeri masih di bawah ketentuan tersebut di atas alias kurang dari Rp 100 juta.

Kasus ini menggambarkan masih adanya kerancuan dalam pemahaman dan penerapan aturan Bank Indonesia. Jika polisi menangkap Tah Tek Meng atas dasar PBI No 4/8/PBI/2002, maka bisa dibilang polisi telah salah tangkap. Kecuali polisi punya alasan lain atas penangkapan tersebut.

Dengan demikian, polisi harus segera menjelaskan alasan penangkapan terhadap Tah Tek Meng. Jika dia tidak terbukti bersalah, maka yang bersangkutan harus dibebaskan dan uangnya dikembalikan. Sebab, jika persoalan ini tidak segera dijelaskan, bisa menimbulkan ketakutan bagi kalangan pengusaha lainnya yang biasa melakukan perdagangan dengan Singapura dan Malaysia.

Upaya aparat negara mencegah tindak kriminal, seperti penyelundupan uang maupun barang, sangat didukung. Namun jangan sampai tindakan pencegahan yang dilakukan justru melanggar hukum.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s