Semua Bank BUMN Jadi Korban Indover

TAK satu pun bank milik pemerintah yang lolos dari kasus dibekukannya Bank Indover (Indonesische Overzeese Bank NV) milik Bank Indonesia (BI) di Belanda oleh Pengadilan Distrik Nederland. Menteri BUMN Sofyan Djalil pun khawatir sehingga dirinya sangat berharap Indover diselamatkan karena terkait nasib bank BUMN.

Itu lantaran BI mewajibkan semua bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyimpan dananya di bank yang kini terbelit utang senilai 500 juta dolar AS itu. Indover diketahui menyimpan dana 43 bank nasional

“Semua bank BUMN memiliki dana di Indover, karena itu kan anak usaha BI. Kita semua harus simpan dana di sana,” ungkap Chief Economist BNI A Tony Prasetyantono, di Jakarta, Kamis ( 23/10/2008 ).

Tony mengungkapkan, bank BUMN yang menyumbang dana besar adalah BRI, sementara BNI dan Mandiri hanya sepertiganya saja. “Kalau BNI paling cuma beberapa puluh miliar saja,” ungkapnya.

Sejauh ini baru empat bank ‘korban’ Indover  yang diumumkan kepada publik  oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), karena saham mereka tercatat di BEI. Empat bank dimaksud adalah Bank Lippo (LPBN) yang menyimpan dana sebesar 5 juta dolar AS, Bank Ekonomi Raharja (BAEK) menyimpan dana sebesar EUR 19.239,82, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Artha Graha Internasional (INPC). Dua bank terakhir tidak disebutkan besaran dananya di Indover.

Presiden Direktur Bank Lippo Hendrik Gmulder mengatakan, kepemilikan Bank Lippo di Indover dalam bentuk overnight placement. Kata dia, Bank Lippo bersama bank lainnya tengah mengurus klaim tersebut melalui Persatuan Bank swasta Nasional (Perbanas) agar persoalan bangkrutnya Indover Bank segera diselesaikan BI.

Direktur Utama BAEK Hendrik Tanojo menjelaskan, pihaknya memiliki dana di rekening nostro Bank Indover dan sampai pada posisi 30 September 2008 final closing balance BAEK adalah sebesar 19.239,82 Euro.
Sementara Divisi Sekretariat Perusahaan BBRI Hartono Sukiman mengakui memiliki eksposur pada Bank Indover, namun tidak menyebutkan berapa nilainya.

Direktur Indover Belanda Nana Supriana  mengatakan, kini Indover sedang mencari utang jangka pendek dari pasar uang di Eropa dan Arab. “Kalau dari money market itu jangka pendek. Sumbernya banyak, di Eropa ada, Arab ada, tapi saya nggak ingat dari siapa saja,” ujar Nana saat rapat bersama Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu lalu.

Rapat itu juga dihadiri oleh Komisaris Utama Indover Subarjo Joyosumarto dan para direksi, yakni  Goegoen Roekawan, Peter van der Voort van Zyp, Chairi Hakim, dan Arta Bisman. Menurut Subarjo Joyosumarto, nasib bank-bank yang dananya masih tertahan di Bank Indover masih menunggu keputusan DPR.

Sempat untung

Menurut manajemen Indover, sebenarnya eksposur mereka sempat memiliki kinerja yang bagus sebelum dibekukan. Pada Agustus 2008, Indover masih mencetak laba sebesar 2,0 juta euro, dengan rasio CAR pilar I sebesar 18,43 persen. Rata-rata peningkatan net interest income 44,35 persen, rata-rata peningkatan aset 2 persen per bulan, dan rata-rata peningkatan pinjaman perusahaan sebesar 1,9 persen per bulan.

Bulan September, kondisi pasar keuangan mulai terguncang ditandai terus merosotnya harga surat-surat berharga. Kondisi ini menyebabkan bank peserta repo mulai mengurangi fasilitasnya dengan Indover, karena kualitas surat berharga yang dijaminkan menurun. Kondisi money market di pasar Eropa semakin langka karena semua bank melakukan penahanan likuditas untuk keperluan intern dan nasabahnya sendiri.

Pada 14 September 2008, terjadilah bangkrutnya Lehman Brothers di AS. Kejatuhan Lehman Brother ini merembet ke bank investasi lainnya, seperti Morgan Stanley, Merrill Lynch dan perusahaan asuransi AIG.
Untuk mengantisipasi koondisi likuiditas yang semakin memburuk yang pada gilirannya akan membahayakan Indover, maka pada 19 September 2008 Indover mengajukan kepada BI agar BI dapat membuka money market dengan Indover untuk menutup segara kebutuhan likuditas Indover.

Namun permohonan ini ditolak karena BI tidak bisa melakukan hubungan money market dengan bank-bank yang ratingnya tidak memadai dan anak usaha seperti Indover.

Pada 6 Oktober 2008, kondisi likuiditas Indover sangat krits karena likuiditas di perbankan Indonesia sangat kering. Pada tanggal tersebut, posisi likuiditas Indover yang tidak dapat ditutup mencapai 92 juta dolar AS, terdiri atas 67,5 juta dolar AS ditambah 18 juta euro.

Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 2008, bank sentral Belanda menyatakan bahwa Pengadilan Belanda telah memutuskan untuk membekukan kegiatan operasional Indover Bank yang berkedudukan di Amsterdam.

Sejumlah kalangan berpendapat, jika BI melakukan bailout senilai 546 juta euro (Rp 7 triliun) untuk menyelamatkan Indover, dana tersebut bisa-bisa tidak kembali sehingga akan lebih merugikan negara.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s