Lindungi Rakyat dari Krisis

TAK terbantahkan bahwa kini kita sudah masuk pusaran krisis ekonomi sebagai dampak lanjutan dari krisis subprime mortgage di Amerika Serikat (AS). Pasar saham di berbagai belahan dunia berdarah-darah. Senin ( 27/10/2008 ), otoritas pasar modal Thailand (SET) melakukan suspensi (menghentikan perdagangan) menyusul anjloknya indeks harga saham. Bursa saham Filipina pun bernasib sama lantaran indeks jatuh hingga di bawah 10 persen. Tak satu pun pasar modal di seluruh dunia yang menggembirakan.

Bahkan, Korea Selatan, negeri yang memiliki pondasi ekonomi kuat, kini mengakui bahwa mereka sedang menghadapi krisis yang lebih buruk dibanding tahun 1997/1998  silam.  Negara dengan cadangan devisa mencapai 243,3 miliar dolar AS itu mengakui kesulitan menghadapi situasi ini.

Perekonomian beberapa negara bahkan sudah hancur-hancuran. Ukraina, Hungaria, Estonia, Serbia, Belarusia, dan Pakistan sudah angkat tangan. Mereka pun terpaksa meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF), sang “dokter ekonomi” yang sudah terbukti gagal menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi satu dasawarsa silam.

Demikian pula Indonesia yang kali ini menolak menggunakan jasa IMF. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat menghentikan perdagangan saham (suspensi) pada 8 Oktober 2008 gara-gara harga IHSG anjlok terlalu tajam. Indonesia yang hanya memiliki cadangan devisa sebesar 57,108 miliar dolar AS, kini harus menghadapi persoalan nilai tukar mata uang rupiah yang kian hancur-hancuran.

Setelah terus melemah, akhirnya kurs rupiah terhadap dolar AS menembus level psikologis Rp 10.000. Pada perdagangan Senin 27 Oktober 2008,  kurs rupiah sempat menembus level Rp 11.400 per dolar AS, atau melemah hingga 795 poin dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu.  Walau akhirnya ditutup di level Rp 10.800 per dolar AS, nilai ini sudah melampaui “angka keramat” yang dikhawatirkan berbagai kalangan.

Melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini, selain disebabkan krisis finansial global, juga lantaran sejumlah perusahaan tengah berburu dolar untuk memenuhi kebutuhan pendanaan menjelang akhir bulan. Mereka harus pembayaran kewajiban yang jatuh tempo. Kurs rupiah sudah menembus sentimen utama, bakal memaksa kalangan pengusaha/industri menaikkan harga produk mereka. Maka dampak selanjutnya yang harus diwaspadai adalah tingginya angka inflasi.

Inilah pukulan berikutnya yang bakal dihadapi kita semua. Orang-orang yang mungkin selama ini tidak peduli dengan apa yang terjadi di pasar modal dan enggan memikirkan soal fluktuasi nilai tukar rupiah, bakal terkejut.

Penderitaan yang bakal dihadapi rakyat adalah ketika penghasilannya tiba-tiba tidak cukup untuk membeli kebutuhan pokok.  Misalnya harga susu bakal melonjak. Padahal susu sangat dibutuhkan untuk memenuhi gizi anak-anak Indonesia agar tetap tumbuh sehat dan cerdas.

Dalam situasi sulit seperti ini, pemerintah diharapkan bisa menekan berbagai tindakan ilegal berupa pungutan liar oleh orang dalam pemerintah, yang senantiasa menyulitkan kalangan pengusaha. Beberapa pengusaha mengusulkan Penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bahan bakar minyak (BBM) bagi industri agar bisa mengurangi beban biaya produksi. Dengan demikian pengusaha bisa melepas produknya ke pasar dengan harga yang lebih murah.

Selain itu, hal yang kini sangat diharapkan dari pemerintah untuk mengurangi beban ekonomi rakyat adalah menurunkan harga BBM bersubsidi. Apalagi harga minyak dunia juga sudah turun hingga 64 dolar AS per barel. Bahkan minyak jenis brent North Sea kini hanya 59,40 dollar AS per barel, terendah sejak Februari 2007.

Ketua Panitia Anggaran DPR, Harry Azhar Aziz menyatakan, sebenarnya harga BBM bersubsidi masih bisa turun Rp 1.000 per liter. Sayangnya, agak sulit menurunkan harga BBM bersubsidi secepatnya, mengingat masa berlaku APBN-P 2008 tinggal dua bulan lagi. Tapi sangat diharapkan tahun depan harga BBM bersubsidi bisa diturunkan, mengingat dampak krisis saat ini bakal lebih terasa pada tahun 2009.

Pemerintah berdalih tidak bisa menurunkan harga BBM  karena subsidi sudah membengkak melebihi anggaran yang disediakan. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, subsidi BBM yang telah dikeluarkan sebesar Rp 127,7 triliun. Padahal yang dianggarkan dalam APBN-P 2008 hanya Rp 117,1 triliun. Artinya pemerintah sudah tekor Rp 10,6 triliun.

Persoalan lain yang kini perlu penyelesaian secepatnya adalah soal upah buruh. Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri (Menakertrans, Mendag, Menperin, dan Mendagri) mengenai upah minimun provinsi (UMP) ditolak oleh kalangan pekerja yang diwakili oleh Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia (FISBI).

Pemerintah menilai penetapan upah (sebaiknya) tidak lebih dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Ini untuk mengurangi beban kalangan pengusaha/industri.

Apa pun langkah yang akan diambil pemerintah dalam menangani banyaknya persoalan  yang bertumpuk- tumpuk, intinya adalah bagaimana pemerintah benar-benar berpihak pada kepentingan yang lebih luas, yakni melindungi rakyat dari krisis ini. Rakyat tidak bisa dibirakan berdarah-darah menanggung beban hidup yang semakin berat.

Pemerintahan ini dianggap berhasil apabila mampu membawa keluar rakyat dari kondisi sulit saat ini. Jika tidak, para penguasa saat ini akan mendapatkan jawabannya pada Pemilu 2009 mendatang.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s