Ahmad Dahlan Juga “Penjajah”

SUATU sore, di bulan Juli 2008, saya dan rekan wartawan Sri “Menik” Murni ngobrol santai bersama Wali Kota

Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan

Batam Ahmad Dahlan dan jajaran Kepala Dinas di Hotel Goodway, Nagoya, Batam. Topik pembicaraan mengenai Visit Batam 2010.

Sambil menikmati aneka makanan dan minuman ringan, Pak Wali memaparkan mengenai mimpinya menarik turis sebanyak-banyaknya ke Batam. Dia bahkan punya visi jangka menengah, yakni menjadikan Batam sebagai pintu gerbang barat bagi turis asing untuk selanjutnya pesiar ke wilayah Indonesia lainnya. Sedangkan rencana jangka pendeknya adalah menarik 1,2 juta turis asing ke Batam tahun 2010.

Kami duduk melingkari dua meja panjang yang ditata di bagian tengah restoran Hotel Goodway. Saya duduk persis di sebelah kiri  Pak Wali. Dengan jelas saya melihat betapa rileknya orang ini. Dia melipat kaki kirinya ke atas kursi lalu mulai bercerita mengenai berbagai hal. Tentu saja lebih fokus ke Visit Batam 2010 sembari sesekali melebar ke persoalan lain.

Di antara topik yang melenceng itulah pria keturunan Bugis, kelahiran Batam 10 April 1954, ini bercerita sedikit mengenai “suku penjajah”. Dia bilang, sesungguhnya suku Jawa memiliki karakter penjajah. Mereka masuk ke suatu wilayah, bekerja keras, kemudian meraih kesuksesan secara ekonomi. Ketika itu sudah tercapai, mereka akan masuk ke politik dan akhirnya menjadi pemimpin di wilayah itu. Tentu saja hal itu dia sampaikan tidak bermaksud menyatakan bahwa suku Jawa adalah penjajah seperti bangsa Belanda dan lainnya yang pernah menjajah Indonesia.

Ketika Pak Wali menyatakan hal itu, spontan saya memotong. “Lho, Pak Dahlan sendiri kan juga “keturunan penjajah.” Mengapa? Karena Pak Dahlan sendiri bukan orang Melayu. Kendati kelahiran Batam, tetapi bukan orang asli Batam. Tetapi sekarang Pak Dahlan menjadi Wali Kota Batam. Bukankah itu berarti Pak Dahlan juga seorang ‘penjajah’?” kata saya.

Semua yang hadir sore itu langsung tertawa mendengar kalimat itu, termasuk Pak Wali. Karena memang saya juga sekadar melucu, menanggapi pernyataan beliau. Dan Pak Wali sendiri mengakui hal itu, jika memakai logikanya sendiri mengenai suku Jawa.

Dari situ pria yang dikenal ramah dan low profile itu bilang, keberagaman itulah potensi besar yang dimiliki Kota Batam. Inilah kota yang sangat heterogen karena di sini berkumpul berbagai suku dari seluruh wilayah Indonesia. Dan potensi itulah yang hendak dia manfaatkan guna menyukseskan Visit Batam 2010 sekaligus mewujudkan visi jangka menengahnya menjadikan Batam pintu gerbang barat Indonesia.

Dahlan pun mengajak paguyuban adat se-Kota Batam untuk bersama-sama menyukseskan Visit Batam 2010. Setiap suku yang ada di Batam dipersilakan mendaftar ke Dinas Pariwisata untuk menggelar pertunjukkan budaya daerahnya kepada turis asing yang berkunjung.

Nah, kira-kira seperti inilah kekuatan dari keberagaman itu. Selain bisa membuat masyarakat menjadi lebih solid, bisa juga bermanfaat secara ekonomis. Jadi, tidak persoalan kan jika Ahmad Dahlan yang seorang “keturunan penjajah” memimpin kota ini? Intinya, dia bisa mempersatukan keberagaman menjadi kekuatan  sekaligus membawa manfaat ekonomi. Mudah-mudahan mimpi seorang Ahmad Dahlan terwujud di 2010 mendatang dan menjadi pijakan bagi siapa pun yang melanjutkan estafet kepemimpinan di masa-masa mendatang.(*)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s