Jangan Koyak Luka Lama di Maluku

TIGA ledakan bom mengguncang Kota Ternate, Maluku Utara, Senin ( 3/11/2008 ) dinihari. Satu bom di Kantor Gubernur, satu di Kantor DPRD, dan satu lagi di rumah dinas gubenur.  Ledakan itu cukup dahsyat dan beruntun dalam selang waktu 10 menit. Bunyi ledakan bahkan terdengar hingga radius 6 kilometer dari lokasi kejadian. Ini menunjukkan bahwa jenis bom rakitan yang digunakan berdaya ledak tinggi.

Apa motif di balik peledakan bom ini? Apakah terkait rencana eksekuzi terpidana bom Bali I Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron? Apakah terkait ketidakpuasan atas hasil pemilihan gubernur Maluku Utara yang kontroversial? Atau ada motif lainnya tetapi hanya mendompleng dua soal yang sedang hangat itu?

Polisi masih menyelidiki pelaku dan motif di balik peledakan bom tersebut. Walau tidak menyebabkan korban luka maupun korban jiwa, kejadian tersebut jelas menimbulkan ketakutan dan situasi mencekam. Menciptakan horor di tengah masyarakat Maluku yang pernah terkoyak oleh pertikaian berdarah berkepanjangan dan merenggut ribuan jiwa manusia.

Peledakan bom itu jelas bisa mengoyak luka lama yang mungkin belum benar-benar sembuh. Terlihat dari reaksi warga setempat. Kendati ledakan terjadi dini hari, mereka langsung panik dan tergopoh-gopoh mengungsi ke lokasi aman. Inilah reaksi alam bawah sadar mereka yang masih menyimpan dengan sangat rapi pengalaman pahit yang terjadi pada awal dekade ini.

Para pelaku bom pasti paham akan kondisi itu. Mereka tahu persis bagaimana kondisi psikologis masyarakat Maluku yang terluka akibat kehilangan orang-orang terdekatnya. Kondisi seperti ini paling mudah disulut guna memicu kembali konflik lama yang kini terpendam.

Para pelaku seolah-olah ingin mengarahkan opini publik bahwa peledakan bom tersebut terkait hasil Pilkada yang kurang memuaskan. Ini terlihat dari fakta di lapangan, satu bom diledakkan di kediaman Gubernur Maluku Utara Thaib Armain. Beruntung tidak ada korban luka ataupun tewas.

Kendati meminta masyarakat tenang dan tidak terpancing, namun Wakil Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba mengatakan, “Teman-teman wartawan saya rasa paling tahu soal motif ledakan.”

Pernyataan itu seolah-olah ingin menggiring opini publik bahwa peledakan itu ada kaitannya dengan sengketa Pilkada yang (akhirnya) dimenangkan oleh Thaib Armain dan Gani Kasuba atas lawannya, pasangan Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo setelah melewati proses hukum hingga Mahkamah Agung.
Pernyataan abu-abu seperti itu sangat berbahaya karena menimbulkan tafsiran macam-macam.

Selaku pemimpin, alangkah baiknya dia menyerahkan saja kepada kepolisian dan tidak perlu berkomentar. Tugas utamanya adalah menenangkan masyarakat. Cukup dengan imbauan agar masyarakat tidak terprovokasi dan mengerahkan petugas keamanan untuk menjaga segala kemungkinan.

Jangan sampai membuat pernyataan yang justru menghasilkan dugaan-dugaan liar yang bisa saja berkembang menjadi saling tuding, lalu menimbulkan perpecahan dalam masyarakat yang baru saja terpecah akibat perbedaan pilihan politik dalam pilkada lalu.

Masyarakat Maluku tentu sudah berpengalaman menghadapi konflik. Karena mereka sudah pernah merasakan pahitnya sebuah konflik berdarah. Kiranya ujian yang sudah mereka lalui sendiri, menjadi pengalaman paling berharga sehingga luka lama itu tidak terkoyak lagi.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s