Bersatu Melawan Terorisme

Hotel Taj Mahal di Mumbai, India, yang sudah berusia 105 tahun, terbakar akibat ulah teroris.
Hotel Taj Mahal di Mumbai, India, yang sudah berusia 105 tahun, terbakar akibat ulah teroris.

KOTA Mumbai, India, dilanda ketegangan hebat dan ketakutan luar biasa selama empat hari, sejak Rabu malam hingga Sabtu (29/11). 10 Anggota teroris yang masih belia, menenteng granat dan senjata otomatis, melakukan serangan membabi-buta.

Apalagi serangan tersebut dilakukan di Mumbai yang berpenduduk lebih dari 14 juta jiwa dan merupakan pusat bisnis dan pariwisata India. Meski akhirnya situasi horor itu berakhir dengan 212 jiwa terenggut  dan lebih dari 300 orang luka-luka, namun sesungguhnya, ancaman teroris belum berakhir.

Serangan itu tentu membekas lama dalam benak ribuan turis asing maupun pebisnis dari berbagai negara yang berada di kota itu. Apalagi beberapa di antaranya tewas dan tidak sedikit yang menjadi sandera teroris di dalam dua hotel mewah, Taj Mahal dan Oberoi.

Situasi itu menjadi pelajaran bagi kita, Indonesia. Kendati kita juga sudah sering mengalami serangan teroris, namun ancaman itu tak pernah habis. Kini bahkan muncul ancaman baru. Al-Qaeda sebagai kelompok teroris internasional yang paling ditakuti, tiba-tiba memberi gelar kepahlawanan bagi Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas.

Tiga nama itu adalah pelaku bom Bali I pada 2 Oktober 2002 yang menewaskan 202 jiwa serta melukai 305 orang. Ketiganya sudah dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan pada 9 November 2008.

Gelar kepahlawanan yang diberikan kepada Amrozi cs bisa membangkitkan semangat patriotisme di kalangan pendukung kelompok tersebut. Apalagi gelar pahlawan itu disampaikan langsung oleh orang kedua Al-Qaeda, Ayman al Zawahiri melalui rekaman video.

Itu sekaligus merupakan jawaban Al-Qaeda atas permintaan Amrozi cs kepada Usamah bin Laden untuk membalaskan dendam atas kematian mereka. Kita tahu bahwa sebelum dieksekusi mati, trio bomber itu menyatakan,  “Blood by blood, soul by soul” atau darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Dan nama Presiden

Para pejalan kaki di Mumbai, tiarap ketakutan akibat aksi brutal kelompok teroris bersenjata lengkap memuntahkan peluru ke sembarang arah.
Para pejalan kaki di Mumbai, tiarap ketakutan akibat aksi brutal kelompok teroris bersenjata lengkap memuntahkan peluru ke sembarang arah.

Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi masuk dalam daftar pembalasan mereka.

Presiden Yudhoyono sendiri mengatakan bahwa terorisme,  kekerasan, dan konflik komunal memiliki dampak luar biasa. Dampak yang paling dahsyat adalah rasa tenang dan aman terampas. Rakyat dilanda ketakutan akibat ancaman yang ditebar kelompok teroris.

Dari segi ekonomi, teror dan kekerasan menimbulkan kerugian sangat besar. Perekonomian bisa lumpuh, investor takut masuk, bahkan investor yang sudah ada bisa saja memutuskan hengkang, mencari tempat yang lebih aman untuk menanamkan modalnya. Perekonomian negara bisa ambruk dan kesejahteraan yang dicita-citakan semakin sulit diwujudkan.

Mudah-mudahan pengalaman Polri dan TNI dalam menghadapi dan mencegah aksi teroris, bisa lebih memberikan rasa aman bagi rakyat.

Diharapkan institusi keamanan selalu sigap, terutama dalam pencegahan. Termasuk aparat keamanan di daerah-daerah. Sehingga aksi teroris seperti yang terjadi di Mumbai akhir November lalu tidak terjadi di bumi Indonesia.

Kita sebagai warga masyarakat pun tidak bisa membiarkan aparat keamanan bekerja sendiri. Semua orang wajib berpartisipasi dalam berbagai bentuk guna mencegah teroris mengobrak-abrik dan merampas rasa aman dari kita.

Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Ketua PBNU Said Aqil Siradj, bahwa aksi terorisme yang yang ditujukan untuk membunuh golongan, pihak atau agama tertentu dengan tujuan tertentu, tidak bisa dibiarkan, apalagi membawa-bawa nama Islam.

Sebab, Islam mengajarkan kasih sayang kepada semua mahluk Tuhan, lebih-lebih terhadap sesama manusia, meskipun  keyakinan berbeda. Ajaran dan agama Islam tidak pernah membenarkan bentuk teroris, apapun alasannya. Sebab, Nabi Muhammad sendiri sudah membuktikan bahwa Islam adalah agama cinta damai.

Imbauan seperti itu pula yang harus senantiasa disampaikan oleh para pemuka semua agama secara terus-menerus, sehingga menggugah kesadaran orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu, untuk tidak mengatasnamakan agama dalam menjalankan aksi-aksi teror. Intinya, kita semua harus bersatu melawan terorisme.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s